Story Under The Rain

Story Under The Rain
Rahasia Navya



Begitu selesai bertengkar, Danis membantu Navya berdiri dan membawanya pergi dari situ. Naina yang menghetahui hal tersebut, segera mengejar mereka berdua. Danis membawa Navya ke sebuah koridor sepi dan hanya ada mereka berdua. mereka pun terlibat percakapan yang tak diketahui oleh siapapun.


“bukankah sudah kubilang, kau tak usah kembali kemari lagi.” Ucap Danis yang duduk dihadapan Navya yang masih menangis.


“nggak Danis. Aku masih butuh uang untuk melunasi hutang orang tuaku. supaya para penagih itu tak datang ke rumahku.” Ucap Navya sembari mengelap air matanya.


“apa kau tak khawatir rahasiamu ini terbongkar..?” tanya Danis.


“ohh..?! rahasia..?!! rahasia apa..?”


Mereka dikejutkan dengan kehadiran Naina yang tiba-tiba saja muncul dengan berkata seperti itu. seketika itu mulut mereka bungkam tak bisa berkata apapun. Dan Naina semakin marah dan langsung menghujaminya dengan berbagai pertanyaan.


“Nayva, kenapa kau ada ditempat seperti ini..?Navya, Navya jawab ! kenapa kau disini..?! kenapa kau berpakaian seperti ini..?


dan kenapa pria ini bersamamu..?” tanya Naina sembari mengoyang-goyangkan bahu Navya untuk mendesaknya menjawab semua pertanyaan itu.


“oh..?! apa pria ini yang mendesakmu..? apa pria ini yang menjualmu kemari..? ayo jawab !" teriak Naina dengan jari yang menunjuk ke muka Danis.


Navya hanya menahan air matanya tak bisa mengucapkan kata apapun, hanya mengeleng-geleng kepalanya yang menjadi isyaratnya. Hal itu membuat Naina kehilangan kesabarannya dan langsung menampar Danis.


“tidak ! Naina hentikan ! dia tak bersalah. Aku yang bersalah.” Sahut Navya dengan menangkis tangan Naina.


Tangan Naina langung turun seusai mendengar ucapan Navya. Sebelumnya ia akan menampar pria itu berulang kali jika dia terbukti bersalah. Namun, perasaannya mengatakan kalau dia sedang di khianati.


“Naina, duduklah aku akan menjelaskan semuanya.” Ucap Navya.


Mereka akhirnya duduk saling berhadapan dan Navya mulai menceritakan semuanya. Kalau pada awalnya, dia bingung harus bekerja apa karena uang dari penghasilan menjadi pelayan dikedai tak bisa mencukupi biaya berobat untuk orang tuanya. dan akhirnya dia terpaksa untuk mengambil pekerjaan malam ini sebagai pelayan minuman karena bayarannya yang tinggi.


namun nyatanya, pekerjaan itu masih belum cukup baginya meski akhirnya dia jarang pulang dan terkadang pulang sangat pagi. Sampai akhirnya, ia bertemu Danis.


Naina mendengarkan itu dengan sangat sedih dan kecewa. kenapa Navya selama ini tak meminta bantuannya untuk mencarikan pekerjaan yang lebih baik dari ini.


Naina merasa sangat terpukul setelah mendengar penjelasan dari Navya bahwa dia sengaja menyuruh Naina untuk masuk ke perusahaan Blue enterprises atas permintaan ayah Danis. Dia dijanjikan hutangnya akan terbayari semua jika Naina berhasil masuk ke perusahaan itu.


“dan..untuk galerimu itu, bukan Danis yang membakarnya. tapi aku.”


“apa..!?”


Navya mengaku akan dibayar mahal jika dia berhasil membakar galeri milik Naina dan membawa berita palsu kepadanya seakan-akan Danis yang membakar galeri itu. yang mana aslinya, Navya yang menyuruh seseorang untuk membakarnya.


Dan untungnya, Danis menghetahui kalau apa yang dilakukan Navya adalah perintah dari ayahnya yang mencoba menghancurkan kehidupannya. Dia berusaha agar Navya bisa terlepas dari gengaman ayahnya. Dan Danis berfikir kalau target sebenarnya dalam rencana ayahnya adalah dirinya sendiri.


Naina hanya diam meski penjelasan Navya telah usai. dia tak menyangka kalau sahabatnya yang sudah lama dia kenal, tega melakukan semua ini hanya karena iming-iming uang. Naina pun berdiri dengan wajah yang kecewa.


“Navya, apa hanya karena uang saja kau tega melakukan itu padaku..?” tanya Naina dengan sedih.


“Naina aku tahu aku pecundang. Aku mohon maafkan aku..”


“diam ! aku… aku tak menyangka kau bisa sekejam ini.” ucap Naina dengan menahan rasa sakitnya sembari menangis.


“Naina..kau harus menghukum ku...


aku memang jahat. Aku tak pantas menjadi sahabatmu lagi..” ucap Navya sembari mencoba mengengam tangan Naina tetapi, Naina selalu menangkisnya.


“Nav, sekarang pun. Kau bukan sahabatku lagi.” Ucap Naina sembari pergi.


Dan Danis tak bisa mencegah Naina yang telah pergi dengan berlinang air mata itu. ia sendiri masih bingung bagaimana mengatasi masalah yang telah dibuat oleh ayahnya itu.


Naina menangis sejadi-jadinya dirumah. Dengan terduduk dilantai kamarnya, ia mengingat jelas bagaimana perjalanan dan keseharian mereka sebagai teman baik. Mereka selalu minta maaf tak perduli itu salah siapapun. Mereka berdua selalu bertukar cerita dalam hal sepele apapun.


Namun, dewasa kini yang semakin banyak masalah. Malah menjadikan persahabatan mereka terasa sulit kemudian hancur dengan sendirinya karena pengkhianatan. Terlalu banyak yang tak bisa dikatakan dengan jujur. sehingga menjadi bomerang tersendiri bagi hati mereka dan melukai yang lain.


Naina melihat foto dua gadis yang terlihat sangat ceria dan bahagia itu sambil menangis. Dan apa yang barusan terjadi, membuatnya pergi dari rumah ini. dan tak ingin Navya yang pergi dari sini. Ia segera mengemasi semua barang-barangnya dan keluar.


“Navya, lebih baik aku saja yang pergi. Aku masih saja tak percaya dengan apa yang terjadi pada malam ini..” gumamnya sembari menutup pintu dan berjalan keluar.


Bahkan saat diluar angin malam terasa sangat menyiksanya. Ia tak tahu harus pergi kemana dengan uang yang seadanya.


Naina memutuskan untuk tetap berjalan meski tanpa tujuan. Kepalanya tiba-tiba terasa sangat pusing dan akhirnya dia jatuh pingsan.


Bersambung…