Story Under The Rain

Story Under The Rain
Sebuah kecelakaan



Pagi yang cerah untuk memulai suatu yang baru. Kicauan burung seolah menjadi penyemangat Naina, bahwa alam sedang berbahagia. Ia pun memutuskan untuk membawa peralatan melukisnya ke galeri kecil di tengah perkotaan. Hobinya itu seolah menjadi satu-satunya pekerjaan baginya. Sambil bersiap-siap, Navya datang menghampirinya.


“Naina, hari ini kita sarapan dikedai saja bagaimana ? karena aku lihat semalam, mood-mu tidak bagus. Jadi, kupikir kita harus membicarakannya. Maukan?” tanya Navya dengan lembut.


“oke. Tentu saja. Ayo kita berangkat” sahut Naina dengan senyuman.


Naina dan Navya berangkat menuju kedai yang jaraknya tak terlalu jauh dari galerinya. Dan disana juga tempat bekerjanya Navya. Akhirnya mereka pun duduk bersantai sambil menikmati secangkir teh.


“jadi, apa ada yang ingin kau ceritakan padaku?” tanya Navya.


Naina pun bingung tak tahu harus mulai dari mana. Ia juga tak ingin sahabatnya itu jadi khawatir akan masalah pribadinya ini. Setelah berdiam begitu lama, akhirnya ia memberanikan diri untuk berbicara.


“Nav, kemarin saat aku..”


Tiba-tiba saja suara sirine pemadam kebakaran terdengar. Melintas di depan mereka. Percakapan mereka pun terhenti mendengar begitu banyak orang yang berteriak kebakaran. Mata Naina pun tertuju pada sebuah gedung yang hangus dilalap api.


“hahhh..tidak ! tidak..! galeriku.. semua lukisanku !!” teriak Naina dengan sangat terkejut.


“Naina, jangan mendekat kesana. Berhenti Naina berbahaya !!”


Naina yang dihentikan langkahnya oleh temannya itu, hanya bisa menangis dan tak bisa berbuat apapun saat melihat tempat bekerjanya hancur menjadi abu.


Setelah 2 jam, api benar-benar bisa di padamkan. Naina kemudian pergi dan mencari-cari benda yang bisa diselamatkan. dan hanya satu kuas lukis saja yang tersisa. kuas itu memiliki kenangan yang panjang saat ia masih memutuskan hobi untuk melukis.


sekarang hanyalah sisa kenangan pahit yang ia rasakan.


Navya yang sedang mencari-cari Naina menyuruhnya agar istirahat dirumah. setidaknya agar ia bisa mengistirahatkan matanya yang sembab karena menangis.


-----------------------


Tak terasa mentari menampakkan cahaya senja nya. namun, sepertinya senja itu harus mengalah dengan tetesan air hujan. Naina yang tertidur sepanjang hari dan lelah setelah menangis tadi, akhirnya dia beranjak dari kamarnya menuju keluar rumah. Ia keluar untuk menikmati guyuran hujan yang seakan mengerti perasaan hatinya.


hujan, dulu aku sangat membencimu. tapi mengapa sekarang, aku selalu berharap akan kehadiranmu..?


Di tengah perjalanan menghibur dirinya, Naina yang hanya memakai kaos ungu dan rok mini, terkejut mendengar ada panggilan telepon dari bibinya.


Bibinya mengabarkan kalau ia sedang diculik. Meskipun mereka tak dekat, tetapi Naina akan merasa bersalah jika orang di sekitarnya meminta bantuannya, tapi ia menolaknya.


Ditengah guyuran hujan Naina berlari menuju tempat tersebut. Sesampainya ditempat itu, ternyata tak ada seorang pun. Dan ketika Naina membalikkan badan, semua terasa gelap..


-------


sementara itu, dikediaman paman Hans wanita itu begitu berhati-hati memasuki rumah. tanpa ada rasa takut sekalipun, bibi Susi istri dari paman hans. telah berbuat kesalahan.


*kringg...kringg...kringg*


"halo..? aku sudah mengirimkan seorang gadis kepadamu. aku harap kau membayar lebih untuk itu !"


"hehehe, tenang nyonya. kau pasti mendapatkannya. dan ku pastikan tak akan ada yang tahu mengenai perjanjian kita ini"


"baiklah. ku tutup telponnya." ucap wanita paruh baya itu.


ia bernafas lega setelah rencananya berhasil. dengan keegoisannya telah membuat keponakannya dalam bahaya. tetapi kejahatannya tak bertahan lama.


"aku tau apa yang kau lakukan !" teriak paman Hans yang sedari tadi mendengar percakapan istrinya di telepon.


" hans? kau bicara apa ? aku tak mengerti ?"


" ayo ikut denganku ! kau sudah keterlaluan." sentak paman Hans sambil menyeret tangan istrinya.


"apa? kemana kau akan membawaku? aku tak bersalah !


di kegelapan malam, paman mengendarai mobilnya dan membawa bibi Susi ke kantor polisi untuk mengakui perbuatannya.


" cepatlah katakan apa yang terjadi ! jika tidak, aku tak punya cara lain."


namun, tak semudah yang paman kira. wanita jahat itu tak mengaku atas apa yang ia perbuat. dan paman hans membuatnya menjadi tahanan sementara. sampai akhirnya ia mengakui apa yang telah ia perbuat.


Bersambung...