
Setelah semalam ia menginap dirumah sakit, dokter menyatakan Naina boleh kembali pulang. Danis pun mengantarnya kembali kerumah dan memberikan cuti selama 2 hari dirumah.
“istirahatlah dan jangan berkeliaran lagi.” Ucap Danis sambil mencium tangan Naina dengan lembut.
Naina hanya tertunduk canggung dengan perlakuan Danis dan segera keluar dari mobil. Setelah tiba dirumah, Naina langsung merebahkan dirinya dikasur. Keadaan rumah sepi karena Navya sudah berangkat bekerja dua jam lalu.
Tiba-tiba saja, ketika ia melihat pohon didepan rumahnya dan terbesit keinginannya untuk melukisnya. Dengan peralatan seadanya, ia mulai mencorat coret kertas dan kanvas yang masih tersisa di kamarnya. Bahkan meski hari telah sore, ia sendiri begitu menikmati hobinya itu.
"ehh..!? kenapa lukisan ini mirip seperti pria itu ya..?” gumamnya.
“ahh..!! tidak-tidak !
dia bahkan jauh lebih jelek dari lukisanku sendiri.” ungkapnya yang tengah memberi warna pada sebuah lukisan pria berjas.
Saat sedang asyik melukis, Navya pun pulang dengan membwa banyak makanan. Ia sangat senang karena Naina sudah pulang kerumah dan sebagai imbalannya, mereka akan berpesta makan-makan malam ini.
“wahh..enak sekali. Akhirnya kesampaian juga makan ini denganmu.” Ungkap Naina dengan gembira.
“makanlah yang banyak.. jangan sampai sakit lagi.!” Seru Navya sembari menyuguhkan makanan ke hadapan Naina.
Setelah makan, Naina kembali menghadap lukisannya dan merapikan kembali kamarnya yang berantakan setelah dia melukis. Saat melihat kuas berwarna hitam itu, dia kembali terkenang masa-masa SMA nya yang bahagia tanpa ada rasa khawatir. Saat sepi di malam Hari terasa, Naina mulai terlelap sambil mengengam kuas tersebut.
------
“hai, pagi.” Sapa Naina.
“hoamm…pagi. Eh..!? mau kemana kau berpakaian seperti itu..?” tanya Navya.
“ke taman. Aku ingin menghirup udara segar sambil menikmati waktu cuti ku.” Seru Naina yang tengah mengikat tali sepatu.
“hei..kau kan baru saja sembuh ! kenapa tak tidur saja seharian dirumah..?” seru Navya yang masih berantakan sehabis bangun tidur.
“tenanglah. Aku sudah sembuh total. Tak usah khawatir. Baiklah aku pergi dulu.” Pamit Naina.
“iya. Hati-hati “ teriak Navya yang terheran dengan tingkah Naina.
Sebelum ke taman, dia pergi ke toko peralatan alat tulis untuk membeli beberapa warna cat yang habis. Sesaat kemudian, berangkatlah Naina menuju taman di seberang kota. Banyak sekali tanaman yang ditanam disana. Berbagai macam bunga semua ada disini baik itu terlihat kecil maupun besar yang semakin membuat daya tarik pengunjung meningkat.
Tetapi karena hari ini bukan hari libur, jadi keadaan taman sedikit sepi dan hanya terlihat beberapa pengunjung saja. Naina memulai goresan kuasnya sembari duduk di bawah pohon apel. Dia mulai mengambar seorang anak kecil yang bermain dengan ibunya ditaman.
.
.
.
Sesaat setelah mengambar sketsanya, ia kembali merasa pusing yang tak tertahankan. Pemandangan anak dan ibu itu, seolah nampak nyata di ingatannya.
“ukkh.. sakit sekali…” ujar Naina yang tengah memegang sebelah kepalanya.
Dengan cepat ia meminum sebotol air yang ia bawa Dan merasakan sakit itu mereda. Ia meletakkan semua peralatannya dan mengambil nafas panjang seusai kesakitan tadi. Sejam kemudian, ia beranjak dari tempat itu dan mencari tempat lain.
“duduk disini saja ! kelihatannya nyaman.” Gumam Naina dengan duduk dikursi taman yang bersebelahan dengan air mancur.
Saat dengan asyiknya ia melukis air mancur itu, Naina tak menyadari kalau dari kejauhan ada orang yang sedari tadi melihatnya bahkan memotretnya dari kejauhan tanpa dia sadari.
Dengan wajah berseri-seri, pria itu menghampiri Naina yang tengah melukis di samping air mancur.
Naina yang menggunakan gaun berwarna biru pastel yang cocok dengan gaya rambut panjangnya yang dikepang menyamping.
Mata pria itu berbinar melihat Naina yang berpenambilan bak bidadari yang bermata coklat. Pria itu mencoba memberi dia kejutan dengan menutup kedua mata Naina dengan kedua tangannya dari belakang.
“si..siapa ini..?!” ucap Naina dengan khawatir.
Pria itu tetap melakukan triknya dan Naina yang khawatir jika dia penjahat, dia pun menolehnya kebelakang. Naina kaget dengan pria itu.
“kak Rayn..?”
“ehm..maaf mengkagetkanmu. Apa kau sedang melukis..?” tanya Rayn dengan senyumannya itu.
“iya.” Ucap Naina yang masih tak berani melihat wajah Rayn.
“Apa kau sudah sehat..? aku dengar kemarin kau sakit dan..”
“ya. Aku baik-baik saja” balas Naina dengan singkat.
“apa yang kau lukis..? sini, coba kulihat.” Sahut Rayn sembari duduk disamping Naina.
Naina berusaha bersikap wajar dan tak memperdulikan kehadiran Rayn dengan tetap melukis. Tapi sepertinya, Rayn merasakan itu. dan semakin mendekat ke Naina.
“wahh..! kemampuan melukismu masih sama ya..! sangat hebat !” puji Rayn ke Naina dengan tersenyum.
“tapi, bagian ini butuh warna lagi nih..” seru Rayn sembari mengarahkan tangan Naina yang tengah melukis di kanvas.
Naina spontan melepaskan sentuhan tangan Rayn dan mengindar dari nya yang begitu dekat dengan wajah Naina. dan Rayn nampak kaget dengan reaksi Naina tapi hanya membalasnya dengan senyuman manis diwajahnya.
“oh..! apa kau juga yang melukis ini..?” tanya Rayn yang tengah mencairkan suasana tegang diantara mereka sembari menunjuk lukisan Naina yang lain.
“iya. Aku baru saja melukis itu.” balas Naina sembari sedikit melirik ke Rayn.
“kenapa kau melukis ini..?” tanya Rayn yang melihat-lihat lukisan anak dan ibu itu.
“entahlah. Ingin saja.” ucap Naina yang sama sekali tak memandang Rayn.
“Naina, bagaimana kalau kita ditakdirkan..?”
“hmm..?!” ucap Naina yang kaget mendengar ucapan Rayn.
“hahh..sudahlah. lain kali kita akan ditakdirkan bertemu lagi.” Ucap Rayn sembari melambaikan tangan dan pergi.
Naina hanya memandangi dia yang pergi menjauh itu. dengan mengembuskan nafas panjang, ia terdiam sejenak dan menghentikan tangannya untuk melukis.
“huft…apa kau sudah teringat lagi denganku sekarang..? kak rayn..” gumam Naina dengan wajah yang lesu.
Peristiwa itu membuatnya menjadi tak bersemangat lagi dan memilih untuk pulang. Dan siang itu, cuaca sangatlah terik disekitar jalanan kota.
Bersambung…