
Seusai dari dapur, Naina melangkah pergi ke kamarnya dan membersihkan tubuhnya dari bau masakan. dia bersiap akan pergi lagi mengunjungi kantornya, mencari tahu akan bukti lain tentang kasusnya.
Tak disangka seusai Danis menyelesaikan makannya, dia dikunjungi oleh tamu tak diundang. yang bahkan, dia sendiri terheran. Bagaimana orang itu bisa menemukannya ditempat tinggal Naina.
dia baru saja sadar, kalau ayahnya itu, bukanlah orang yang bisa diremehkan. Banyak gerak-gerik Danis yang selalu terpantau olehnya. Dia hanya membuka pintunya dan bahkan tak menyapanya sekalipun ayahnya masuk ke dalam rumah itu.
“Danis, mana gadis itu !”
“ayah, sebaiknya ayah harus berhenti membicarakannya dia..”
Naina turun begitu mereka sedang membicarakan suatu hal. ia melihat kedua pria itu saling beradu pandangan dan diikuti aura kemarahan. Naina tahu, kalau ini saatnya dia berakting dan harus menjalankan rencananya kembali.
“ayah, kau datang kemari ! silahkan duduk.” Ucap Naina dengan mengandeng lengan Danis dan tersenyum dengan riang.
Beberapa saat, Naina meninggalkan mereka berdua sedang duduk diruang tamu. sementara dia akan mengambil minuman. Sesampainya Naina menaruh minumannya dan duduk diantara mereka disana, John Asher tak ingin membuang-buang waktunya lagi dan langsung membicarakan kepentingannya.
“Naina, aku kemari untuk memintamu kembali kerumah kami. Karena kau adalah menantu keluarga Asher, maka kehadiranmu sangat dibutuhkan disana.” Ujar John.
Danis menggepalkan tangannya dengan erat dan menggertakkan giginya. Dia sama sekali tahu dengan jelas rencana macam apa yang akan dilakukan oleh ayahnya.
Tetapi, Naina tak sabar akan ajakan ini, dia harus secepatnya pergi ke kediaman Asher dan membuktikan kebenarannya. Dengan senyum yang menyeringai, Naina menyetujuinya dan ikut kembali kerumah mewah itu.
ketika Naina berdiri, Danis mencegahnya dan berkata dia sama sekali tak setuju kalau harus kembali kesana.
sekali lagi, dia membujuk Danis dan berkata hanya untuk menyenangkan hati ayahnya. Padahal semua itu, tak seperti yang ada.
.
.
.
.
.
Sejam perjalanan, sampailah ia dikediaman itu lagi. Dan Danis, tak bisa mengantarnya lagi dikarenakan rapat yang tak bisa dia tunda. Tetapi, Naina sudah berjanji padanya akan baik-baik saja dan tak membuat dirinya terlibat dalam masalah lagi.
Dia melewati sebuah aula yang besar dengan berisi beberapa lukisan dan barang-barang yang mahal dan mewah. Samar-samar, dia sedikit familiar dengan salah satu diantaranya.
“ini..bukankah lukisan ini ada sesaat sebelum aku masuk rumah yang besar waktu itu bersama orang tuaku..? berarti kali ini, aku tak salah berfirasat. John Asher adalah pelakunya !” gumam Naina.
“oh Naina ! ya ampun sayang, akhirnya kau kembali lagi setelah kejadian itu ! katakan, bagaimana keadaanmu dan cucu ibu ini..?” ucap Aneta sembari datang memeluk Naina.
“em, baik.” Ucap Naina dengan menganggukkan kepalanya.
Dia dibawa oleh mertuanya menuju dapur untuk mencicipi sedikit masakannya. Masakan yang hangat dan juga sup dengan kuah yang kental. Benar-benar menggugah selera makan Naina.
“makanlah selagi hangat !” ucap Aneta dengan tersenyum.
Seusai makan, Naina kembali ke kamar tidurnya yang semula diatas. Tetapi, saat melewati ruangan disebelah tangga, matanya menjadi tertarik dengan sebuah ruangan yang mirip dengan ruang kerja.
Sembari memelankan langkah kainya, dia masuk dan menutup kembali pintu dari ruangan tersebut.
“ini pasti ruangan orang itu !” gumam Naina.
Tanpa menunggu waktu yang lama, dia segera mengobrak abrik, mencari kesana kemari sesuatu yang ada kaitannya dengan masa kecilnya juga keluarganya.
Sampai, dia menemukan kontrak dan dokumen yang hilang. Dengan girang ia memeganginya sembari tersenyum. tetapi, ruangan yang semula gelap mendadak terang oleh lampu yang dinyalakan seseorang.
“kejutan yang tak terduga ya..? nona, Barsha..?”
Naina terkejut dan takut kalau dia telah ketahuan. dia sama sekali tak berfikir John akan menggunakan ruangan ini untuk menjebaknya.
Naina hanya terdiam sembari terus mundur kebelakang. suasana mencekam itu, membuat Naina berfikir kalau dia akan habis saat ini juga ditangan John yang semain melangkah maju dan dia semakin mberjalan mundur. Sampai punggungnya membentur rak buku.
ketakutan Naina semakin bertambah dan dokumen yang dia pegang, terjatuh berhamburan ke lantai. Melihat tatapan membunuh John itu, membuatnya untuk memejamkan matanya.
“kini kau baru sadar kalau kau dalam bahaya bukan..? jadi, kalau kau masih ingin nyawamu tetap utuh, aku sarankan agar kau.. menjauh dari anakku juga keluargaku !” ucap John dengan mencekik leher Naina.
Kemarahan dan kuatnya cengkraman itu, membuat Naina pasrah akan nyawanya dan nafasnya yang amat terhimpit. Dia tak kuat lagi melawan dengan kekuatan tangan John.
“dad, stop it !”
Danis datang dan langsung menghentikan ayahnya. John segera melepaskan gegengaman tangannya usai tahu Danis berada di didepan pintu dan Naina langsung tersungkur sembari memegangi lehernya yang terasa sakit.
Melihat Naina terjatuh dilantai, Dengan segera Danis menghampiri Naina yang masih terbatuk dengan nafasnya yang tercekik.dia memegangi kedua pundak wanita itu sembari membantunya berdiri. rasa kesal dan bencinya jadi makin tak tertahankan lagi.
“ayah, kurasa kita harus membicarakan ini lebih serius lagi !.” seru Danis dengan lirikan yang tajam pada ayahnya.
John semakin gusar dengan Danis yang mengagalkannya usahanya. Ia berharap, wanita itu bisa mendengar kata-kata dan memahami tentang peringatannya. Dia kini tahu, jika dia langsung menyakiti wanita itu, Danis juga tak segan untuk berkorban demi dia.
Disamping tangga, Naina masih terseok dan sulit untuk berjalan karena tenaganya sudah terkuras habis dengan semua perlawanannya tadi. Nafasnya masih saja sesak dan sulit untuk diatur.
Melihat itu, Danis menjadi tak sabaran dan langsung menggendongnya naik menuju ke kamar atas. Naina hanya terdiam dengan perlakuan Danis. Dan tangannya terus saja saling mengengam, tak berani merangkul bahu Danis.
“bukankah sudah kukatakan tentang ini..? kenapa kau tak patuh dan keras kepala..!?” ucap Danis yang mendudukkan Naina diatas kasur.
“mm..maafkan aku, aku tak tahu kalau..”
“cukup ! aku tak ingin tahu apapun dari mulutmu. Dan sekarang, kau hanya akan menuruti perintahku. Paham..?” ucap Danis yang tengah bingung dengan wajah yang lelah.
ini bukanlah hal yang diinginkan oleh Naina sebelumnya.
Bersambung…