Story Under The Rain

Story Under The Rain
Ajakan bos



Hari tersibuk datang dan semua orang memulai aktifitas mereka masing-masing.


Naina yang menggunakan baju bermodel cold shoulder (baju atasan dengan bahu yang terbuka) berwarna merah dan rambut yang digerai benar-benar mempesona setiap orang yang melihatnya.


Mata coklat yang indah itu, tak henti-hentinya menampilkan bulu mata lentiknya. Pancaran cantik naturalnya semakin terlihat dengan riasan tipis yang sesuai untuk wanita perkantoran.


“permisi, Henry. Tolong berikan ini ke pak direktur.” Ucapnya sambil menyerahkan berkas.


Naina segera pergi dari sana dan masuk ke kantornya lagi. Dan saat ia melihat-lihat diatas mejanya, ada berkas yang tertinggal.


“oh..?! ini.. Asher..? bukankah nama dari keluarga Danis..? mungkin ini didalam berkas tadi.” Ucapnya sembari memegang beberapa lembar kertas itu.


Naina pun pergi menuju ruangan sekertaris ceo dan memberikan lembaran kertas itu pada Henry.


“maaf nona. Tuan muda tadi menyuruhku agar anda menyerahkannya sendiri kedalam.” Ujar Henry.


“sial ! kali ini trik apa lagi yang dia mainkan.” Gumamnya.


“baiklah. Aku akan masuk.” Ucap Naina dengan sedikit senyum palsunya.


Naina kemudian mengetuk pintunya dan masuk. Ketika itu, Danis sedang fokus dengan layar komputernya dan tak mendengar suara ketukan bahkan ucapan Naina.


“bos. Ini ada lembaran yang tertinggal saat aku mengetiknya tadi. Ini, aku kembalikan.” Uca Naina dengan meletakkan kertas itu diatas meja Danis.


“tunggu !” ujar Danis.


“aduh..! apa lagi ini..?” batin Naina.


“kau tutup pintunya. Jangan pergi dulu.” pinta Danis.


“ba..baiklah.”ucap Naina dengan gugup.


“kemarilah…”


pinta Danis dengan melirik ke arah Naina.


Naina hanya bisa menurutinya dan tak bisa menolak. Meski ia banyak sekali menelan air ludah karena gugup akan tingkah laku Danis kali ini.


“bagaimana menurutmu, desain bangunan ini untuk galerimu..?” ucap Danis ambil menunjukkan sebuah gambar di layar monitornya.


Naina menghembuskan nafas lega karena tak ada apapun yang terjadi. Tak seperti yang ada dipikirannya.


Ia mulai lebih mendekat lagi ke arah Danis untuk melihat rancangan bangunan yang dijanjikan kepadanya itu. tanpa Naina sadari, ia ternyata terlalu dekat dengan muka Danis.


“ini sangat bagus ! aku..”


Seketika kata-katanya tersekat saat menatap betapa dekatnya mereka. Jantungnya kembali berdegup tak karuan saat mereka secara bersamaan saling menatap.


“ehmm..bos ini sangat bagus. Ak..aku sangat setuju desain itu untuk galeriku. Ehh..?!”


Wajah Naina terlihat sangat gugup dihadapan Danis dan Danis bisa merasakannya. Ia mengengam tangan Naina ketika Naina berniat menghindar darinya.


Danis masih memegang tangan Naina dan kemudian dia berdiri dari kursinya untuk lebih mendekat lagi kearah Naina yang berusaha mundur menghindar.


Naina sudah membayangkan apa yang akan terjadi dan segera menutup matanya. Dan tanpa disadari, Danis mengatakan sesuatu yang mengejutkan.


“nanti malam, makanlah denganku.” Ujar Danis sambil menatap wajah Naina.


“ehh..?!”


gumam nya yang langsung membuka matanya ketika Danis mengatakan itu.


“ap..apa..? makan malam..?” tanya Naina.


“iya. Aku akan menjemputmu seusai kerja.”


Ujar Danis ambil mengelus-elus kepala Naina dan berlalu begitu dinginnya.


Naina sangat bingung dengan apa yang ia dengar. Tanganya tak bisa berhenti berkeringat dan yang lebih memalukan lagi, ia sempat mengira Danis yang melakukan hal lain kepadanya. Ia akhirnya kembali ke kantornya dan memulai pekerjaannya kembali.


--------


Makan siangnya berasa sangat hambar kali ini. meski yang ia makan adalah makanan favoritnya, seleranya hilang begitu memikirkan perlakuan bosnya kepadanya.


Dengan menyuapkan beberapa potong daging ke mulutnya, Naina yang tertunduk lesu dihampiri oleh gadis yang kemarin.


“boleh kami duduk lagi disini..?” tanya Alisa.


“oh ya. Tentuu silahkan.” Balas Naina.


“Naina ada apa..? apa bos memarahimu lagi..?” tanya Alisa.


“ahh..!! mana mungkin. Katanya bos sangat tertarik pada Naina.” ucap Angela.


Naina yang semula tertunduk lesu menjadi murung ketika mendengar ucapan mereka.


Dia berfikir suatu saat, hal itu akan menjadi gosip diantara mereka dan jadi bahan perbincangan para karyawan dikantor.


“ahh..! kau ini kenapa bicara seperti itu


didepannya..?” bisik Alisa pada Angela.


“Naina. dengar, kami ini temanmu.


Kami percaya kau adalah orang yang sangat baik dan kalaupun gosip itu benar, aku berharap semoga kau bahagia.” Ucap Alisa sembari menepuk pundak Naina.


Naina tak bisa berfikir apapun selain kejadian tadi. Dia sedari tadi hanya membalas ucapan mereka dengan senyuman kecil dan kembali meneruskan makan siangnya.


“semoga saja, sore itu takkan datang.” Gumamanya sembari melihat ke arah langit diluar jendela kafe.


Bersambung