Story Under The Rain

Story Under The Rain
Terpukul



Setelah berbincang dengan pamannya ditelepon, ia ragu untuk memenuhi permintaan pamannya kali ini. untuk apa pamannya menyuruhnya untuk pergi menuju kantor polisi..? apa ini masalah kedua orang tuanya ? atau masalah pamannya sendiri ?


Naina pun baru sadar jika kemarin bibinya meminta bantuannya. tetapi, bibinya menghilang. Tanpa berlama-lama ia segera bergegas pergi menuju kantor polisi. dan sesampainya disana, ia mendapati bibi Susi dibalik jeruji besi dengan keadaan yang menyedihkan. dan di seberangnya ada paman Hans yang sudah menunggunya.


“paman, ada apa ini ..? kenapa bibi bisa ada disini ?” tanya Naina.


“nak Naina, sebelumnya kamu ngak apa-apa kan..? apa kamu terluka ? atau sesuatu telah terjadi ..?” ucap pamannya dengan khawatir.


“ap..apa maksud paman ? apa yang ingin paman katakan..?” ucap Niana dengan kebingungan.


Tak disangka pamanya tiba-tiba duduk bersimpuh dibawah kaki Naina dan memeganginya. Naina yang kaget dengan apa yang dilakukan pamannya benar-benar tak menduganya.


“Naina, ampunilah paman dan bibimu yang bodoh ini. karena ulah bibimu, kau jadi sangat menderita. paman mohon... ampunilah kesalahan kami." Ujar paman Hans sambil menangis.


“paman, jangan begini. aku benar-benar ngak ngerti. Paman Hans jelasin ke Naina ada apa sebenarnya..?”


“Naina..kami benar-benar keterlaluan sebagai keluargamu..kemarin bibimu sengaja meminta bantuanmu dan menipumu. Agar dia bisa menjualmu pada ******** itu agar mendapatkan uang yang lebih..” ucap paman Hans yang benar-benar bersujud dikaki Naina sambil menangis.


Mendengar itu, Naina sangat syok dan tak percaya kalau bibinya, keluarganya sendiri, tega menculik bahkan menjual keponakannya sendiri. dengan deras air mata mengalir membasahi wajah putihnya. Ia sangat terpukul dengan semua maslah yang terjadi.


Tak disangka bahaya yang sebenarnya mengintai adalah dari keluarganya sendiri. Naina tak kuasa dengan tangisnya dan akhirnya terduduk tanpa kata melihat pamannya yang masih mencoba meminta maaf dan bibinya yang sama sekali tak merasa bersalah.


Dalam semalam, hidupnya benar-benar hancur seketika. Tak lama datang sesorang dengan jas rapi dan tatanan rambut bak konglomerat kaya. Pria yang sangat familiar bagi Naina.


“ohh. Jadi ini pelakunya ? orang yang tega menculikmu itu ternyata bibimu sendiri..?”


“Danis..? ap..apa yang kau lakukan disini ..?” ujar Naina yang terkejut dengan kedatangan Danis.


“tuan, aku mohon jangan lakukan ini. dia istriku. Aku mohon jangan.” Ucap paman Hans sambil memohon kepada Danis.


“kalau kau suaminya, seharusnya kau mengajari istrimu untuk bersikap baik kepada anggota keluargamu sendiri.” ucap Danis sambil melirik tajam.


Danis yang melihat Naina sedih segera menarik tangannya untuk pergi keluar dari sana dan tak menghiraukan permohonan maaf dari paman Hans. Naina yang terduduk kaget tiba-tiba saja tangannya ditarik Danis keluar.


“Danis lepas. Danis lepasin !” teriak Naina dengan meronta.


Danis pun melepas pegangan tangannya dan masih berdiri membelakangi Naina. Naina yang berusaha menyeka air matanya, sangat tak percaya bahwa orang yang dibencinya malah menolongnya. Tapi, Ia masih ingat betul akan sikap pria itu. pasti kali ini ia akan menganggapnya hutang lagi.


“kalau kau melakukan hal itu karena ingin aku berhutang lagi padaku, aku katakan kalau aku bisa menangani masalahku sendiri tanpa perlu bantuanmu.” Ujar Naina.


Danis yang mendengar itu, segera membalikkan badannya dan memberikan sapu tangan kepada Naina. pria berwajah dingin itu, seakan tak tega melihat Mata cantik Naina yang penuh dengan air mata.


“pakailah itu. aku lakukan itu semua bukan karena aku ingin kau berhutang. Tapi, aku ingin bertanggung jawab padamu atas apa yang kulakukan.” Ucap Danis ambil memberikan saputangan itu.


“hah..?!! apa maksudmu ..? apa kau mencoba menipuku dengan berpura-pura berbuat baik..? kau sungguh kotor ! trik licikmu ini, aku takkan termakan lagi.” seru Naina dengan pergi berlalu begitu saja.


Ia sungguh tak bisa melihat kebaikan yang ada pada diri Danis setelah semua peristiwa yang ia alami. Danis yang berdiri disana hanya tersenyum sinis sambil memandangi wanita itu dari belakang.


“Naina, kau sangat menarik. Tunggu saja sampai permainanku berhasil.” Bisiknya.


Langkah kaki yang masih terlihat lelah itu, berusaha agar tetap berjalan menyusuri setapak demi setapak jalanan di pinggir kota. Dan membuatnya sampai pada suatu tempat. Tempat yang terhubung dengan masa kecilnya yang menyedihkan.


Bersambung…