Story Under The Rain

Story Under The Rain
Jebakan



Sinar senja masih menampakkan cahayanya menembus beberapa bangunan sudut kota.


Naina yang tak lama sampai disana dan duduk dikursi, dikejutkan dengan selembar kertas berisi keterangan polisi mengenai kasus kebakaran kemarin.


“Navya..? apa ini benar..?” tanya Naina yang terkejut.


“iya benar.! Ternyata gedung galerimu dibakar seseorang. Sebab kepolisian mencium bau minyak gas disana.” Jelas Navya.


“siapa, siapa yang tega melakukan ini kepadaku Nav..?” ucap Naina dengan berkaca-kaca.


“yang sabar ya..” ucap Navya sambil memeluk sahabatnya yang tak henti-hentinya meneteskan air mata itu.


Tak lama setelah keadaan hati Naina tenang, ia pun pamit pergi dari kedai Navya untuk pulang. Namun, tetap saja ia tak habis fikir. kenapa ia begitu banyak mendapat masalah. Selain itu, harapan dan impiannya satu-satunya lenyap bagai abu.


Dan sekali lagi, ia memutar arah dan kembali ke bekas galeri nya itu. sampai disana, ia mendapati sekumpulan orang berjas di depannya sedang berkumpul.


“ah ! ini dia si nona pemilik tanah dan gedung ini. lebih baik kalian tanyakan saja pada nya.”


Ucap salah seorang warga dengan menunjuk kearah Naina.


“nona, benarkah kau dulu yang pemilik dari gedung ini..?”


“iya. Ada apa ya…? tanya Naina.


“kami adalah utusan dari Blue Enterprises ingin membeli bekas gedungmu dan tanahmu untuk proyek kami.”


Ucap salah seorang sembari memberikan sebuah berkas untuk ditanda tangani.


Mendengar itu, Naina sangat terkejut dan sekaligus tak habis pikir mengapa setelah kebakaran, ada orang yang langsung menginginkan gedung dan tanah miliknya.


“eh.. tunggu ! blue enterprises..? bukankah perusahaan itu milik Danis..? apa mereka orang-orang suruhan mereka..?” pikir Naina.


“apakah bos kalian yang meminta ini..?”


“benar nona.”


“kalau begitu. Katakan kepadanya aku akan menemuinya secara langsung untuk membicarakan ini besok.” Tegas Naina.


Setelah ucapan Naina kepada mereka, mereka pun menyetujuinya dan segera pergi dari sana. Naina pun juga pergi dari sana dan kembali ke rumah menanti esok hari untuknya menghadapi pria itu.


---------------


Pagi hari menyambutnya dengan penuh semangat. Dengan cepat ia membereskan keperluannya untuk pergi menghadap si ceo sombong itu. namun, anehnya Navya tak ada dirumah.


“Mungkin saja ia sedang ada sift malam lagi” batinnya.


Sesampainya disana, Naina menarik nafasnya dalam-dalam bersiap akan masuk ke gedung itu lagi. Dia menuju lift dan sampai di ruangan bos ceo itu. dan disana, sudah ada asistennya yang berjaga didepan ruangan. Sambil memegang tas Sling bag, Ia pun bertanya kepada asistennya.


“apa ini ruangan bos diperusahaan ini..? katakan kalau aku sudah ada janji dengannya.”


“sebentar nona.” Kata asisten itu.


Asisten itu pun menghubungi bosnya. Dan tak lama mempersilahkan Naina masuk. Dengan semua tekad yang ia kumpulkan, ia berdiri didepan pintunya dan mulai melangkah masuk. Tetapi saat asisten itu membantunya membuka pintu, justru Naina tersandung kaki nya dan jatuh.


“gadis kecil, apa kau terlalu bersemangat menemui ku, sampai tak memperhatikan langkahmu..?” ucap Danis sambil membantunya berdiri.


“tidak. Aku bahkan Sama sekali tak ingin menemui mu. Kecuali karena ulahmu ! membuatku tak bisa tinggal diam.” seru Naina sambil menyingkirkan tangan Danis di lengannya.


“bisa kau jelaskan apa perlumu kemari..?” ujar Danis sembari duduk di kursinya kembali.


“katakan padaku. Apa kebakaran yang ada di galeriku adalah ulahmu..? ayo katakan..?! apa kau sengaja menjebakku agar kau bisa beralasan membeli tanahnya dan bisa menahanku kembali..?” teriak Naina dengan kesal.


Entah kenapa Naina sempat curiga kalau Danis lah orang yang membakar galerinya. Naina benar-benar yakin kalau ia tak punya musuh lagi selain dia. Danis hanya membalasnya dengan tatapan dan senyuman dinginnya sambil melihat ekspresi Naina. mungkin ini adalah permainan yang ia harapkan.


“gadis pintar. Ia cepat sekali sadar kalau aku manfaatkan ini untuk memancingnya.” Batinnya.


“Danis katakan ! apa perkataanku salah..?” tanya Naina dengan marah.


“tak semuanya salah. memang benar aku berniat membeli tanah bekas galerimu. Hanya saja, bukan aku pelaku pembakaran gedung galerimu.” Ucapnya sambil berdiri mendekati Naina.


“lalu, kau pikir aku percaya akan perkataanmu lagi..? kau benar-benar..”


“Naina sayang… pikirkan saja. Kenapa aku tega membakar galeri kecilmu yang bahkan tak lebih dari 100 meter persegi itu..?


Padahal dengan uang yang kumiliki, aku bisa saja langsung merampasnya darimu tanpa harus membakarnya.


dan tentang masalah membeli tanahmu itu, aku hanya mengertakmu saja agar kau mau datang ke kantor ini.” jelas Danis sambil berjalan pelan mengitari Naina.


“lalu, bukankah mereka bilang kalau kau akan membeli tanah disana untuk sebuah proyek..? berarti mereka berbohong..?”


“ya…itu semua kulakukan untuk memancingmu agar menemuiku hari ini. apa penjelasanku masuk akal bagimu..?” ucap Danis sambil mendekatkan wajahnya ke Naina.


“Danis, aku tak habis pikir. Untuk apa kau melakukan semua ini..?” tanya Naina.


“Naina, sudah kukatakan padamu. Aku tertarik padamu dan aku ingin bertanggung jawab padamu.” Bisik Danis ke telinga Naina dari belakang nya.


“aku, tak butuh rasa kasihanmu. Aku bisa menjaga diriku sendiri.” ucap Naina dengan memalingkan wajahnya yang kemerahan.


“tidak, Kau harus menerimanya karena aku takut kalau-kalau, ada anakku di kandunganmu itu…” bisik Danis sembari memeluk Naina dari belakang.


“Da..Danis.. hentikan.. !” teriak Naina sambil melepaskan diri.


“Naina, setelah kejadian semalam itu. membuatku berpikir takkan melepaskanmu lagi sampai kapanpun.


Kecuali kau mau jadi kekasihku dan menikah denganku. Atau aku punya pilihan lain untukmu.” Bisik Danis.


“apa pilihan lain itu..?” tanya Naina.


“bekerjalah bersamaku untuk proyek yang ku jalankan.” Ucap Danis.


“lagi-lagi proyek sialan itu ! tapi kali ini, aku takkan bisa lepas dari nya lagi.” Batin Naina.


Bersambung…