
Semua persiapan telah usai. pesta besar yang hanya dihadiri para tamu undangan dan kolega saja itu, Berlangsung sangat megah. Danis yang sudah tampil sangat tampan dengan setelan jas merah hitam, benar-benar menarik perhatian para hadirin disana.
Pesta yang berlangsung jam 7 malam itu, hanya dihadiri kaum elit dengan gaun-gaun indah nan mewah mereka.
“tuan Asher, selamat atas kesuksesanmu selama 18 tahun ini ya !” ucap salah satu tamu.
“terimakasih banyak. Oh ya ini, sapalah putra ku. Calon penerusku selanjutnya.”
Danis membalas sapaan itu dengan sekedarnya. Ia benar-benar muak dengan pesta yang hanya orang elit saja isinya. Dan tiba-tiba saja, Selena datang dan mengandengnya.
“hai Danis, perkenalkan ini adalah tamu ayahku. Mereka ini pemilik perusahaan perhiasan dikota kami. Ayo sapalah..”
Lagi-lagi Danis harus menyalami mereka satu-persatu dan mengobrol dengan obrolan yang tak ada artinya. Baginya, ini hanya membosankan dan membuang-buang waktunya. Sejak dulu ia selalu tak suka jika harus mengikuti acara besar seperti ini.
“eh lihat ! bukankah itu anak dari Tom Alfaresta..? Rayn Alfaresta..?”
“iya benar ! wahh dia sangat tampan dan siapa wanita yang bersamanya itu..?”
Ucap beberapa tamu yang kaget dengan kedatangan Rayn dan Naina yang menghadiri pesta itu. bahkan kecantikan yang ada pada Naina tak sebanding dengan Selena yang ada di samping Danis.
Pakaian yang ia kenakan benar-benar cantik dan anggun. Meski tak mewah dan mahal, namun kecantikan dan aura Naina cukup untuk membuat semua tamu terperangah. Menghetahui hal itu, Danis segera berlari kearah Naina dan menariknya pergi dari ruangan itu menuju area balkon diluar.
“bukankah sudah kukatakan untuk tak datang kemari..?
dan sekarang, kau malah datang kesini bersama pria itu..? Naina apa kau..”
“lalu kenapa aku tak boleh kemari..?!
apa kau tak mau aku melihat pertunanganmu..? apa aku harus menunggu undanganmu sebelum aku datang..?” Sahut Naina.
Suasana tegang langsung tercipta diantara mereka berdua bahkan mengalahkan suasana dingin diluar saat ini. langit malam begitu pekat dan sedikit berangin tak membuat Naina goyah akan kata-katanya.
Namun sebenarnya, bukan percakapan ini yang ia harapkan malam ini. ia ingin menyampaikan perasaannya tetapi justru terbawa emosi oleh Danis.
“Danis..aku kemari untuk..”
“Naina, maaf. Selama ini aku hanya mempermainkanmu saja. Semua perlakuanku kepadamu hanya sebuah sandiwara saja…”
ucap Danis dengan membalikkan badannya dari Naina.
“apa..?! Danis, aku.. tak mengerti ucapanmu aku..”
“Naina, semua perasaanku padamu hanyalah kebohongan !” seru Danis sembari kembali menoleh ke Naina.
“Danis kau..kau bercanda kan..? iya kan..? aku tahu kau pasti mabuk atau..” ujar Naina yang air matanya mulai menetes.
“tidak. Aku sepenuhnya sadar.”
“Danis…kemarilah ! sudah waktunya.” Teriak ayahnya.
Danis pun pergi menemui ayahnya dan meningggalkan Naina sendirian terdiam disana. Ia masih tak percaya dengan perkataan Danis.
Dan dia tahu selama ini kalau Danis berbohong padanya. Dan masih berfikiran kalau ucapan Danis tadi adalah bohong juga. Ia pun menahan air matanya dan mengikuti Danis yang pergi bersama ayahnya.
“apa kau sudah mengatakan hal itu padanya..?” tanya ayahnya.
Danis hanya menganggukkan kepalanya dan ayahnya pun menepuk pundaknya. Ayahnya memberi tahunya kalau gadis yang menyelamatkannya sewaktu terjatuh dari pohon bukanlah Naina. bisa saja orang lain yang juga bernama Naina. Danis merasa muak dengan ayahnya dan juga membalas memarahinya.
“tidak ayah ! meskipun dia bukan gadis itu...aku tetap akan mencintai Naina.
dan ayah bahkan tak punya bukti kalau dia juga yang telah membuatku kehilangan ibuku !
ayah, sebenarnya kenapa ayah menuduhnya kejam seperti itu ! dia bahkan 2 tahun lebih muda dariku saat ibu meninggal.
Bagaimana bisa dia melakukan hal itu ! ayah, jawab aku ayah !”
teriak Danis yang sedari tadi mendesak ayahnya sambil menyenggolnya untuk menjawab semua pertanyaannya.
Mereka pun segera pergi menuju balroom acara. Dan Naina yang mendengar semua itu, benar-benar tak menyangka dan kaget kalau ingatannya tentang wanita bermata biru itu adalah ibu kandung Danis yang tak sengaja meninggal sewaktu menyelamatkannya.
Dan ia kini tahu kalau bocah laki-laki yang ia selamatkan adalah Danis.
yang mana setelah peristiwa itu membuatnya kembali menyukai hujan selepas kematian ibunya.
Ia hanya menahan semua rasa sedih dan juga syoknya dengan keluar menuju balkon tadi. Dan rupanya, balkon tersebut basah oleh guyuran air hujan yang sangat deras. Dan didalam, sangat ramai oleh tepuk tangan para tamu.
Naina dibuat penasaran dengan keriuhan tersebut dan memutuskan untuk masuk, bergabung ke dalam.
**prokkk..prokkk...prokkk**
“selamat ! kalian sekarang resmi bertunangan.”
Tampak Danis selesai memakaikan cincin ke jari manis Selena. Dan Naina hanya memandangnya dari jauh.
“wahh! Ironis sekali ya tuan Asher ini. dia bisa sukses dan anaknya bisa menikah karena kelicikannya dulu membunuh temannya sendiri di pegunungan Sanders.
Bahkan perusahaan BC group bisa dia rebut karena membunuh istri temannya itu dan memalsukan kematiannya.”
“benarkah..? lalu, bagaimana nasib keluarganya yang tersisa ya..?” ucap salah satu tamu disana.
Rayn melangkah mendekati Naina yang tampak terlihat sedih dan kebingungan. dengan segera ia mengajaknya pergi dari sana tetapi, Naina menolaknya
“permisi, bolehkah aku tahu siapa nama dari pemilik BC group itu..?”
“wahh..seingatku itu nama keluarga. Apa ya..? Barsha ! iya. Tapi ini hanya sekedar kabar saja. Karena media menutupi semua berita tentang BC group.
Ada apa kau bertanya nona..? ehh..nona..!”
“Naina..!” teriak Rayn.
Naina berlari dari ruangan itu begitu mendengar kenyataan yang sebenarnya mengenai dirinya dan keluarganya.
Ia berlari sekencang mungkin dan sejauh mungkin meninggalkan gedung itu. air matanya benar-benar deras tetapi, hujan mengalahkannya dan menyamarkannya dengan tetesannya.
Ditengah hujan badai yang bahkan bukan pada musimnya, benar-benar membuat tanah kering menjadi becek dan licin. Naina tersandung dan terjatuh di pinggir jalanan. Ia benar-benar menangis sejadi-jadinya tak peduli seberapa basah dan robek gaunnya akibat hujan dan terjatuh tadi.
Naina yang menangis sembari terduduk dibawah guyuran hujan merasa kalau Didalam hatinya, ia sudah cukup puas menghetahui apa yang sebenarnya terjadi.
.
.
Tapi, beberapa kata hatinya berkata tak terima. Mengapa semua ini terjadi padanya. Bahkan kenapa Danis yang harus menjadi takdirnya kali ini..?
berkat Danis ia kembali menyukai hujan dan karena Danis pula, ia kembali membenci hujan.
“kenapa..?! kenapa semua ini…” teriak Naina sembari duduk bersimpuh ditanah.
“apa aku punya salah denganmu sampai kau selalu membuatku seperti ini..?”
semua teriakan Naina itu dia hadapkan ke langit yang penuh hujan.
“aku benci ! aku membencimu !.. aku membencimu lagi..” tangis Naina.
Tiba-tiba saja, ada seseorang berjas putih sedang memayungi Naina yang duduk menangis disana. Kemudian, pria itu berkata padanya.
“jangan...Kau jangan membenci apapun juga siapapun. Sekalipun itu hujan.”
Naina terdiam dan berhenti dari tangisannya setelah mendengar hal itu. ia menengok pria itu dan merasa malu atas dirinya karena pria itu sudah melihatnya sedari tadi.
Bersambung..