Story Under The Rain

Story Under The Rain
Mulai peduli



Semalaman Naina tak bisa tidur dengan nyenyak dan masih teringat jelas kejadian semalam.


Setiap kali ia melihat kalung itu, dia tersenyum-senyum sendiri.


saat keluar dari kamarnya, Navya memberikannya kejutan sebuah kado dengan ucapan ulang tahun.


“selamat ulang tahun ya..!


heheh.. maaf hanya ini yang bisa aku berikan padamu. Semoga kau selalu bahagia sobatku !”


Mereka berdua saling berpelukan dan Navya menyuruh Naina untuk membuka kado darinya. Sebuah case ponsel dengan desain yang lucu berwarna pink pastel. Dan kebetulan ponselnya yang baru belum sempat ia beri casenya. Setelah itu, mereka berangkat kerja bersama.


Hari-hari sibuk Naina pun dimulai. Ia berdandan dengan pakaian casual berwarna merah hitam biasa, dipadukan dengan riasan yang tipis dan mengikat rambutnya dengan rapi.


Kini saatnya hari untuk memantau proses pengerjaan proyek di lokasi setelah rapat pendanaan kemarin.


Begitu sampai dikantornya, Dia bersama tim dari skyart langsung menuju area proyek. Diparkiran mobil, sudah ada Rayn yang tengah menunggu rekan-rekannya dan bersiap untuk berangkat. Tetapi begitu melihat Naina, dia langsung mendekatinya.


“Nai, kau berangkat denganku ya..?” tanya Rayn sambil mengandeng tangan Naina.


“kak Rayn aku..”


“aku rasa karyawan kami harus berangkat dengan rombongannya sendiri, tuan Alfaresta.” Sahut Danis yang melihat mereka berdua dan langsung menepis tangan Rayn.


Naina ingin berkata maaf pada Rayn sebelum akhirnya dia ditarik oleh Danis untuk masuk ke mobilnya. Naina masih saja canggung setelah apa yang terjadi diantara mereka semalam. Saat mobilnya berjalan, Naina hanya memandangi pemandangan lewat kaca mobil.


“sepertinya akan masuk musim panas ya..? hahaha..” ucap Naina sembari tertawa palsu untuk memecah keheningan diantara mereka.


Danis hanya diam mendengarkan perkataan Naina dan sepertinya ia salah mengartikan perkataan itu. dia justru menyalakan AC dan tetap fokus pada jalanan.


“ada apa dengannya..? kenapa sikapnya bisa biasa saja setelah apa yang terjadi semalam..? apa dia selalu bertingkah seperti ini seusai mencium para wanita..?” batin Naina setelah melihat ekspresi dari wajah Danis.


Setelah perjalanan 3 jam, sampailah mereka di lokasi proyek. Dan Naina yang tak tertidur semalaman, akhirnya tertidur didalam mobil. Dia tak tahu kalau mobilnya sudah berhenti ditempat tujuan. Danis tak membangunkannya dan hanya memandangi wajah Naina.


“Astaga ! kenapa dia sangat cantik hari ini..?” gumam Danis sambil menutupi wajahnya yang memerah ketika melihat Naina.


Danis sangat terpesona dengan wajah cantiknya ketika tertidur. Dia mendekatkan wajahnya ke Naina dan berusaha menciumnya.


Tetapi, ada salah seorang karyawan yang entah itu sengaja atau bukan mengetuk kaca mobil Danis sehingga Naina terbangun dan tak jadi menciumnya.


“ukkh ! sial !” gumamnya sembari memegangi kepalanya.


“maaf tuan ! ada beberapa masalah yang anda sendiri harus memeriksanya.” Ucap karyawan itu.


Naina tak tahu kalau Danis ingin menciumnya karena saat dia terbangun, Dia hanya melihat wajah kesal Danis. Setelah itu dia turun dari mobil sembari meregangkan badannya yang kaku setelah tidur.


“Nai, akhirnya kita bisa terus bersama.” Ucap Navya yang menyapanya seusai turun dari mobil.


Naina membalasnya dengan senyuman dan melirik ke arah Rayn yang sedari tadi melihatnya.entah kenapa, Ia jadi tak enak hati kepadanya setelah kejadian tadi.


Selama bekerja Naina terus fokus pada tugasnya dan Navya yang terlihat kompeten dalam memecahkan masalah saat bekerja. Mereka semua fokus pada tugas mereka masing-masing.


Namun, tidak dengan Danis yang nampak gelisah sedari tadi dan hampir saja kehilangan konsentrasinya.


“tuan, dia sudah tiba dikota ini. besok akan menemui tuan dikantor.” Ucap Henry.


Danis langsung menutup telponnya begitu mendengar kata-kata itu. dan raut wajahnya seketika berubah menjadi marah. dia tahu siapa yang akan menemuinya. tetapi, orang itulah yang paling tak ingin dia temui.


Sementara itu, para karyawan sedang beristirahat di tempat yang telah disediakan untuk sekedar makan atau pun mengobrol.


Naina yang tak tertarik dengan perbincangan para pekerja kantoran, menghindar dan memilih untuk menghirup udara segar diluar. Dibawah pohon, ia bersandar sambil memainkan ponselnya.


“hai nai !” sapa Rayn.


Rayn berjalan mendekatinya yang sedang duduk dibawah pohon. Sambil membawa segelas minuman, ia mencoba tuk mengobrol dengan Naina.


“hai kak.” balas Naina sambil menarik rambutnya ke belakang telinganya.


“apa ponselmu baru..?” tanya Rayn sembari duduk disampingnya.


“iya. Yang kemarin rusak. Jadi, aku membeli yang baru.” Ucap Naina dengan memegang ponselnya.


“oh..pantas semalam aku menghubungimu tapi tak ada jawaban.” Ucap Rayn dengan tersenyum.


“kenapa Kak Rayn menghubungiku..?” tanya Naina dengan menoleh ke arah Rayn.


Rayn hanya diam sembari melihat Naina dengan tersenyum. Kemudian, tangannya mencari sesuatu dikantongnya dan memberikannya pada Naina sambil mengucapkan ucapan selamat.


“Naina, selamat ulang tahun !”


Sebuah Anting permata berwarna biru sapphire yang sangat cantik dengan desain pengait yang unik. Naina tak bisa berkata apapun dan hanya melongo ketika Rayn bilang ini adalah desain buatannya sendiri. ia membukakan kadonya dan memakaikannya pada Naina.


“biar kupakaikan untukmu” ucap Rayn sembari mendekat.


sebenarnya dipikirannya ia menolak akan hadiah itu. meningat sudah lama hubungan mereka putus dan Rayn tak pernah sekalipun berkomunikasi lagi dengannya.


Tapi saat Naina memandang wajah Rayn yang lembut diterpa angin sore itu, dia melihat ada ketulusan di matanya. Dan perasaannnya saat ini seakan kembali seperti dulu lagi diwaktu pertama kali mereka bertemu.


Rayn sangat dekat saat memakaikan anting tersebut. Dan dari Kejauhan, Danis melihatnya dengan tatapan tajam sambil mengepalkan tangannya dan gigi yang mengertak.


“Nai, apa kau ingat hadiah yang selalu ku berikan padamu..?” tanya Rayn dengan tatapan mata yang lembut.


“hah..?! hadiah yang selalu…”


Naina terdiam dikata-katanya yang belum selesai itu karena Rayn langsung mendaratkan bibirnya ke Naina. Rayn menciumnya dengan lembut di bibirnya sambil memegangi kepala Naina untuk mendekatkan Naina kepadannya.


Naina masih belum percaya kalau Rayn akan bersikap seperti ini padanya dengan tiba-tiba. Matanya masih terbuka dan masih sadar. Segera ia mendorong tubuh Rayn dan langsung berdiri.


“kak Rayn. Maaf. Aku tak bisa menerima hadiahmu yang ini. aku..akan mengembalikanya besok.” Ucap Naina sembari menahan air matanya.


Rayn hanya melihat ke arah Naina dengan wajah yang sedih. Dan saat Naina beranjak meninggalkannya sendiri disana, dadanya terasa sakit. Dan sepertinya ia mulai sadar dengan dirinya.


“Naina, sepertinya aku jatuh cinta lagi padamu.” Gumam Rayn sembari masih memegang kotak hadiah itu.


Bersambung….