
“ukkhh..dimana aku..?
ehh..?! apa aku dirumah sakit..?”
pikir Naina sembari berusaha memegang kepalanya yang masih terasa pusing.
Ketika pintu ruangannya dibuka, seorang dokter masuk untuk memeriksanya dan memberikan suntikan di cairan infusnya.
Setelah dokter itu keluar, masuklah Danis yang telah membawa nampan berisi makanan.
“aku..kenapa bisa ada disini..?” tanya Naina.
“kau kelelahan dan tekanan darahmu rendah.
Ini, buka mulutmu.” Pinta Danis yang menyodorkan sendok penuh makanan ke mulut Naina.
Naina dengan patuhnya membuka mulutnya kemudian makanan itu pun masuk kemulutnya. Naina tak menyangka Danis akan bertingkah lembut seperti ini.
sebelumnya dia sangat kasar padanya. Tapi saat tahu Naina sakit, dengan tangan yang lembut dia menyuapi Naina sedikit demi sedikit sampai makanannya benar-benar habis.
“aku memberimu waktu untuk istirahat. Jadi kau tak usah bekerja dulu.” Ucap Danis yang melangkah pergi keluar.
“Danis, untuk apa kau berbuat seperti ini..?” tanya Naina.
“kau istirahat saja. Jangan berfikir yang lain lagi.” Jelasnya sembari pergi dan menutup pintu ruangan Naina.
Naina pun hanya menikmati waktunya dirumah sakit itu. dan obat yang disuntikkan dokter saat itu, membuatnya sangat mengantuk dan akhirnya tertidur pulas diranjangnya. dia terbangun begitu seseorang menggerak-gerakkan badannya. dan tanpa tahu kalau dia tertidur sangat lama.
“Naina..? apa kau tak apa-apa..?” tanya Navya.
Naina masih belum sadar sembari mengucek matanya yang lelah tertidur.
“aku barusan mendengar kabar kalau kau sakit..” ucap Navya dengan mata yang berkaca-kaca.
“tidak..! aku baik-baik saja. Aku hanya kelelahan. Sudahlah jangan menangis.”
Ujar Naina dengan menenangkan Navya yang tak henti-hentinya menangis.
Setelah beberapa menit, keluarlah suara tawa dari ruangan tersebut.
Rupanya mereka berdua sedang bersenda gurau dan Navya tengah mengupas buah untuk Naina itu, mencoba menghibur sahabatnya itu.
“hahaha..mereka sangat bodoh ya..!” ujar Navya yang tengah menceritakan lelucon untuk Naina.
“Nav, pulanglah. Hari sudah malam. Nanti siapa yang akan mengurus rumah..?” ujar Naina dengan tersenyum.
“hei.. dasar kau ! biarkan saja rumah itu tak terawat. Aku ingin merawat dan menemanimu disini.” Seru Navya.
“tidak, Navya… Kau tak perlu lakukan itu. aku bisa sendiri. dan besok kau harus bekerja.
“hufft..baiklah. yakin kau tak apa-apa..?” tanya Navya.
“iya.. tak apa.” balas Naina
“baiklah. Kalau begitu cepatlah sembuh. Aku sendirian dirumah.”
“iya, sampai jumpa.” Ucap Naina dengan melambaikan tangannya.
Setelah Navya pergi, keadaan pun menjadi sangat sepi. Naina berharap ia cepat keluar dari rumah sakit ini.
tapi, dia berfikir tak biasanya dia sakit seperti ini. dan sakit kepala yang ia rasakan saat itu, beda dari yang biasanya. Naina yang terbaring di kasur seharian sambil memainkan ponselnya tiba-tiba saja ingin ke kamar mandi.
“ukkh.. aku tak tahan lagi !” ungkapnya sembar membawa infusnya masuk ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Naina keluar dari kamar mandi dan dia sangat terkejut ketika melihat Danis sudah ada didalam ruangannya.
“Danis..? ke..kenapa kau kesini malam-malam..?” tanya Naina dengan gugup dan masih terkejut.
“kenapa..? apa pemilik rumah sakit sendiri tak boleh kesini..?” ujar Danis dengan angkuh.
“eh..?! ini rumah sakit miliknya..?” pikir Naina.
Blue Enterprises tak hanya perusahaan yang bergerak dibidang teknologi saja. Tetapi, mereka juga mendukung dalam bidang medis.
Tak ayal jika saham mereka bisa berada di puncak pasar ekonomi tertinggi. Naina dengan gugup kembali duduk di ranjangnya lagi Dengan Danis yang berada di sofa ruangan Vip itu.
“Danis. Aku..sangat berterima kasih lagi padamu. Kau.. sudah menolongku berulang kali.” Ujar Naina yang menundukkan kepalanya.
“apa hanya kata terima kasih saja untukku..?” ucapnya sembari menatap dingin wajah Naina.
“hufft…lagi-lagi alasan yang bagus untuk mencari kesempatan membalas.
Dasar psikopat ! membuatku kesal saja! Aku kira dia tulus.” Batin Naina.
“apa kau memikirkan sesuatu tentangku..? hmm..?” tanya Danis yang mendekati Naina.
“ti..tidak aku..”
Naina dibuat tak bisa berkata lagi dengan kecupan lembut di dahinya. Sangat lembut bahkan Danis sembari mengelus-elus rambutnya. Mereka berdua pun Saling menatap Dan Danis berkata padanya.
“kau bisa membalasku. kalau kau sudah sembuh. Sekarang tidurlah.”
Danis dengan sangat hati-hati menyelimuti tubuh Naina dengan selimut tebal. Hatinya berubah sangat hangat pada malam itu. dan Danis menemaninya semalam dirumah sakit sembari berbaring di sofa ruangan Vip tersebut.
Bersambung…