
Naina kecil diajak masuk orang tuanya ke sebuah rumah yang terlihat familiar dan disebuah ruangan, terdapat sebuah tulisan seperti lambang nama tergambar jelas pada sebuah lukisan berukuran sedang.
Perasaannya semakin terasa familiar begitu dia masuk ke ruang utamanya dan hal itu justru membuatnya gelisah dan sesak. Dokter kembali menyuruhnya agar santai dan tak terburu-buru.
“hai Alice, bagaimana kabarmu..?” ucap ibunya yang tengah menyalami seorang wanita dengan wajah seperti bule.
“baik. Kalau kau..?"Jawab wanita itu sembari menyalami ibunya.
"iya aku baik.” ucap ibunya.
“siapa itu..? tampan sekali. Apa dia anakmu..?” tanya ibunya sembari melihat ke seorang anak laki-laki yang duduk dikursi.
“iya dia anakku. Anakmu juga cantik. Mau kenalan dengan anakku..?” tanya wanita itu dengan sedikit melirik ke Naina kecil yang ketakutan.
“Naina, ayo kenalan dengan kakak. Ayo..” pinta ibunya.
Naina kecil hanya mengeleng-gelengkan kepalanya tanda ia tak mau. Naina kecil hanya malu dan bukannya takut. Ia tak begitu jelas melihat wajah anak laki-laki itu karena dia duduk membelakangi nya.
“berapa usianya..?” tanya ibunya.
“usianya 7 tahun.”
“oh, anakku baru saja berumur 5 tahun.” Jawab ibunya.
“wahh.. ulang tahun ya..? selamat ulang tahun ya..”
Tiba-tiba saja, pandangannya menjadi buram dan kacau tak karuan. Dia hanya melihat sekilas kalau wanita itu punya mata berwarna biru seperti wanita yang dia impikan kemarin.
Dan mendadak saja, dia dihadapkan pada sebuah aliran sungai. Dan Naina kecil tak sadar dia sudah tercebur kesungai dan lagi-lagi wanita bermata biru itu yang ada diingatanya muncul untuk menyelamatkannya. aliran sungai itu sangat kuat sampai membawa mereka ke hilir sungai yang jauh. Naina kecil ketakutan karena wanita itu tak juga tersadarkan.
“ukhh..” gumam Nain yang gelisah.
“apa kau yakin dia baik-baik saja..?” tanya paman Hans pada dokter itu.
Dokter itu kembali memberikan bisikan sugesti dan menyuruhnya untuk bernafas dengan teratur. Sementara itu, dia kembali ingat sewaktu Naina kecil sedang berada didalam sebuah gedung perkantoran bertuliskan BC group singkatan dari nama orang tuanya.
Dan diwaktu hujan, banyak orang-orang disana berkumpul dan berfoto. Termasuk ayah dan ibunya yang menjadi pemiik dari perusahaan itu. Dan diantara wajah-wajah itu, ada satu yang selalu terasa familiar.
“wajah itu…aku selalu melihat wajahnya dimana-mana..” Batin Naina yang terlihat gelisah.
“ibu, ayo kita makan es krim.” Ucap Naina kecil.
“sayang, diluarkan hujan. Nanti setelah ibu datang. Kita makan bersama. Ya..?”
“permisi nyonya. Ada yang ingin bertemu dengan anda di mobil.”
“ibu…! Hikks..hikss.. ibu..!”
Naina kecil tengah menangis dilorong rumah sakit ketika ayahnya sedang menemui seorang pria. Samar-samar dia masih mendengar percakapan itu sewaktu dia masih menangis.
“dengar Brian ! kau telah merenggut istriku, hartaku dan semua kebahagiaan dariku. Suatu saat nanti aku akan rebut semua yang seharusnya jadi milikku dan membalaskan dendamku berpuluh kali lipat !”ucap pria itu dan pergi berlalu.
Naina kecil masih sedih dengan apa yang ia lihat. meski ayahnya mencoba segala cara untuk menenangkannya. Dan setibanya dirumah, Naina kecil mengejutkan ayahnya dengan perkataannya.
“ayah. Paman itu jahat ! dia membunuh ibu. Dia jahat ayah !”
“Naina..nggak boleh bicara seperti itu ya..?”
“nggak ayah. Naina tahu…paman itu yang membunuh ibu. Kalau besar nanti Naina akan balas dendam seperti dia !”
Ucapan Naina kecil yang menghawatirkan itu, bagi ayahnya tak masalah. Tapi lama-kelamaan dia selalu berkata hal yang sama akan balas dendam akan kematian ibunya.
Dan membuatnya khawatir. Dan jalan satu-satunya yang dipilih ayahnya adalah membawanya ke ahli untuk menghilangkan semua ingatan dan trauma nya yang menyakitkan itu.
Nafasnya kembali seperti semula dan dokternya mengatakan untuk waktu nya sadar. Naina yang masih terduduk lemas di kursi terapi, tak puas dengan apa yang ia ingat. Tak semuanya bisa dia ketahui dengan jelas. Tetapi, ada beberapa hal yang bisa menjadi petunjuknya untuk mencari kebenaran dengan apa yang terjadi pada keluarganya.
“terima kasih dokter kami pergi dulu” ucap paman Hans sembari pergi.
Naina tak tahu harus bagaimana untuk membalas kebaikan pamannya itu. Naina hanya berharap, semoga pamannya bisa hidup tenang dan bahagia. Meski bibinya selalu membuat masalah untuknya.
“paman. Naina sangat berterima kasih hari ini. dan juga, Naina akan meminta kepolisian untuk membebaskan bibi. Agar paman tak kesepian lagi dirumah.
“nak Naina, kau tak usah melakukan semua itu. kau sudah ku anggap anak kandung sendiri.”
“Iya paman.”
Sore itu, Nain berpamitan pada paman Hans dan Naina memutuskan untuk mencari tempat tinggal lain yang lebih murah dikota. Sambil mengeret koper dan tasnya, ia mencari-cari disudut-sudut blok dikota apa masih ada tempat yang tersisa untuknya.
Namun, dari kejauhan ia mendengar suara klakson mobil yang sangat keras dibelakangnya. Dia tak mengubrisnya dan terus saja berjalan sampai orang yang didalam mobil itu keluar dan menghentikan langkah Naina.
“Danis..? apa yang…lepas !” ucap Naina sembari melepaskan gengaman tangan Danis.
“tidak. Kau harus ikut aku !” seru Danis sambil menarik tangannya dan mendrorngnya untuk masuk ke mobil.
“lagi-lagi aku tertangkap lagi olehnya ! kapan sih aku bisa terlepas dari sisinya..?” gumam Naina dengan muka cemberut karena perlakuan Danis.
Bersambung..