Story Under The Rain

Story Under The Rain
Kau milikku



Dirinya tanpa sadar berada jauh dari zona teduh dan mendekati guyuran hujan yang lebat.


Sembari melepaskan topinya, Naina merentangkan tangannya dan merasakan tetesan demi tetesan air hujan membasahi setiap kulit dan rambutnya.


Dunianya sedikit teralih dengan alunan musik dan hentakan air hujan, terus menari-nari ditelinganya. Kaki mungilnya tak berhenti untuk terus menyipratkan genangan air dan membuatnya basah akan hal itu.


akhirnya dengan bersusah payah, dia menyembuhkan beberapa luka akibat semua masalahnya.


Naina betul-betul terlena akan hujan di beda musim ini. sampai dia tak sadar, kalau sebuah payung putih telah membuyarkan aksinya.


“heii..! siapa yang berani menghalangi air hujanku..!!” ucap Naina dengan nada marah dengan semburat muka yang memerah.


“huh..? kau lebih suka hujan daripada penyelamat jiwamu..? sejak kapan kau begitu angkuh..?”


Tiba-tiba rangkulan hangat dan bahu yang luas, membuatnya lupa akan rumitnya kehidupan. Naina begitu menurut saat Danis membawanya pergi dengan mobilnya, meski dia sedang basah kuyup.


Naina masih ingat jelas bagaimana ayahnya memperlakukannya ketika tahu Danis berada disisinya. Entah karena apa, dia seperti tak ada keberanian untuk bertanya dan mengucapkan bagaimana keadaannya.


Laju mobilnya berhenti begitu saja ketika mereka berdua telah sampai dimansion Danis. Lagi-lagi, Danis tak mengeluarkan sepatah katapun dan hanya terdiam sembari terus memegang setir mobilnya. Dan membuat Naina pusing dibuatnya.


“Danis..? bisakah aku keluar..? kenapa kau membawaku kemari..?”


Danis tak berkata apapun dan malah membalas pertanyaan Naina dengan senyuman kecil diujung wajahnya. Segera dia turun dari mobil Danis dan para pelayan disana, mengarahkannya menuju ruangan lain dan menganti pakaiannya yang sudah basah itu.


Seusai berganti pakaian, Naina keluar dari kamar mandi tersebut dan menjumpai Danis telah menunggunya sembari duduk dikamar itu.


Naina bersiap untuk apapun kemungkinan yang akan terjadi. Dan apapun yang akan mereka bicarakan.


“Naina. mengingat kejadian yang kemarin, membuatku berfikir. Kalau kau tak seharusnya berkata seperti itukan..?


aku tahu kau lakukan itu hanya demi temanmu dan menjauhi ancaman ayahku saja…?”


Naina masih saja tertegun dan terdiam mendengar ungkapan Danis. Dia merasa, kalau sudah saatnya dia mengakui kalau semua yang dia lakukan hanyalah untuk membalasakan dendamnya.


“Danis. Itu semua aku lakukan sebab..”


“sebab kau ingin membalaskan semua perbuatan dan kejahatan ayahku bukan..?”


Gengaman kedua tangan yang berada didadanya, semakin kuat dan tak percaya kalau Danis sudah tahu semuanya.


Lalu, mengapa dia masih saja mempertahankan Naina untuk mencelakai ayahnya..? pertanyaan itu, membuatnya hatinya semakin lemah dan wajahnya berpaling dari arah Danis.


“Naina..aku tahu semua maksutmu ! aku sudah tahu kalau kau akan merencanakan untuk balas dendam.


Bahkan sebelum itu, ayahku sudah memberitahuku agar kau, tetap berada dijangkauanku…” ucap Danis sembari mencoba mengengam tangan Naina. tetapi, Naina menampiknya dengan cepat dan berbalik seraya menangis.


“jadi, kalian berdua telah merencanakan untuk menyerangku juga..?


untuk membuatku menderita..? apa kau juga tahu kalau orang tuaku telah dibunuh oleh ayahmu..?”


Naina mengatakannnya dengan hati yang terluka seusai mendengar pernyataan Danis.


“tidak, bukan begitu…aku memang sudah tahu kalau kau adalah orang yang selama ini jadi incaran ayaku.


Tetapi, aku sama sekali tak ada niat untuk membuatmu menderita Nai..! Nai, percayalah padaku. Aku tak bisa sama sekali untuk menyakitimu bahkan mencelakaimu.


Dan ayahku-lah yang selama ini membuatmu menderita..”ucap Danis sembari memeluknya dan memejamkan matanya.


“aku, pada awalnya tak tertarik sama sekali dengan rencana ayahku. Tetapi.. aku menjadi begitu peduli padamu saat tahu, ayahku telah melewati batasnya..”


Air matanya sama sekali tak bisa dia hentikan. Tangisannya semakin keras dengan suara sesengukan. Danis segera memeluknya dari belakang dan menenangkannya.


Tetapi justru hal itu membuat Naina tak berhenti dan berbalik arah untuk melontarkan perkataannya.


“Danis.! Ini, adalah cincin dari ibumu yang kudapatkan sewaktu aku terselamatkan dari sungai.


Lalu, apa kau tak marah jika memang benar aku telah membunuh ibumu..?” ucap Naina sembari mengeluarkan cincin yang ada dikantongnya.


“Naina, aku tak peduli. Aku sudah tak peduli lagi mengenai kematian ibuku ! aku, sudah melupakan dan mengikhlaskan semuanya.


Dan aku tahu, kalau kau tak bersalah atas semua itu..” sahut Danis sembari memegangi rahang wajah yang penuh kesedihan itu.


Tangannya mengengam erat cincin itu. sembari terus saja menangis, Naina mengelapnya dan kembali bertanya pada pria yang ada didepannya ini.


“Danis, apa benar kau mencintaku..?


apa benar dihatimu hanya ada aku seorang..?


lalu, bisakah aku memberikan hatiku untuk kau jaga..? Danis..?”


Danis tertegun dengan apa yang ditanyakan Naina. melihat wajah penuh kesedihan itu, mengatakan semuanya dengan tulus.


Danis semakin tak punya daya apapun dan langsung memeluknya lagi. Memberikan kehangatan tubuhnya untuk menghentikan tangisan wanita yang ada dipelukannya dan membuatnya terlelap di lengannya.


“Naina, selamanya kau adalah milikku. Aku, takkan biarkan siapapun bisa mencelakaimu bahkan ayahku sendiri. inilah janjiku padamu..” ucapnya sembari mengecup lembut kening wanitanya yang telah tertidur.


--------------


Mata biru Danis, semakin bersinar sewaktu memandangi wanita yang telah berada dipelukannya. Dia sangat bahagia mendengar Naina juga membalas rasa cintanya juga. Senyuman itu, terus saja mengembang begitu melihat Naina yang memindahkan posisinya tidur. Gadis itu, nampak sangat cantik meski tidurnya sangat berantakan.


“cantik..kau sangat nyaman ya, Tidur dipelukanku..?”


Mata Naina perlahan terbuka dan sadar kalau dia tengah berada dipelukan Danis.


Dia tak mengindahkan perkataan Danis. Dan terus saja terpikirkan akan permasalahan semalam.


Dia berfikir, jika keduanya sudah ada rasa..mengapa tak membawanya pada ikatan yang lebih jelas lagi.


Naina berfikir demikian tanpa memperdulikan urusan balas dendamnya dan ayah Danis lagi.


bersambung...