Story Under The Rain

Story Under The Rain
Rayuan iblis



***


3 hari menjelang kedatangan Danis, Naina dengan semangat menyiapkan segala perayaan untuk menyambutnya dengan meriah.


Sedari tadi pagi, dia sibuk mengatur dan memesan beberapa barang yang dia perlukan untuk menghias ruangan agar nampak seperti pesta kecil untuknya.


Rambut kuncirnya, masih saja membuatnya gerah akibat dirinya yang mondar-mandir menata setiap detail ruangan. Keringat bercucuran mengalir deras dari wajah mulusnya yang tak terlihat lelah sedikitpun. Dengan telaten, dia menata hiasan diatas meja.


“hahh..akhirnya selesai juga !” ucapnya yang menghela nafas sembari mengelap keringat didahinya.


**kring..kring..**


Bunyi ponsel dari celana jeansnya membuatnya kaget dan segera mengangkat telpon tersebut. Dengan nafas yang masih tersengal-sengal, ia memulai kata salamnya.


Nafasnya tersekat diantara kerongkonanya, saat mendengar pamannya mengatakan bahwa bibinya sudah bebas dari penjara. Entah dia harus bahagia atau sedih, tetapi Naina menjawab akan memenuhi undangan pamannya untuk pergi ke kediamannya.


Seharusnya, bibinya takkan marah dan bisa menyesali perbuatannya selama dipenjara. Harapan Naina, saat sampai disana bibinya akan memaafkannya dan berubah menjadi lebih baik lagi. Naina segera bersiap-siap dan mengganti pakaiannya dengan cepat.


------


Udara pada pagi menjelang siang ini, agak berbeda dari sebelumnya. Terasa angin menerpa tiap helaian rambutnya dan meniupkan beberapa debu dimatanya yang membuat matanya perih. Naina yang menenteng beberapa hadiah untuk kepulangan bibinya, sedikit kewalahan saat ditambah jalanan yang sedikit ramai saat itu.


*tok ! tok ! tok !


Ketukan pintu itu, begitu lama dia lakukan. Hampir lebih dari 3 menit dari terus saja mengetuknya. Tak lama, suara deritan pintu kayu mengugahnya dan segera memandang ke arah pintu itu.


Naina masih saja memasang wajah tersenyumnya saat tahu, bibinya merengut sebagai pertanda akan ketidaksukaannya saat dia datang.


“masuk !”


“terima kasih bi..”


Dengan bertingkah sangat baik, Naina pun masuk kedalam rumah itu. didalam, tak terlihat sedikitpun keberadaan mengenai pamannya.


Lirikan mata Naina yang menjuru kesana kemari, membuat bibinya risih dan dengan kasar menjawab mimik wajahnya yang seperti itu tadi.


“paman tidak ada disini ! dia sedang ada urusan bisnis dengan orang lain !” ungkap bibi Susi dengan nada tinggi.


“oh..begitu ya..” balas Naina dengan menundukkan kepalanya seusai tahu ekspresi kesal dari bibinya.


“coba kulihat kau membawakanku apa..!?”


Bibinya langsung menarik tas plastik berisi beberapa buah dan makanan itu. satu persatu dia keluarkan paksa dengan wajah yang meremehkan. Naina sedari tadi gugup akan apa yang terjadi selanjutnya.


“dasar tak berguna ! kau hanya membawakanku ini..? apa kau kira aku baru saja keluar dari rumah sakit ?! hah..?!”


“aduh.. ! bibi..”


“kau ini anak tak tahu diuntung ! kau sudah aku besarkan dengan susah payah dan sekarang kau malam memenjarakanku di penjara yang kejam ! apa kau masih pantas menghadap wajahku lagi..?! hah !”


“bibi..ampun..maafkan aku..aku tak bermakusd seperti itu. aku..”


“sudahlah ! pergi saja sana ! aku muak dengan wajahmu lagi ! lain kali, jangan berharap kau akan diterima dirumah ini lagi. dan jangan berani kau mengadu pada kekasih bajinganmu itu ! pergi sana !”


Naina tersungkur dilantai seusai bibinya meleparnya dengan amarah. Naina berusaha bangkit dengan bercucuran air mata dan pergi dari sana. Dia kira, takkan ada hal lagi yang membuat hatinya hancur. Tapi kini, dia malah membuat bibinya semakin membencinya lagi.


Diusapnya air mata yang sedari tadi bertengger diujung matanya dengan kedua lengan bajunya. Semoga saja, pamannya masih bisa berbuat baik padanya meski bibinya semakin membencinya.


Langkah kakinya begitu lambat diikuti raut wajah yang tak lagi ceria itu. didepan sebuah kafe minuman, ada sesorang yang bertengger dibawah pohon. Mencegatnya dan ingin memberitahu sesuatu kepadanya.


Inginnya dia menolak tetapi, wanita itu begitu bersikukuh dan memohon untuknya. Dengan anggukan kecil, Naina mengikuti ajakannya dan mereka pun memilih mengobrol di kafe tadi.


Sebelum memulai percakapan mereka, wanita itu memesankan beberapa minuman sebagai teman mengobrol mereka. Dalam hati, Naina masih bertanya-tanya tentang siapa dan apa tujuan dari wanita yang berada dihadapannya.


Akhirnya, saat yang ditunggu Naina telah tiba. Wanita itu mengutarakan maskudnya sesaat setelah minumannya datang. Dengan santai, Naina juga mengambil minuman yang telah dipesankan untuknya dan meminumnya sembari mendengarkan wanita itu berbicara.


“kau pasti sebelumnya tak mengenalku. Tetapi, ada suatu kebenaran yang harus kau ketahui. Namaku Luna. Dan aku adalah manajer pengganti dari proyek baru di perusahaan Danis..”


Sembari meletakkan gelas minumannya, Naina melirik ke wajahnya yang nampak begitu cantik dan polos itu. tak ada sedikit pun keraguan yang terlihat di matanya. Nampak berani tetapi memendam sejuta misteri.


“lalu, apa hubungannya denganku..?” tanya Naina.


Luna tak menjawabnya dan diam beberapa saat. Tiba-tiba saja, air matanya keluar tanpa suara isakan apapun. Tangan merogoh ke dalam tasnya seperti tengah mengambil sesuatu.


Naina merasa gugup dibuatnya saat tangisannya sama sekali tak mengeluarkan suara.


“aku hamil anak Danis. Dan ini, adalah bukti saat dia memperkosaku..”


Matanya terbelalak tak percaya. Mulutnya menganga lebar meski telah ditutupi oleh tangan mungil Naina. air matanya tertahan dan bibirnya tak bisa bereaksi apapun begitu melihat foto-foto kemesraan Danis disebuah kamar hotel bersama wanita itu.


akalnya mencoba untuk menampik semua fakta yang tersajikan didepannya dan mencoba mendorong mulutnya untuk berbicara.


“tidak..! kau..kau..pasti salah orang. Danis dia takkan seperti itu. dan dia sedang berada diluar negeri ! dia..”


“nona..aku sudah hamil 1 bulan lebih! Jika kau tak percaya.. kau bisa memegangi perutku..! kau bisa lihat hasil tes DNA dan USG nya ! ini benar-benar bayi yang tak berdosa nona..”


Naina benar-benar tak percaya Danis melakukan itu selain dengan dirinya. dia selalu bilang, takkan bisa lepas dan berpaling darinya.


Tetapi, melihat wanita yang terlihat baik itu menangis dengan kesedihan beserta bukti-bukti yang ada, kepercayaannya menjadi goyah dan rasa sakit dalam hatinya tumbuh kembali.


Rasa sakit, yang sudah dia pendam. Kini terasa kembali di kehidupannya.


Bersambung..