Story Under The Rain

Story Under The Rain
Menginap



Masih terngiang-ngiang ucapan Danis yang membuatnya salah tingkah tak karuan didalam kantornya.


Naina berusaha menyibukkan diri dengan mengotak-atik komputernya dan melihat-lihat ponselnya. Namun, tetap saja.


“aishh..! bisa gila aku.” Gumamnya.


Tiba-tiba saja, ia teringat dengan foto yang pamannya berikan. Naina hanya berharap cepat atau lambat akan tahu kebenaran tentang keluarganya. Ia menaruh foto tersebut di sebuah buku catatan miliknya. Saat itu juga, ponselnya menerima sebuah pesan.


*Naina, jangan khawatir. Aku tak apa-apa. Mulai sekarang, jangan menghubungi ku jika tak ada keadaan darurat*


“Navya dia ini kenapa sih..? tak biasanya ia berkata seperti ini padaku.” Gumamnya.


Naina kembali dibuat cemas oleh perkataan sahabatnya itu. sambil merenung, ia berpikir akan mengunjunginya didesa lusa besok.


**tokk ! tokk !**


“maaf nona Barsha. ini, adalah data yang diberikan direktur untuk rapat dengan dewan perwakilan besok.” Ucap Henry sambil membawa beberapa tumpuk berkas.


“oh. Baiklah.”


ucapnya sembari menerima berkas tersebut.


“dan mohon agar anda menyelesaikannya sore ini.” pinta si Henry.


“apa..?! sore ini..? apa dia gila..? dasar kejam..!” umpat Naina dengan raut kesal.


“kalau begitu saya permisi” pamit Henry.


Tumpukan berkas itu ditaruh diatas meja kerjanya. Saat membuka lembar demi lembar, ia benar-benar bingung. Bagaimana ia bisa menyelesaikan dengan waktu yang sangat singkat.


“hufft.. ayo Naina ! kau pasti bisa !” gumamnya untuk menyemangati dirinya sendiri.


Dengan cermat Naina membaca dan mengamati setiap poin yang ada diberkas. jari lentiknya tak henti-hentinya mengetik kata per kata dalam komputernya.


Saking seriusnya, ia tak sadar bahwa senja telah menghampirinya dan akhirnya, tugasnya juga selesai tepat waktu.


“baiklah…saatnya bertemu bos kejam itu.” ujarnya sembari menata dokumen yang telah siap.


Naina kini telah berdiri di pintu ruangan bosnya dan melihat lalu-lalang pekerja yang bersiap meninggalkan kantor. Dengan sabar ia mengetuk pintu.


Selang beberapa menit ia mengetuk pintu kembali dan tetap tak ada jawaban. Dia berfikir daripada jadi bahan tontonan karyawan lain, lebih baik ia segera masuk dan memberikan berkas itu. dan mulailah ia masuk kedalam.


“ohh..pantas saja tak ada jawaban. Ternyata ia tertidur..” ujarnya sesaat setelah masuk.


“tuan, ini dokumen yang kau minta untuk rapat besok.” Seru Naina sembari meletakkan berkasnya di meja Danis.


Masih dengan keadaan yang sama, Danis sedikit pun tak bangun bahkan tak bergerak dalam posisi tidurnya di sofa.


Awalnya Naina hanya ingin menaruh berkas dikantornya saja. Namun akhirnya ia jadi khawatir dengan Danis yang tak sedikit pun meresponnya. Naina pun menutup pintunya dan segera menuju ke Danis. Perlahan-lahan, tangannya menyentuh dahi dan lehernya.


“dia masih demam ya..?


aishh..! kenapa kau memaksa untuk bekerja kalau kau sakit..? sebentar akan ku ambilkan kompres.” Ucap Naina yang duduk di samping Danis dan beranjak berdiri.


“eh..? dia mengigau ya..?” ujar Naina yang tangannya masih dipegang oleh Danis.


“se..sebentar aku akan mengompresmu.” Ujarnya sembari berusaha melepaskan gengaman Danis.


Setelah mengambil kain dan air dikamar mandi, Naina mulai mengompres dahi Danis dengan sangat lembut.


Danis bisa merasakan dinginnya air dan lembutnya usapan itu sehingga sesekali ia terlihat gelisah. Naina melihat di samping meja kerja Danis ada sebuah selimut. Dengan segera ia mengambilnya dan menyelimuti tubuh Danis yang mengigil.


Kembali Naina mengompresnya sampai jam menunjukkan pukul 7 malam. Entah kenapa dengan Naina saat itu, tapi ia tak bisa meninggalkan Danis yang sakit sendirian disana. Darimana rasa simpati itu muncul, entahlah. Naina tak bisa tahu persis sejak kapan bahkan mengapa.


Saat melihat wajah Danis, ia selalu ingin membuatnya merasa nyaman disisinya. Dan Naina pun tertidur dengan terduduk di samping sofa Danis.


-------------


Sinar mentari menyambut riang para penduduk bumi. Sangat terang sampai menembus setiap jendela rumah dan gedung-gedung tinggi. Dan membuat Danis terbangun karena silaunya.


“ukkh..jam berapa ini..? ehh?!! Naina...?”


ucap Danis sambil membuka matanya dan melihat disampingnya ada Naina.


“jadi dia yang merawatku semalam..?


Naina, terima kasih kau mau melakukannya.” Ujar Danis sambil mengecup lembut dahi Naina.


Danis bangkit dan melepaskan kompres yang ada di dahinya. Berkat Naina, demamnya bisa turun. Dengan hati-hati, ia berdiri agar tak membangunkan Naina ang tertidur pulas bak kucing kecil.


Dan saking nyenyaknya, posisi duduknya pun kalah dengan rasa kantuknya.


“aduhh!! Ehm..jam berapa ini..?


ehh..?! dia sudah bangun ya..?” ujar Naina sambil mengucek matanya.


“baiklah kalau begitu aku akan kembali ke kantorku juga.


Hoamm.. tapi aku masih ngantuk” ucapnya.


Saat dikantornya, ia memutuskan untuk berbaring sebentar di atas sofa tamu diruangannya. Sampai Tak terasa jam menunjukkan pukul 7 dan alarm ponselnya berbunyi.


Naina segera bangun dan menuju kamar mandi didalam kantornya. Seusai merapikan diri, ia kembali ke kantor Danis untuk menyampaikan tugasnya yang belum sempat diketahui Danis.


“ehm..maaf bos. Kemarin tugas yang kau suruh itu sudah selesai dan kau harus memeriksanya.”


Ujar Naina yang gugup memandang wajah Danis.


“haduh, gara-gara aku menginap semalaman bersamanya disini, membuatku sangat gugup.” Batin Naina.


Dengan mata birunya itu, Danis segera membuka berkasnya. seusai membacanya, ia melirik ke arah wanita itu, beranjak dari kursinya dan mendekat ke Naina yang tengah berdiri di depan mejanya.


Bersambung...