
“kau akan bertugas sebagai manajer proyek dan selama itu juga, kau akan ikut membangun relasi bersama perusahaan yang bekerjasama untuk proyek ini. jadi, kau harus bersikap profesional. Dan hari ini, kita akan mengecek tanah yang akan dibangun dan mempersiapkan segalanya. Apa kau paham..?”
“ehm, iya ! tentu.” Ujar Naina sambil membayangkan betapa beratnya pekerjaan ini.
Setelah dijelaskan, Naina pun pergi untuk mengecek tanah yang akan dibangun proyek tersebut.
Naina kaget saat Danis menyuruhnya naik mobil yang sama dengannya. Awalnya ia sempat menolak. Namun, Danis justru memaksanya dan menariknya masuk kedalam mobil.
“dasar ! ini dinamakan pemaksaan tau !” batin Naina yang sangat kesal.
“kenapa kau melihatku seperti itu..? apa kau ingin aku lebih lembut lagi..? hmm..?” tanya Danis sambil mendekatkan wajahnya pada Naina.
“ti..tidak. tidak kok.” Balas Naina.
“sopir, cepat jalan.” Perintah Danis.
Perjalanan mereka pun dimulai. didalam mobil, hawa dingin benar-benar mencekik Naina. bukan karena AC nya tapi melihat wajah Danis itu, orang lain mungkin mengira ia sangatlah kejam.
Naina tak berani mengeluarkan sepatah katapun. Bahkan ia berusaha duduk sejauh mungkin dari Danis dan lebih memilih melihat pemandangan diluar jendela dari pada melihat tatapan menyeramkan Danis.
Perjalanan menuju lokasi proyek itu, benar-benar jauh. Entah berapa lama mereka berada didalam mobil dan membuat Naina mengantuk.
Padahal dengan sekuat tenaga ia menjaga matanya agar tak tertutup. Namun, suasana hening didalam mobil membuatnya kalah denga rasa kantuknya dan akhirnya tak sadar tengah tertidur di pundak Danis.
“wanita, kau benar-benar tak ada sikap waspada ya..! apa kau tak takut kalau aku macam-macam terhadapmu..?” ujar Danis yang melihat Naina tertidur di pundaknya.
Setelah hampir 3 jam lamanya, akhirnya sampailah mereka ditempat tersebut. Naina yang merasakan mobil mereka berhenti, langsung bangun dan terkejut kalau ia telah tertidur di pundak Danis.
“hei..apa kau pikir kita sedang berkencan...?kelihatannya kau sangat menikmati perjalanan ini.” goda Danis yang melihat Naina terbangun dan terkejut.
“sudahlah. Ayo kita keluar. Dan jangan lupa tugasmu mencatat keadaan sekitar.” Seru Danis sambil membuka pintu mobil.
Naina pun dengan cekatan mengambil peralatannya dan berjalan keluar. Di hamparan tanah yang masih terdapat beberapa rerumputan itu, ia segera mengecek dan mewawancarai beberapa pekerja proyek disana.
Dan Danis berbicara pada mereka dan memerintahkan beberapa pekerja untuk mengambil cuti sementara setelah proyeknya telah mendapat persetujuan dari rekan perusahaan lain.
Ditengah suasana cuaca yang kelihatan mendung, Naina sedang asik mencatat dan benar-benar terlena akan suasana tenang disana. Dan dari kejauhan ia melihat sebuah pohon besar. ia pun tertarik dan langsung mendekati pohon itu. setelah berjalan agak jauh, untungnya dia sadar akan tebing yang curam didepannya.
“hufft..Naina, hampir saja !” ucapnya sambil menengok kebawah.
Tebing yang tak begitu tinggi namun, jika dilihat dari atas akan terlihat sangat curam. Gemuruh langit sepertinya merupakan pertanda akan turunnya hujan.
Dan dengan deras, hujan itu mengguyur seluruh area proyek dan Naina yang terlihat masih ingin mendatangi tempat itu. Danis yang melihat kebiasaan aneh Naina langsung mendekatinya ditengah guyuran hujan deras.
“hei Naina ! apa yang kaulakukan disitu..?”
**krakk ! krakkk!**
“ohh tidak, Danis, jangan mendekat !” teriak Naina ditengah suara guruhnya hujan.
“apa..?! apa yang..”
*akkhh….!!
Dan ketika sampai dasar jurang, Danis menggunakan tubuhnya sebagai alas untuk Naina terjatuh. Sebagai gantinya, sebagian tubuhnya terluka dan tanpa disadari ponsel Danis remuk ketika Naina menimpanya.
“ukhh.. Danis, apa kau tak apa-apa..? tanya Naina sembari bangkit dari tubuh Danis.
“iya tak apa. Cepat menyingkirlah !” ucap Danis sambil menahan rasa sakit.
“gawat ! apa orang-orang itu tahu kita terjatuh..? huh ! ini semua salahmu ! sudah kubilang jangan mendekat kau malah mendekat.” Ujar Naina dengan kesal.
“apa..? kau pikir ini salahku..? hei kau ini..”
“ahh ! sudahlah. Kita harus mencari bantuan dan segera berteduh. Hujannya deras sekali. Oh iya ponselku mungkin.” Ujar Naina yang tengah merogoh kantongnya.
“mana ponselmu..?” tanya Danis.
“ahh, sepertinya tertinggal di mobil. Kalau ponselmu..? jawab Naina sambil tersenyum nyengir.
“hufft…lihatlah perbuatanmu !” ucap Danis sembari menunjukkan ponselnya yang remuk dan tak bisa digunakan lagi.
“apa..?! se..sepertinya, kita harus cari pepohonan untuk berteduh dulu.” Ujar Naina yang ketakutan setelah melihat ponsel dan raut muka Danis yang kesal.
Mereka pun melihat sebuah pohon besar dan berteduh disana.
Setelah terjatuh tadi, Naina merasa tambah canggung dan tak tahu harus bagaimana menghadapi situasi ini. mereka saling duduk berjauh sembari menunggu pertolongan datang.
“ahh! Aduh ..” teriak Danis sembari meluruskan kakinya yang terluka karena menahan Naina terjatuh tadi.
Naina yang mendengar itu langsung tak enak hati. karena ia sendiri melihat bagaimana Danis berusaha melindungi dan menolongnya ketika terjatuh.
Naina pun memberanikan diri untuk mendekatinya dan mengobati lukanya. Ia membawa saputangan dikantongnya dan membalut luka Danis.
“bi..biarkan aku merawat lukamu.” Ujar Naina sambil gemetar menyentuh luka di kaki Danis.
“ahh!” teriak Danis.
Dengan sangat hati-hati dan perhatian, Naina merawat luka itu sampai membuat Danis dibuat terpana olehnya. Ia memerhatikan setiap langkah yang dilakukan Naina ketika mengobatinya.
“aku merasa sangat familiar dengan ini. apa benar dia Naina yang selama ini ku cari..?” batin Danis.
“sudah selesai. Kau jangan terlalu banyak bergerak.” Ucap Naina sembari membalut luka Danis.
Setelah itu, Naina duduk kembali seperti semula. Tapi, masih dengan jarak yang sangat dekat dengan Danis.
Ia tak tega melihat orang yang terluka itu dari jauh. Sembari menahan cuaca yang sangat dingin akibat hujan, tiba-tiba saja Danis mendekati nya dan memberikan jasnya untuk diselimutkan ke badan Naina yang kedinginan.
“huh ! tak kusangka akan ada takdir seperti ini” umpat Naina.
“hati-hati dengan katamu itu. suatu saat kau akan jadi milikku.” Ucap pria itu sembari menyelimuti dan mendekapnya dengan lembut wanita bermata coklat itu.
Ditengah udara yang semakin dingin, mata Danis terpejam dan kepalanya bersandar pada Naina benar-benar tak bisa berkutik lagi. Ia pun membiarkan hal tersebut sampai hujan akhirnya reda. Dan dari kejauhan, terdengar suara orang yang berteriak.
Bersambung..