Story Under The Rain

Story Under The Rain
Pilihan



Sembari menenagkan hatinya ditaman, Naina terua termenung disana sembari menungu matahari pagi. Tetapi, dia malah tertidur disana.


Aneh rasanya. jika pagi tadi, suhunya sangat dingin sampai dia harus mengelus kedua pundaknya beberapa kali. Tetapi kini, di merasa sangat hangat. Dan kepalanya seperti bersandar disesuatu yang agak keras. Naina mulai membuka matanya dan terkejut saat dia tertidur dibahu Danis dengan tubuh yang tengah diselimuti oleh jasnya.


“Danis..? untuk, untuk apa kau kemari..?!” tanya Naina yang bangkit dari bahu Danis.


“apa dugaanku benar kalau ini adalah rencana Danis..?” batin Naina dengan melirik ke bawah dan berfikir.


Danis menoleh wanita yang tengah berada dipelukannya itu dan memegangi dagu kecilnya sembari mengecup bibirnya dengan lembut.


Naina bisa merasakan kelembutan dan kehangatan disekujur tubuhnya bahkan bibirnya. Naina masih menutup matanya, Meski Danis menyudahi ciumannya.


“aku disini, karena kudengar kau juga berlibur disini. Jadi, aku akan berlibur disini juga bersamamu.” Ucap Danis sembari memeluk kembali Naina dan tersenyum kecil.


Pelukan Danis benar-benar erat. Jantung Naina kembali dibuat berdebar olehnya. Naina kembali merasakan suasana nyaman didalam pelukan Danis.


Ia merasa takkan ada yang mampu membandingi apapun dengan pelukan Danis untuk membuatnya nyaman. Disaat itu juga, Danis membicarakan hal kemarin tentangnya.


“Naina. soal kemarin, aku sengaja tak menemuimu agar kau bisa menenangkan dirimu dulu. Dan aku, telah menangani semua masalah yang ada dikota akibat berita itu.


juga tentang Selena. Aku menyuruhnya kembali ke rumahnya diluar negeri.


Jadi, kau tak usah khawatir lagi akan terusik dengan masalah apapun.” Ucap Danis yang masih memeluk Naina dengan eratnya.


Naina sama sekali tak mengerti, apa yang menyebabkan Danis masih saja bersikap seperti ini kepadanya. Padahal selama ini, dia melawan kata hatinya dan berkata kalau ini hanyalah sandiwara.


Dia sama sekali tak berfikir kalau Danis telah mengorbankan begitu banyak hal untuknya. Dan inilah yang membuat Naina sulit untuk memutuskan. Bagaimana langkah balas dendam yang selanjutnya.


Kata-kata Danis, membuatnya tersentuh dan berkaca-kaca. Tanpa sadar, Naina malah memeluknya semakin erat lagi. Pagi hari yang romantis itu, segera buyar dengan teriakan Navya yang mengkagetkan mereka berdua.


“hayo ! kalian, romeo and juliet ! hentikan adegan ini sekarang juga.”


“Nav..Navya kau mengkagetkanku saja !” ucap Naina yang nampak panik dan langsung melepas pelukan Danis.


Danis langsung menatap tajam ke arah Navya yang telah merisak momen indahnya dengan Naina. tatapan elang yang dingin itu, membuat Navya kikuk dan gugup.


Dengan segera dia melakukan pengalihan dan mengajak Naina masuk ke dalam untuk bersiap pergi ke tempat wisata sebagai alasannya.


“hufft..dasar pria aneh ! hanya dengan Naina saja dia menatap dengan penuh cinta dan kelembutan ! sedangkan wanita lain, dia seperti singa yang telah memantau mangsanya dan siap untuk membunuh !” gumam Navya.


“apa..? Navya apa kau mengatakan sesuatu..?”


“ahh ! tidak kok. Bukan apa-apa ! sekarang, cepatlah bersiap !” ujar Navya sembari mendorongnya masuk ke kamar vilanya.


Beberapa saat kemudian, Naina telah siap dengan pakaiannya yang nampak manis dengan gaun berwarna peach dan rambut hitamnya yang terurai.


Dia berjalan keluar menu restoran diseberang vilanya dan sarapan disana. Tetapi, ada yang aneh saat itu.


dia sama sekali tak melihat Navya tetapi, yang ada adalah Danis yang duduk di seberang mejanya dengan kemeja kuning cerah ditambah sweater rompi yang membuatnya bertambah keren.


“ehm..dimana Navya..? apa dia..”


“dia sudah makan tadi.” Sahut Danis.


“aku yang menyuruhnya untuk itu. dan kau, harus makan ini semua denganku !” tegas Danis.


Naina sudah menduga kalau Navya, hanya akan dimanfaatkan Danis agar dia bisa selalu berada disampingnya. Tanpa mengatakan sepatah katapun, Naina memakan semua yang ada dimeja itu dengan cepat.


Bagi Danis, Naina tampak murung dan tak sabar ingin segera menghindar darinya.


“haruskah secepat itu kau mengabiskannya..?”


“apa..?”


“buka mulutmu !”


“astaga ! kenapa pria ini tak menyerah ?!” batinnya.


Naina menurut dan memakan apa yang disuapi oleh Danis. Setelah usai makan, mereka berdua beranjak pergi menuju ke suatu taman yang terkenal dikota itu.


.


.


tempat yang lebih luas dan sedikit ke arah puncak. Disana banyak sekali tanaman bunga yang berwarna-warni dan juga tempat foto yang keren. Danis mengandenga Naina dengan penuh perhatian. Mengajaknya kesana kemari dan berusaha menunjukkan kalau dia, juga bisa membuat Naina senang. Senyuman itu, secara alami kembali ke wajah Naina yang tengah diliputi rasa bahagia.


Kedua kalinya kini, mereka menikmati waktu bersama lagi. Sorotan mata Naina, terarah pada salah satu boothphoto yang mirip seperti altar pernikahan. Disana dia menyeret Danis agar mau berpose bersamanya disana.


“kemari ! berposelah yang bagus. Disini sangat keren !” ucap Naina sembari tersenyum pada Danis.


Kameramen mengarahkannya untuk lebih mendekat dan memandangi satu sama lain seperti foto prewed. Naina tak sadar jika hal ini memantik perhatian Danis yang berfikir, kalau Naina ingin pernikahan yang sebenarnya.


Usai berfoto, mereka memutuskan untuk berjalan-jalan menikmati udara pagi yang sejuk.


**Kriing ! Kringg !**


Ponsel Danis tiba-tiba saja berbunyi. Staff dari proyek itu, sepertinya sedang dalam masalah dan Danis harus menjawab telponnya. dia meninggalkan Naina yang masih berdiri disana sendirian.


Naina tanpa sadar, berjalan agak jauhan dari Danis. Dia terus berjalan ke atas tanpa tahu, kalau ada jurang yang indah namun, sangatlah curam.


Melihat jurang itu, tiba-tiba saja dia teringat akan mimpinya mengenai pembunuhan disuatu malam itu. pikirannya menuju ke arah ayahnya saat meninggal ditikam oleh penjahat disana. Dan disitulah, ia menjadi terpikirkan oleh tujuannya.


“Naina, kenapa kau berjalan sangat jauh sekali..? tadi para staff menelponku karena..”


“Danis. Kenapa harus aku yang kau pilih..?”


“apa..?!”


Kata pertanyaan itu, keluar begitu saja dari mulutnya Naina yang tampak sedikit termenung sembari memandang ke arah jurang itu.


Danis masih merilekskan dan mengatur nafasnya kembali usai tahu Naina tak ada disampingnya dia berlari dengan kencang.


Dan sampai disana dengan kaget oleh pertanyaan Naina.


“Naina..apa yang..”


Naina menarik tangannya ketika Danis akan mengengamnya. Sorot mata Naina nampak serius akan hal ini. dia kemudian berpaling dan kembali berbicara pada Danis.


“kau lihat itu..?” ucap Naina sembari menunjuk ke arah jurang dan Danis memandangnya.


“itu, adalah jurang kematian. Dimana orang yang jatuh kesana, akan mati dan sulit ditemukan.”


“Naina, kau..”


“dan ayahku..juga mati dan dibuang ke dasar jurang itu.” sahut Naina.


“Naina sebaiknya kita kembali ke..”


“Danis. Kau telah menceritakan kronologi kematian ibumu.


Dan aku juga menceritakan tentang kematian ayahku. Jadi, bagaimana jika seandainya aku mengakui, kalau aku yang membunuh ibumu… apakah kau akan bercerita dan mengakui, siapa yang telah membunuh ayahku..?”


tanya Naina dengan mata yang berkaca-kaca.


Bersambung..