
Saat kembali ke tempat istirahat, Naina kaget yang melihat Danis tiba-tiba sudah memandangnya dengan tatapan tajam seakan ingin membunuh.
Naina hanya berharap Danis tak melihat kejadian itu. sambil mengalihkan pandangannya, NaIna kembali duduk disebelah Navya dan mengobrol.
“baiklah. Terima kasih semuannya !
besok kita akan lanjutkan kerja kita.” Ucap Rayn yang menutup kerja mereka hari ini.
Senja sore itu tak seperti biasanya dan perasaan Naina mengatakan kalau hujannya takkan turun dalam beberapa bulan ini. dia masih takut untuk masuk ke mobil Danis setelah tatapan Danis kepadanya waktu itu.
begitu semuanya telah masuk kendaraan masing-masing dan berangkat pulang, Naina masih saja berdiri didepan mobil Danis dengan mengengam erat jarinya yang basah karena berkeringat. Danis langsung menghampiri gadis itu.
“kenapa kau tak masuk..? apa kau akan menunggu tumpangan dari pria itu..?” ucap Danis dengan pandangan dinginnya.
“tidak ! hanya saja..aku..”
Danis langsung menarik tangan Naina tanpa memberikan kesempatan padanya untuk berbicara. Dengan kasar dan marah dia mendorong Naina masuk kedalam mobil.
Naina hanya terdiam menerima kemarahan Danis yang kali ini melemparnya ke kursi depan dan segera menyetir mobilnya tanpa melihat ke arah Naina sekalipun. Jantungnya berdegup kencang dan nafasnya terasa sesak saat mobil Danis mengebut dengan cepat dimalam hari.
Naina pun memberanikan diri untuk bicara pada Danis.
“Danis , tadi..sebenarnya aku..” ucap Naina yang masih sulit mengeluarkan kata-kata dari mulutnya.
“Danis apa kau melihat aku tadi..?”
**Ciiitt..**
Danis mendadak menginjak remnya dan Mobilnya langsung berhenti begitu Naina mengatakan hal itu. nampak jelas kemarahan Danis yang tak tertahankan itu.
dia langsung memojokkan Naina didalam mobilnya dan mencengkram dagu kecilnya. Tangan kirinya yang masih mengepal akan kemarahan dan menempelkannya pada kaca mobil sembari berkata pada Naina.
“apa kau puas mempermainkan perasaanku..?
apa kau puas usai bermain-main dengan pria lain..? kau kira aku tak melihatmu, huhh..??!”
“tidak Danis. Kau salah paham. Aku..”
“Naina kau semakin berani ya ! bahkan dihadapanku sekalipun.Kau…harus dihukum untuk itu !” ucap Danis dengan mata yang tajam menusuk dan membuat Naina ketakutan tak bicara.
“tidak ! danis. Aku..”
Danis dengan cepat mencium Naina yang mencoba menjelaskan kepadanya. Dia tak memberikan celah bagi Nain untuk memberontak dan dengan kasar mencium bibirnya tanpa ampun. Dia tak bisa mengendalikan amarahnya dan ciuman itu menjadi sangat liar.
“Danis, jangan..” rintih Naina.
Danis terus saja menciumi leher dan tekuk mulus itu, bahkan sengaja menanggalkan bekas gigitan disekitarnya. Semakin ke atas, dia melihat anting biru yang berada ditelinga Naina dan hal itu membuatnya semakin marah sejadi-jadinya.
Dikepalanya terlihat jelas bagaimana mesranya Naina dengan pria itu. Naina bisa merasakan panas ditelinganya karena Danis menciumi dan mencumbu ditelinganya. Dia hanya bisa mengeluarkan air mata karena tak tahu apalagi yang harus dia perbuat.
“sial !” umpat Danis yang melihat Naina menangis.
Segera Danis melepaskan Naina dan kembali menyetir mobilnya. Dengan nafas yang masih tersengal-sengal sambil mengusap air matanya, Naina masih bisa melihat sisa-sisa kemarahan dari Danis diwajahnya.
Dan tanpa sepatah katapun, ia turun dari mobilnya dan masuk kerumahnya. Naina berusaha mungkin menutupi semuanya namun, sepertinya salah satu bagian lehernya terlihat dan bekas ciuman itu, membuat Navya curiga.
“kau tak apa-apa kan..?” tanya Navya.
“iya. Aku tak apa-apa. Sudah ya..aku mau tidur dulu.” Ucap Naina yang masuk ke kamarnya.
---------
Esok menyambutnya kembali dengan cerita-cerita baru lagi. Didalam hatinya masih dipenuhi tanda tanya akan perasaan yang sebenarnya. Seperti biasa, para karyawan sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Sepagi ini, ia mendapat tugas baru untuk mencari anggota tim baru agar proyeknya berjalan dengan cepat. Tanpa berfikir panjang, Naina menuklis dua nama karyawan baru yang telah dia kenal dan menjadi temannya. Angela dan Alisa.
“kini saatnya untuk menyerahkannya kepada pria itu.”gumam Naina.
Dia pergi menuju ruangan direktur dan disamping ruangannya biasanya ada tempat sekertarisnya yang selalu mengabarinya dulu sebelum masuk.
Tetapi, hari ini. Henry tak nampak disana dan Naina memilih untuk langsung masuk tanpa mengetuk atau mengucapkan apapaun dan disitulah letak kesalahannya. Naina menyesal karena tak memberitahu kalau dia akan masuk.
“oh, ada tamu ya..? kenapa kau tak mengetuk pintu..?”
“ma..maafkan aku. Lain kali aku akan mengetuk pintunya. Aku permisi dulu.” Ucap Naina sembari pergi.
Dia terkejut karena ada wanita lain diruangan Danis dan sedang duduk dipangkuannya sembari merayunya dengan mesra. Naina langsung mengalihkan pandangannya dan pamit keluar ruangan dengan tertunduk. Seharusnya ia senang melihat ada wanita lain yang bisa Danis ganggu. Tapi, tiba-tiba saja, air mata itu keluar bersamaan dengan dia pergi.
“menyingkir dariku !” teriak Danis dengan menepis tangan wanita itu.
“apa dia wanita yang kau sukai..? dia cantik. Tapi sayang sekali, terlalu lemah.” Ujar Wanita itu dengan berlagak mengoda.
“kau tak tahu apa-apa tentangnya.” Ujar Danis yang pergi menjauh darinya.
“oh ya..? kalau begitu, kenapa ayahmu menyuruhku untuk kesini untuk mengodamu..? bukankah dia punya tujuan lain..?” ucap wanita itu yang kembali duduk di kursi Danis.
Danis tak menyangka ayahnya akan merencanakan suatu yang besar untuknya. Dia seharusnya tahu dari sebelumnya kalau ayahnya akan mengirim Selena, temannya diluar negeri untuk menganggu kehidupannya disini.
Bersambung…