
Pagi hari menyambut dengan tetesan embun yang sejuk dijendela kamar Naina. semalam hujan turun dengan rintik-rintiknya.Tak begitu deras dan mungkin saja karena ini bukan musimnya.
Mata malas Naina masih enggan terbangun. Karena hari ini, adalah acara besar untuk perusahaan dan anehnya, di hari itu Danis memintanya untuk libur. Hal itu semakin membuatnya enggan beranjak dari kasurnya. Tetapi, ponselnya berdering dan yang menelponnya adalah Alisa.
Dengan nada malas seusai bangun tidur, ia menjawabnya.
“ehm..iya..ada apa kau menelponku..?” ucap Naina.
“haduh..apa-apaan kau ini..? kenapa kau terlihat santai dipagi ini..?
apa kau tak tau berita semalam..?” ucap Alisa.
“memangnya ada berita apa..?”
“pak direktur kita semalam, menemui keluarga calon tunangannya. Dan katanya, mereka akan bertunangan malam ini !” ucap Alisa.
“se..semalam..?” ucap Naina dengan kaget.
Naina tak menyangka kalau Danis akan membohonginya. Bahkan kenapa ia tak jujur saja padanya kalau ia akan bertunangan.
Naina berkali-kali mencoba menghubungi Danis tapi tetap saja tak bisa. Hatinya bercampur aduk dengan perasaan yang tak karuan juga.
Ada sesuatu yang coba ia raih tapi ia sendiri merasa kalau itu sudah terlambat. Ia menyalakan televisi di ruang tamunya dan mendapati hampir seluruh berita tentang pertunangan Ceo besar itu. mulutnya tak bisa berkata apapun bahkan mencoba membungkamnya sembari membiarkan air mata jatuh begitu saja dipipinya. Tiba-tiba saja, ada suara orang yang mengetuk pintunya.
“kak..kak Rayn..? bagaimana kau tahu kalau aku tinggal disini..?”
ucap Naina yang tengah membuka pintu dan kaget melihat Rayn sudah berdiri didepan pintunya.
“maaf Naina. apa aku boleh masuk..?” tanya Rayn.
Naina pun mempersilahkan Rayn masuk dan menyuguhinya minuman. Ia tak ingin Rayn tahu bagaimana keadaannya dan Naina sebisa mungkin berdandan agar nampak kalau semua baik-baik saja.
“jadi, ada apa kak Rayn kesini..? bagaimana kak Rayn bisa tahu kalau aku tinggal disini..?” tanya Naina.
Dengan gugup, Rayn menjelaskan maksud kedatanganya adalah karena ingin mengajak Naina ke tempat panti asuhan yang dulu sering mereka kunjungi. Dikarenakan tempat itu sedang butuh dana dan bantuan, ia pun mengajak Naina untuk pergi dengannya.
Dan mengenai rumahnya, yang tak lain adalah salah satu hasil rancangan Rayn yang telah dibeli oleh Danis sejak lama. Maka dari itulah, dia bisa tahu kalau Naina yang menempatinya disana.
“oh..jadi begitu ya..?” ucap Naina.
“bahkan aku sendiri tak tahu kalau ini adalah rancangan kak Rayn. Yang kutahu hanyalah, Danis memberikan ini padaku atas keinginannya sendiri..” gumam Naina.
“Nai…Naina..?”
“oh..ya..?! ada apa..?”
“kau melamun tadi.” Ujar Rayn dengan sedikit khawatir.
“apa.?! ti..tidak!! aku..”
“apa kau baik-baik saja ?” tanya Rayn sembari memegang pundak Naina.
“iya. Aku tak apa”
balas Naina sembari menyingkirkan tangan Rayn dari pundaknya.
“Naina…aku tahu kau mencoba menutupi semua dukamu. Dan maafkan aku, Aku juga berbohong mengenai semuanya. Sekarang aku benar-benar tak bisa berpaling darimu.” Gumam Rayn.
Kemudian, mereka berpergian menuju panti asuhan itu. sesampainya disana, mereka disambut dengan baik bahkan anak-anak disana sangat suka pada Naina.
Rayn cukup senang menghetahui Naina kembali tersenyum meski ia tahu itu takkan bertahan lama. Ia membiarkan Naina bermain bersama anak-anak itu sampai siang hari tiba.
“hufft..anak-anak itu. benar-benar tak bisa berhenti memintaku untuk bermain.” Ucap Nain sembari duduk.
“benarkah..? aku lihat, kau sangat menyukai anak-anak itu.” ucap Rayn sembari memberikan Naina minuman.
“iya tentu. Dan Danis juga suk…”
Naina tanpa sadar menyebut nama Danis didepan Rayn. Ucapan itu keluar begitu saja melalui mulutnya dan membuatnya tertunduk memalingkan wajahnya dari Rayn yang juga mendengar ucapannya.
“hahha..minuman ini enak sekali. Hahh…sangat segar..!”
ucap Naina yang tengah minum sembari mengalihkan kata-katanya tadi.
“Naina. apa kau menyukai Danis..? apa kau sudah jatuh cinta padanya..?” tanya Rayn sembari mengengam erat botol minumannya.
“ap..apa?!”
ucap Naina yang juga kegaet dengan perkataan Rayn dan langsung menoleh ke arahnya.
“Naina..jawab aku ! jawab aku dengan jujur !” ujar Rayn sembari memegangi kedua pundak Naina.
“tidak.. mana mungkin aku..”
“Naina, jawab aku dan tatap mataku ! kalau kau benar-benar mencintainya..tatap mataku dan katakan ! ayo katakan Naina..”
“iya ! iya kak Rayn. Aku..sudah jatuh cinta padanya.”
Seru Naina sembari melepaskan gengaman Rayn.
“tapi, aku..harus apa..? dia sudah bertunangan dengan wanita lain..”
Rayn yang melihat ekspresi Naina, menjadi sedih karena ia melihat sendiri tatapan Naina yang benar-benar jatuh cinta pada Danis. Ia pun menepuk pundak Naina dan memberinya sebuah ide untuk acara nanti malam.
“apa kau yakin..?”
“iya. Bagaimanapun juga..kau harus menyampaikan perasaanmu padanya nanti malam. Dan tenang saja.. semua urusan akan kutangani.” Ucap Rayn dengan tersenyum kecil.
“kak Rayn terima kasih. Kau memang teman yang terbaik !” ucap Naina sembari memeluk Rayn dengan spontan.
“teman ya..? huh ! seharusnya aku bisa sadar kalau kau menganggap ku teman. Tapi…hatiku ini selalu menolaknya Naina..”
batin Rayn sembari membalas pelukan itu.
Mereka pun pergi dari panti asuhan itu dan menyiapkan segalanya untuk pesta nanti malam.
Bersambung..