Story Under The Rain

Story Under The Rain
Petunjuk baru



“Apa ini..? dokumen pemindahan kekuasaan dan kepemilikan..? astaga ! aku salah. Eh tapi, stempel ini..”


“Naina..? apa yang kaulakukan disini..? apa kau mencari sesuatu..?” tanya Alisa yang tiba-tiba mengakegtkan Naina.


"Tidak ! tidak kok. Aku, sudah menemukannya. Kalau begitu, aku pergi dulu.” Ucap Naina dengan gugup sembari menyembunyikan dokumen yang tadi dia temukan.


Naina langsung pergi dengan gelisah dan berharap tak ada yang melihatnya menyembunyikan satu lembar dokumen. Dan dokumen itu, yang dia curiga ada rahasia yang tersimpan.


Begitu masuk, Naina langsung menutup rapat-rapat pintunya dan bergegas membuka foto yang dia selipkan di buku catatannya waktu itu. dia kembali mengamati lekat-lekat isi dari dokumennya. Dan ternyata, tak disebutkan perusahaan mana yang memindahkan kepemilikannya ke perusahaan Danis. Tapi, satu yang membuat matanya terbelalak adalah bentuk stempelnya yang sangat mirip dengan bentuk tulisan dibelakang gambar.


“apa..apa orang-orang yang didalam foto ini semua, terlibat dalam pembunuhan orang tuaku..?” gumam Naina.


Matanya yang langsung berkaca-kaca begitu pemikirannya mengarah ke situ. Nafasnya sesak seperti terhimpit sebuah beban yang berat. Beban kenyataan yang mana ia takut tak bisa menerima nya. Dan lamunannya buyar seketika, saat seorang wanita datang ke kantornya tanpa seizinnya dan memaki-makinya.


“hei ! dengar ya, tikus kotor ! aku peringatkan kau, jangan dekat-dekat dengan Danis. Atau kau akan menyesal dan menderita seumur hidupmu !”


ucap Selena sembari menunjuk-nunjuk didepan muka Naina.


Naina hanya menangapinya dengan senyuman kecil namun, terlihat licik dan segera pergi menjauh dari Selena. Dan Selena pun semakin kesal dan segera menahan Naina dengan cengkraman tangannya sambil berkata padanya.


“dengar ya ! Danis pasti akan segera menikah denganku jika bukan karena kau ! dan kalau dia tahu tentang masa lalumu, dia pasti akan segera membencimu !” seru Selena dan tak lama Naina kaget mendengar katanya yang terakhir.


“apa..? masa laluku..? memangnya apa yang kau ketahui tentang masa laluku..? hahh !?” ucap Naina sembari membalas Selena yang terlihat gugup akan ketahuan.


“ti..tidak. aku tak tahu tentang masa lalu mu. Tapi, akan kupastikan Danis membencimu !”


Selena langsung pergi setelah mengatakan itu. Naina hanya terdiam disana sembari mengatur kembali nafasnya. Dipikiran Naina terselip sebuah firasat yang mengatakan kalau Danis menghetahui sesuatu tentang masa lalunya.


--------------


Sore hari datang dengan cahaya senjanya. Danis yang masih dibebani banyak tugas yang harus dia selesaikan saat itu, terganggu sejenak dengan suara ponselnya yang tak hentinya berdering. Seketika wajahnya berubah begitu melihat siapa yang tengah menghubunginya.


“Danis, kudengar gadis itu ada dikediamanmu. Apa dia baik-baik saja..?” ucap seorang wanita yang telah berumur.


“dia baik-baik saja. ” ucap Danis dengan singkat.


“nak, jagalah dia baik-baik dan jangan sampai ayahmu tahu. Dia tak bersalah.”


“aku tahu aku harus apa. Dan juga, jangan menelponku lagi. Aku bukanlah anakmu…” ucap Danis sembari menutup ponselnya.


Sesaat setelah itu, dia menjadi terlihat stres dan bingung. Entah apa yang dia pikirkan sampai dia seperti itu. Naina masih terpikirkan oleh foto yang diberikan pamannya itu dan hubungannya dengan surat dokumen tadi.


Naina berusaha tak peduli dengan kehadirannya dan pergi begitu saja melewatinya yang tampak sangat bersedih dengan kejadian ini.


saat dijalan, Danis melihat Naina yang berjalan begitu cepat dan kemudian menyusulnya.


“Naina…Naina berhenti ! Naina..!” teriak Danis yang berusaha membujuknya sembari mencoba mengandeng tangannya.


“Danis, Biarkan aku sendiri !” teriak Naina dengan air matanya telah membasahi wajahnya.


“Danis, aku..aku lelah ! aku lelah dengan semua ini…” ujar Naina yang telah jatuh kepelukan Danis.


“Naina, tenanglah..” ucap Danis dengan lembut sembari memeluknya.


“Danis, aku muak dengan semua ini. kenapa kau tak membiarkan aku pergi..? kenapa..? apa aku punya salah denganmu dikehidupan yang lalu sampai-sampai kau tak membiarkanku sedetik pun..?” tangis Naina sembari berada dipelukan Danis.


“Naina, kau tak bersalah dan kau tak perlu merasa bersalah. Aku melakukan ini semua karena aku jatuh cinta padamu. Dan jika kau tak punya apa-apa, aku akan memberimu segalanya dan kau tak perlu risau dengan tempat tinggal. Karena aku akan selalu jadi rumahmu…”


Kata-kata Danis, begitu melekat di hati Naina. dia bersyukur akhirnya bisa merasakan cinta yang tulus dari sesorang. Dan dengan begitu, Naina percaya Danis takkan berani menyakitinya. Apakah benar seperti itu, hanya waktu saja yang menjawabnya.


Dan saat-saat itu, membawa mereka untuk kembali ke kediaman Danis.


Sesampainya disana, Naina langsung merebahkan dirinya dikasur. Meski kata-kata Danis yang terkesan berlebihan baginya bisa menenangkan hatinya, Namun petunjuk yang dia temukan membuat pikirannya kacau tak karuan.


Naina pun pergi keluar kamarnya menuju ke balkon. Disana langit malam terlihat sangat terang dengan cahaya bulan. Sama sekali tak ada awan hujan maupun awan tebal yang menutupi nya. Sembari berdiri disana, dia masih saja memikirkan kebenaran dibalik foto itu.


“ayah ibu, bersabarlah. Aku akan mencari keadilan untuk kalian.” Batin Naina dengan memejamkan mata, merasakan hembusan angin diudara malam.


Danis membolak-balikkan badannya dan tak bisa tidur karena saking gelisahnya. Ia pun keluar dari kamarnya dan melihat Naina sedang berdiri sendirian di balkon. Dengan segera Danis mendatangi Naina yang masih dipenuhi kesedihan.


“apa yang sedang kaulakukan disini..?” tanya Danis.


“aku..aku hanya tak bisa tidur.” Ucap Naina sembari terus menatap dan memegang foto itu.


“oh..bukankah itu foto orang tuaku..? darimana kau mendapatkannya..?” ucap Danis yang tengah melihat foto ditangan Naina itu.


Naina mengernyitkan dahinya seakan tak percaya dan bingung dengan ucapan Danis. Ia masih ingin memastikan kalau orang yang difoto itu adalah orang tua Danis.


Bersambung…