
Setelah rapat selesai, Naina keluar dengan muka cemberut dan terburu-buru. Navya bisa merasakan kalau Naina marah dengannya dan mengejarnya keluar.
“Nai tunggu ! aku bisa jelasin.” seru Navya yang mencegah Naina dengan menarik tangannya.
“baiklah. Ayo jelaskan.” Ucap Naina yang kesal dan memalingkan wajahnya.
“aku bisa jelaskan.”
Tiba-tiba saja Rayn menyela pembicaraan dan mendatangi mereka yang tengah berbicara dikoridor.
Dengan menatap wajah Naina, Rayn berbicara padanya kalau dia sengaja menghubungi Navya yang pada saat itu karena membutuhkan pekerjaan. kemudian, menempatkannya pada proyek ini. secara tidak langsung Navya tak bersalah.
Namun, Navya salah karena tak memberitahu Naina terlebih dahulu padahal mereka berdua sudah berjanji.
“Nai..maafkan aku. Aku tahu aku tak menepati janji aku pantas untuk..”
“sudahlah. Aku tak menyalahkanmu. Tak apa jika kau memang sangat membutuhkan pekerjaan. Aku sudah memaafkanmu.” Ucap Naina sembari menepuk pundak Navya dan pergi begitu saja.
-------
Hari sudah semakin sore dan itulah waktu bagi Naina untuk membereskan barangnya dan pulang ke rumah. Namun, ketika dia akan melangkah keluar, Danis sudah berdiri didepan pintunya.
“makan malamlah denganku.” Ucap Danis.
Naina tak punya alasan lain untuk menolaknya dan mengiyakan ajakan Danis. Setelah masuk ke mobilnya, Naina hanya diam melihat ekspresi Danis yang begitu dingin bahkan sedari tadi dia memperhatikan kalau dia tak melihat Naina sekalipun.
Dan ternyata Danis merasakan kalau Naina terus memandangnya kemudian menghentikan mobilnya.
“Naina..kulihat kau dari tadi menatapku terus.
Apa aku sangat mempesona bagimu..? hmm..?” ujar Danis dengan mendekatkan wajahnya pada Naina dan menatapnya lekat-lekat.
“si..siapa yang begitu. Dasar narsis !” ucap Naina yang memalingkan wajahnya.
Danis hanya tersenyum kecil dan kembali memacu kendaraannya. Dan sampailah mereka ke sebuah restoran yang mewah dan sangat cantik dengan pernak-pernik cahaya dimalam hari. Benar-benar cocok untuk pasangan yang ingin menikmati waktu berdua.
Tapi, tidak bagi Naina. dia baru sadar kalau isi dari semua menu adalah untuk pasangan. Dan melihat semua ini, dia merasa Danis sengaja membawanya kemari.
“ap..apa maksutnya semua ini..? apa kau sengaja membawaku ke restoran semacam ini..?” tanya Naina dengan kesal.
“kenapa..? apa kau suka..?” ucap Danis sambil mencium tangan Naina.
“hihh!! Dasar kau !” gumam Naina yang menarik tangannya dari gengaman Danis.
Tak lama menu pesanan mereka datang. Benar-benar makanan yang mahal dan cantik. Bahkan bentuk dari makanan mereka didesain khusus untuk pasangan.
Naina tak memperdulikan semua itu. baginya makanan adalah makanan dan hanya untuk dimakan. Dengan lahap ia makan semua yang ada dan berharap untuk cepat pulang.
“aku sudah selesai !” ucap nya yang berdiri dari duduknya.
“tunggu ! aku punya kejutan untukmu. Bawa itu kemari !”
Para pelayan itu membawa sebuah kue yang besar disebuah tempat saji yang bisa didorong dengan lilin bertuliskan angka ‘24’ dan ditujukan untuk Naina. dia sangat terharu dengan kejutan yang diberikan Danis kepadanya.
Dia tak menyangka akan ada yang merayakan ulang tahunnya 3 jam lebih awal dari waktunya.
Dia pun memejamkan matanya seraya berdoa akan harapannya sebelum meniup lilin tersebut. Dalam hidupnya ia hanya merayakan ulang tahunnya sebelum ibunya meninggal.
Karena baginya, ulang tahun hanya akan mengingatkannya dengan pada dukanya sewaktu kecil. Ia selalu menolak jika ulang tahunnya dirayakan oleh siapapun termasuk Navya. Tetapi entah ada apa dengan dirinya kali ini, ia justru bahagia ketika ulang tahunnya dirayakan oleh Danis.
Seusai meniup lilinnya mereka melakukan acara potong kue dan memakannya bersama. Tapi Naina tak bisa berhenti dengan senyum kebahagiaan.
“Danis, terima kasih. Aku sangat senang malam ini.”ucap Naina sambil berseri-seri.
“aku masih ada satu hadiah untukmu.” Ucap Danis sembari tersenyum melihat raut wajah Naina.
“apa..?” tanyanya.
Kemudian, setelah menghabiskan beberapa suapan kue Danis mengajak Naina pergi kesuatu tempat dipinggir kota.
ditengah perjalanan tiba-tiba saja Danis mengikatkan sebuah kain di mata Naina sehingga ia tak bisa melihat apapun. beberapa saat kemudian, mobilnya terhenti disuatu tempat dan Danis menuntun tangab Naina untuk keluar dari mobilnya.
Naina merasakan udara dingin dimalam hari benar-benar menusuk kulitnya yang saat itu menggunakan blouse one-shoulder (atasan dengan satu bahu yang terbuka) berwarna mocca yang cocok dengan warna matanya.
Saat dirasa waktu sudah tepat, Danis membuka penutup dimata Naina. betapa takjubnya dia, melihat pemandangan kota dari dataran tinggi. Matanya benar-benar dimanjakan dengan pemandangan bintang dilangit cerah kotanya. Kejutan Danis tak berhenti disitu saja, ia masih menyembunyikan sebuah kotak kecil lagi di belakangnya dan meminta Naina untuk duduk sejenak diatas kap mobilnya.
“Danis…? Ap.. apa ini..?”
Naina dibuat terbata-bata dengan perkataannya karena Danis memberikan sebuah kalung berbentuk tetesan hujan yang terbuat dari kristal murni yang sangatlah mahal. Danis tersenyum manis melihat wajah Naina dan segera memakaikan kalung itu dileher Naina.
“katakan, apa kau suka..?”
“ak..aku…”
Naina terpaku karena terkejut dengan Danis yang menciumi lehernya. bahkan tak hanya sekali saja.
“Naina, kau sangat cantik malam ini. bahkan dengan kalung itu..” gumam Danis yang masih menciumi tekuk Naina yang terbuka karena model bajunya.
“Danis..aku..” ucap Naina yang mencoba menghentikan aksi Danis itu.
“Naina.. masih ada satu hadiah ulang tahun dariku.” bisik Danis ditelinga Naina yang telah dipeluknya dengan erat.
Naina masih menerka-nerka apalagi yang akan dia berikan. Ditengah hembusan angin malam, Danis dengan lembutnya memberikan ciuman manis dibibir Naina. ciuman yang tak pernah ia rasakan dari sosoknya yang kejam dan kasar.
Dia sepertinya hanyut dengan perlakuan Danis dan begitu menikmati ciuman itu sambil terpejam dan memeluk erat pundak Danis seakan tak ingin melepaskannya. Meski ia tak begitu hebat soal ciuman, tapi Danis sangat pandai dalam mengimbanginya dan sesekali memberi ruang agar kemampuan Naina bisa meningkat.
Dunia serasa milik mereka berdua pada malam itu. Naina sangat bahagia dengan kejutan ulang tahun dari Danis dan tak ingin malamnya berakhir.
Mata cantik itu masih terpejam dan bekas ciuman hangat itu masih terasa dibibirnya meski Danis menyudahinya.
“kenapa..? apa kau sudah jatuh cinta denganku..?” ucap Danis yang tengah menatap Naina.
“kau…tiba-tiba saja menciumku dan..dan aku..”
“bagaimana..? apa kau menikmatinya..? lain kali kemampuanmu harus meningkat dari ini.” ucap Danis sembari mengelap bibirnya dengan jarinya.
“hahh..naiklah aku antar kau pulang.” Ucap Danis yang menarik nafas panjang sambil berdiri disamping mobil.
Bersambung…