Story Under The Rain

Story Under The Rain
Bertahan



Pagi menyambut Naina dengan udara yang sejuk dipagi musim panas. tampak Danis yang tengah tertidur di sofa kamar VIP tersebut. Untungnya, dokter sudah mencabut infusnya dan ia pun bisa berjalan-jalan kesana kemari dengan bebas. Sesaat ia akan membuka pintu, rupanya ada lagi yang menjenguknya di pagi ini.


“kak Rayn..?”


“Naina, aku kesini ingin tahu mengenai keadaanmu. Bagaimana sekarang..?” tanya Rayn.


“seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja.


Kak Rayn masuklah.” Ucap Naina sembari mempersilahkan Rayn masuk kesana.


Rayn membawakan bingkisan makanan dan bunga kesukaan Naina. Naina pun membalasnya dengan senyuman sembari mencium aroma wangi dari bunga itu.


tetapi, wajah Rayn berubah murung ketika melihat Danis sedang tertidur disana. ia mencoba berprasangka baik dan menanyakannya pada Naina.


“apa semalaman Danis menemanimu disini..?” tanya Rayn seraya tersenyum pada Naina.


“oh..i..iya !” ucap Naina dengan gugup.


“kalau begitu, apa benar mengenai kabar kalian sudah menikah kemarin..?” ucap Rayn yang menundukkan wajahnya.


Naina hanya terdiam dan tak bisa menjawab semua pertanyaan itu. ia melihat kalau Rayn merasa sedih dengan kabar pernikahannya yang secara tiba-tiba. ia mencoba memalingkan wajahnya dan tak ingin melihat ekspresi dari Rayn saat itu.


“itu benar kan..? Naina..?” ucap Rayn sembari mengangkat tangan kanannya yang terlihat mencoba memegangi wajah Naina.


“bukankah ini tak terlalu pagi untuk mengunjungi seseorang..?”


Danis tiba-tiba bangun dan langsung mencegat tangan Rayn yang berusaha meraih Naina. sontak Naina juga kaget dengan Danis yang melakukan hal tersebut dihadapannya secara cepat. Dalam sekejap, suasana terasa sangat tegang disana.


“Da..Danis. kau sudah bangun. Kak Rayn dia..dia sebenarnya..”


“aku hanya ingin mampir kesini untuk menjenguk temanku. Apa aku tak boleh..tuan, Asher..?”


Danis nampak tak senang dengan kata yang keluar dari mulut pria itu. dia langsung melepaskan tangannya dan berkata padanya.


“tentu ! Selama kau menganggapnya teman, aku akan mengizinkanmu.”


Danis pun keluar dari ruangan itu, membiarkan Naina dan Rayn berdua saja disana. Sejenak, keadaan menjadi hening. Dan Naina masih memalingkan wajahnya dari Rayn.


“Nai..? apa semua baik-baik saja..?”


“oh, tentu. Semua baik-baik saja kok” ucap Naina sembari menyelipkan rambutnya kebelakang.


“apa kau masih melukis di galeri itu..?”


“iya. Tentu.”


Jawab Naina dengan menundukkan wajahnya yang tengah memegang makanan dari Rayn.


“Naina, sebenarnya..aku kemari pagi-pagi sekali ingin berpamitan denganmu. Aku harus mengikuti ayahku ke paris siang ini.


jadi, aku kemari ingin bertanya tentang kabarmu sekaligus untuk mengucapkan selamat tinggal padamu.”


Ucap Rayn yang mencoba menahan rasa sakit dari perkataannya itu sembari menggepalkan tangannya diam-diam disana.


Naina hanya diam dan tak berkata apapun. Didalam hatinya dia merasa sedikit sedih harus berpisah lagi dengan Rayn. Setelah baru saja mereka bertemu seusai beberapa tahun hilang kontak.


Tetapi, ia kembali menyadarkan dirinya didalam hatinya itu. kalau ada urusan lain yang harus ia jalani dan mungkin dengan kepergian Rayn akan membuatnya bisa melupakan sosoknya dengan cepat.


“baiklah kak Rayn. Berhati-hatilah disana.” Ucap Naina yang tersenyum kecil sembari mengulurkan tangnnya untuk berjabat tangan dengan Rayn.


Mata Rayn berkaca-kaca melihat ekspresi Naina dan segera memeluknya. Rayn memeluknya begitu erat seperti tak rela untuk berpisah lagi dan lagi dengan Naina. tapi, dalam hatinya ia berjanji. Ia akan tetap bertahan dan menyukai Naina sampai kapanpun itu.


dan meski Naina sudah milik orang lain, hati kecilnya tak bisa merelakannya dan tetap akan bertahan demi Naina. Naina kaget dan pelan-pelan tangannya membalas pelukan Rayn dengan merangkulnya juga. meski Rayn tak yakin kapan ia akan kembali, ia hanya ingin sekali saja merasakan pelukan dari Naina lagi.


“baiklah Naina, terima kasih. Aku akan pergi. Sampai jumpa lagi dan juga jaga dirimu baik-baik.” Ucap Rayn yang mengacak-acak rambut Naina kemudian pergi sembari melambaikan tangannya.


Begitu dia keluar, Danis menyambutnya dengan berdiri dari luar pintu. Rayn mencoba mengembalikan senyumannya dan menepuk pundak Danis seraya berkata padanya.


“ku titipkan dia padamu. Sebaiknya kau menjaganya dengan baik. Atau aku..akan kembali dan menghabisimu dengan tanganku sendiri.”


Rayn pun pergi dari sana. Tetapi, jejak kehadirannya masih ada bagi Naina. Naina menitikkan air mata sembari melihat tangan bekas salamannya dengan Rayn.


Rayn selalu baik kepadanya akhir-akhir ini. suatu saat mungkin ia akan merindukannya lagi. Bukan sebagai apa-apa. Tetapi, sebagai teman yang selalu menolongnya dan selalu ada untuknya.


“sudahlah Naina. kau harus bertahan untuk semua ini. semua ini akan segera selesai begitu kau cepat bertindak.” Ucapnya sembari mengelap air matanya.


Kini, Naina hanya harus menunggu waktu yang tepat untuk kembali membuktikan semua dugaan dan prasangkanya saat ini.


Bersambung…