Story Under The Rain

Story Under The Rain
Trauma



Naina yang berjalan sendirian tak sadar dari belakang ada sebuah kecelakaan yang mematikan antara mobil dan truk pengangkut bahan bakar. Truk itu terguling dan terseret sejauh 20 meter darinya dan mengenai beberapa mobil didepan. Nasibnya Naina yang beruntung, ia sedikit menjauh dari tempat kejadian. Tetapi, kecelakaan itu membuat ledakan yang sangat dahsyat.


“Naina.. awas !” teriak seseorang yang menyelamatkan Naina dengan memeluknya.


**Duarr!! **


Ledakan hebat itu membuat kebakaran yang sangat hebat. Dan beruntungnya, ada orang yang menyelamatkannya.


“Naina ! Naina ! Naina sadarlah ini aku Danis !.” teriak Danis yang tengah menyadarkan Naina yang sedang syok melihat kecelakaan itu.


Ia benar-benar syok saat melihat besarnya api yang melahap kendaraan itu sampai-sampai Danis melihat tangan Naina yang gemetar dan wajah yang bercucuran keringat. Ia langung pergi membawa Naina ke tempat yang aman dan memeluknya.


“Naina, tenanglah..kau sudah aman.” Ucap Danis dengan lembut sambil memeluk Naina yang matanya berkaca-kaca.


Danis segera menelpon sopirnya dan membawa Naina kerumahnya karena merasa itu adalah cara yang paling aman. Sambil mengendongnya masuk ke mobil, ia masih menenangkan Naina yang terus saja memejamkan matanya dan nafas yang tersengal-sengal karena syok saat itu.


Danis lebih memilih membawa Naina ke mansion pribadinya yang punya fasilitas lengkap disana. Mansion yang mewah dan besar yang pastinya seharga ratusan juta dolar. Dengan cepat ia membaringkan Naina dikasurnya dan segera memanggil dokter pribadinya.


“cepat ! periksa dia ! “perintah Danis begitu dokter itu datang.


Dokter itu menyuntikkan obat penenang ke Naina agar ia bisa rileks dan tertidur. Naina benar-benar tertidur karena efek obat itu dan sampai malam hari, Danis masih setia menunggunya disamping kasurnya.


“uggh..” ucap Naina.


“apa dia bermimpi buruk..?” gumam Danis yang melihat Naina gelisah.


------------


** ”Aku..dimana..? apa ini sedang hujan..? ohh.. ibu..!”


Naina melihat gambarannya ketika dia masih kecil. Didepannya ada ibunya yang bersiap akan masuk mobil. Ditengah keramaian kota yang diguyur hujan, mobil tak henti-hentinya melaju dan membuat kemacetan di depan jalan.


“ibu hati-hati..”ucap Naina kecil sembari melambaikan tangannya.


“Naina, jaga dirimu dan ayahmu ya..” ucap ibunya.


Dan tak menyangka itu akan jadi kata-kata terakhir darinya. Mobil ibu nya melaju perlahan untuk menyalip mobil didepanya. Namun, tak disangka justru langkah itu yang membahayakan nayawa ibunya.


**Cittt…duarr !!!**


“ibu…!! Hhahh….hhhah..”


“Naina, tenanglah ini aku.” Ujar Danis yang langsung mendekap lembut Naina begitu dia terbangun karena mimpi buruk.


“ayo..makanlah” ujar Danis yang akan menyuapi Naina.


Naina yang terduduk lesu diatas kasur dan menolak suapan dari Danis. Ia tak mengeluarkan sepatah katapun dan tiba-tiba saja, air mata itu mengalir deras di wajahnya.


Danis meletakkan makanannya kemudian mengusap air mata Naina dengan tangannya yang penuh kelembutan. Namun, semakin banyak air mata itu mengalir, Danis menjadi tak sanggup melihatnya dan segera memeluk Naina lagi.


“tenanglah…aku akan selalu melindungi mu” ujar Danis yang menenangkan dan memberi rasa aman kepada Naina dengan mencium dahinya.


Entah darimana rasa peduli itu. pada mula nya ia sedang menuju sebuah toko hadiah dan akan ia berikan kepada Naina. dan saat itu pula, itulah pertama kalinya dia melihat Naina yang sangat ketakutan dan akhirnya Danis berlari menolongnya.


Dia tak bisa melepaskan pikirannya dari Naina bahkan sedetik pun.


Ia yakin kalau perasaannya ini bukan hanya sekedar ingin memiliki Naina. tetapi, melindunginya dan merawatnya.


Dengan sangat perhatian, ia masih memeluk Naina yang saat itu masih menangis di atas kasurnya. Benar-benar sangatlah lama waktu untuk menenangkannya dan setelah kurang lebih 1 jam lamanya, Naina akhirnya tertidur dipelukan Danis. Juga, dia pun tertidur sewaktu memeluknya.


-----------


“ukkh..aku masih pusing. Ehh…?!! Bau parfum ini..” ujar Naina yang matanya masih terlelap dan berusaha untuk membuka.


“aaaakkhh…!!!!” teriak Naina yang kaget dan langsung menjauh dari Danis yang saat itu memeluknya sambil tidur.


“huhh!! Berisik..kenapa kau berteriak..?” ucap Danis sembari mencoba bangkit.


“aku..? kau..? di.. ap..apa maksutnya semua ini..?” ucap Naina yang sangat gugup dan kaget melihat mereka berdua tidur seranjang.


“aishh.. tenang saja ! aku tak melakukan apapun kepadamu semalam. Kalau kau merasa sudah baikan, cepatlah turun dan sarapan.” Ujar Danis yang melangkah pergi keluar.


“apa..? jangan-jangan.. ini adalah rumahnya..?


ya tuhan..! bunuh saja aku. Kenapa aku begitu ceroboh..?” gumam Naina dan kesal dengan dirinya sendiri.


“tapi, aku benar-benar tak ingat apapun semalam. Yang ku ingat hanya..ingatan saat aku kecil !


apa mungkin itu saat ibuku meninggal..?” pikirnya yang menerka-nerka ingatan itu.


Naina berfikir, mungkin kejadian kecelakaan disiang itu membuatnya syok sehingga mengingat ingatan masa kecilnya yang hilang. Dan kejadian itu sangatlah mirip dengan apa yang ia lihat saat itu.


Bersambung...