Story Under The Rain

Story Under The Rain
The sanders



Pagi hari, mata Naina masih sulit terbuka karena betapa bengkaknya kantung matanya akibat tangisannya. Dia segera membasuhnya dengan air hangat dan bergegas keluar, menyapa Navya sebelum dia berangkat ke kantornya.


“hai Nai ! pagi.” Sapa Navya dengan ceria.


“pa..pagi..”


Naina heran dan terkejut dengan Navya yang tak pergi bekerja dan malah berpakaian bak akan pergi bertamasya.


Dengan banyaknya tas dan koper yang berada dibelakangnya, Naina curiga kalau dia akan pindah atau pergi ketempat lain. Dengan masih mengucek matanya, Naina bertanya padanya.


“untuk apa koper-koper dan tas itu.?” tanya Naina.


“tentu saja untuk berlibur..!”


“ap..apa?! apa kau bercanda..?”


“ehh, aku tak bercanda. Sekarang cepat, ganti bajumu yang ada dilemari itu dan bergegaslah.” Ucap Navya yang mendorong Naina masuk kekamarnya.


“tapi, untuk apa kita pergi berlibur..? bukankah..”


“sudah ! jangan banyak tanya ! cepat bersiaplah..”


Navya dengan wajah yang sumringah itu, berusaha mengibur dan meyakinkan Naina dengan perhatian lebih.


Naina hanya bisa menurutinya pergi ke kamar mandi dan segera bersiap. Beberapa saat kemudian, selesailah dia dan segera pergi keluar. Dengan memakai pakaian kemeja coklat panjang dan celana crem selutut, Naina mendatangi Navya yang telah siap disamping mobil taksi yang dia pesan.


Kendaraan itu pun melaju mengangkut kedua wanita itu ke bandara. Naina berusaha mungkin bertanya akan kemana mereka pergi kepada Navya.


Dan Navya, hanya menjawab kalau Naina harus pergi keluar kota sampai keadaan disini aman dan berita itu hilang dengan sendirinya. Entah karena apa, Naina berfirasat kalau Navya punya rencana lain selain membawanya ke luar kota.


Perjalanan mereka pun sampai saat dibandara. Segera, mereka berdua check in pesawat dan menikmati perjalanan mengudara mereka.


.


.


.


.


.


4 jam lebih perjalanan, akhirnya mereka sampai dikota S. kota yang berada didataran tinggi itu, menyambut hangat dengan udara sejuk dan suasana yang rindang nan asri.


Seusai dari bandara, keduanya segera menuju ke villa yang telah dipesan Navya. Yang sebenarnya, telah dipersiapkan Danis. Siang hari disana sangat tak kentara dengan sejuknya suasana dan pemandangan perbukitan.


Naina sampai harus menggunakan jaketnya yang berwarna serasi dengan celanannya agar dia bisa bertahan dengan suhu yang ada disana.


“bagaimana..? disini sangat indah kan..?” ucap Navya sembari tersenyum gembira.


Naina hanya memandangnya tanpa senyuman dan bekas kantung matanya, masih terlihat disana. Navya kembali menariknya pergi, membawanya berjalan-jalan disekitar taman villa yang penuh dengan aneka buah dan bunga.


“ayolah Nai, hilangkanlah sedihmu..ya..? demi aku. Ku mohon.! Aku kan tak pernah sekalipun datang kemari bersamamu.


Jadi, bisakah kau melakukan ini untukku..?” pinta Navya sembari mengengam telapak tangan sahabatnya itu.


“ehm, iya ! tentu !” jawab Naina yang senyumannya telah kembali merekah.


Mereka berdua sangatlah menikmati suasana dan pemandangan yang ada. Sambil berfoto ria kesana kemari, tak terasa jika kesedihan Naina telah usai.


.


.


.


mereka berdua menyewa kendaraan lagi untuk pergi berbelanja ke pusat oleh-oleh disana. Navya lega, jika diwajah Naina sudah tak lagi terlihat ada duka dan kesedihan lagi. Ia terus tersenyum sembari sesekali bercanda bersama Naina. keduanya, benar-benar terlihat bahagia tanpa beban sekalipun.


“selamat datang ditoko barang antik kami..!”


Sambut salah satu penjaga toko yang mereka kunjungi.


Ini pertama kalinya bagi Naina untuk melihat-lihat barang-barang tua yang langka dan penuh makna ini. mereka berdua berpencar untuk melihat-lihat benda yang ada disana.


“pria yang malang..” ucap salah satu penjaga toko yang agak terlihat tua.


Naina baru saja ingat kalau nama ‘Sanders’ tak asing baginya. Yaitu, tempat dimana ayahnya dibunuh. Tangannya masih saja kaku sembari menyentuh kaca dari tempat tempelan berita tersebut. Dan pria itu, malah menceritakan kejadian yang tak ia ketahui dan tak ingin dia ketahui.


“pada suatu malam, kami pernah bertemu disalah satu bar dikota dan sempat minum bersama.


Dia mengatakan, kalau hidupnya takkan lama lagi karena dia tengah jadi incaran orang saat itu.


pada dini hari, aku melihatnya pergi dari mobilnya menuju ke arah pegunungan. Itulah saat terakhir aku bertemu dengannya..” ucap pria itu dengan nada sedih dan sambil mengingat ingat.


Naina tahu, pasti Navya ada maksutnya membawanya kemari. Ia tanpa sadar telah meneteskan air matanya. dengan segera ia mengusapnya dengan tangan kanannya dan kembali bertanya demi menemukan jawaban atas dugaannya.


dia bertanya kepada orang itu, siapakah pria yang menjadi korban pembunuhan di pegunungan Sanders.


“nama orang itu, jika aku tak salah ingat adalah Brian. Brian Barsha !”


Bibirnya bergetar hebat ketika mendengar perkataan pria itu. air mata mengalir deras dipipinya. Membasahi kantung mata yang tadinya mereda dan kembali rusak oleh air mata itu.


Naina bergegas pergi dari sana, berlari sekencang mungkin untuk kembali. Navya terkejut dan mencoba mengejar langkah Naina yang sangat cepat.


“tidak ! lepaskan !” seru Naina yang menepis gengaman tangan Navya.


“Naina aku mohon, jangan seperti ini !”


“Nav, sekarang aku tahu apa maksutmu membawaku kemari ! kau ingin aku tahu mengenai kisah kematian ayakuku bukan..? hah !!”


Navya tertegun dengan apa yang barusan dia dengar. Di tak tahu menahu jika orang tua Naina meninggal ditempat ini.


sedangkan tempat ini, adalah tempat yang Danis suruh untuk pergi berlibur dengan Naina. Navya berusaha menenangkan Naina dan kembali menutup mulutnya sebelum Danis datang.


“Nai, istirahatlah. Kita akan bicarakan ini esok.”


Naina merangkak kembali menuju kasurnya. Dia dan Navya tidur dikamar yang terpisah dan malah membuatnya dirundung perasaan canggung karena kesalah pahaman tadi.


Sambil meringkuk didalam selimut, Naina berusaha untuk berfikir dengan apa yang telah terjadi.


Didalam pikirannya, secara logika Navya tak mungkin bisa mengajaknya kemari jauh-jauh dan menyewa villa yang bagus dengan penghasilan yang dia dapat. Sementara, dia masih belum bisa melunasi hutangnya. Satu-satunya kemungkinan, hanyalah Navya dipaksa seseorang untuk membawanya kemari.


Tetapi, siapa. Apa itu ayah Danis..? atau Danis sendiri, itu masih jadi persoalannya. Pemikirannya itu, membuat Naina tertidur dengan cepat.


------


*aku..dimana aku..? siapa itu..? apa itu ayah..?”


Samar-samar, Naina melihat seorang pria tengah berjalan sendirian kemudian mengendarai mobilnya menuju ke pegunungan.


Disana, ada seorang pria yang melambai dan tampak meminta tumpangan. Namun, tanpa diketahui, justru pria itu tertipu dan terbunuh dimalam itu.


“aku..aku mohon. Jangan bunuh aku ! putriku masih membutuhkan ku..”


**jleebb**


Sebilah pisau menusuk dada pria yang telah babak belur di ujung jurang. Mimpi Naina sangatlah terlihat jelas seperti nyata. Ia membuka matanya yang sedari tadi sulit untuk bangun.


Keringat dingin disekujur tubuhnya membasahi pakaiannya dan kasurnya. Dilihatnya keluar jendela, hari masih gelap.


~


pukul 4 pagi tepatnya. Dan dia takkan bisa tidur lagi selepas mimpi itu berada diwaktu tidurnya.


Naina memilih berjalan keluar menuju taman dan duduk dibangkunya.


Sembari terus memegangi kedua pundaknya karena cuaca dingin, dia menarik nafasnya dalam-dalam dan menstabilkan pernafasannya sebab mimpi buruknya. Mungkin mimpinya itu, adalah pertanda kalau dia harus segera melakukan balas dendamnya.


Tapi hatinya, berdenyut keras begitu mengingat kalau John Asher, adalah ayah dari Danis.


Ada sedikit kecewa juga rindu karena seusai peristiwa tersebarnya berita itu, Danis sekalipun tak pergi menjenguknya.


Bersambung..