
“sudah selesai mengobrolnya..? kalau begitu aku akan pergi kekantor.”
“tu..tunggu Danis. Tak bisakah, aku juga ikut pulang..? aku mohon..” ucap Naina sembari memegangi ujung jas milik Danis.
Danis kemudian membalikkan badannya dan menghela nafasnya sembari berkata pada Naina.
“tidak ! selama keadaan belum aman, kau tak kuperbolehkan pergi ke manapun tanpa izinku ! dan aku akan memperketat keamanan dikamarmu ini dengan beberapa penjaga didepan pintu dan disekitar rumah sakit ini.” ujar Danis yang kemudian pergi meninggalkan ruangan Naina.
Tak ada yang bisa Naina lakukan selama Danis pergi selain memainkan ponselnya, menonton tv, hari-harinya sangat membosankan karena dia lebih suka beraktifitas banyak diluar.
“dasar kejam ! kenapa dia selalu mengekangku seperti ini..? dan bodohnya aku juga menuruti kata-katanya.! Sial ! aku merasa bosan sekali..” ucap Naina yang kembali duduk diranjangnya.
Sedari tadi, dia hanya berbaring sembari memainkan ponselnya sampai siang hari dan akhirnya dia tertidur.
Tiba-tiba saja, suara langkah kaki terdengar dari kejauhan. Entah itu mimpi atau bukan, tetapi ia seperti mengenal sosok itu. dan saat Naina membuka matanya, ia terkejut.
“Na..Navya..?” batin Naina.
“hai. Nai..aku..aku kemari untuk menjengukmu. Bolehkah aku duduk..?” tanya Navya.
Naina yang wajahnya masih kaget dengan kehadirannya, kemudian mempersilahkannya duduk dikursi samping ranjangnya. Dia terus memandangi Navya dari bawah sampai atas. Seakan-akan tak percaya kalau Navya sudah hadir didepannya. Dengan mendunukkan pandangannya, Navya berusaha mengucapkan kata-kata pada Naina.
“Nai, maaf aku kesini tanpa mengabarimu dulu. Kau pasti terkejut dengan kehadiranku. Kalau begitu, aku pergi dulu..”
“tidak ! Nav, jangan. Jangan pergi.” Ucap Naina sembari memegangi tangan Navya yang mencegahnya tuk pergi.
Navya pun membalikkan badannya ke arah Naina dan duduk kembali. Tangannya sedari tadi berkeringat dan berfikiran kalau dia akan segera dimarahi, dimaki atau bahkan diusir dari sini atas kesalahannya dulu.
Tetapi, di pikirannya tak seperti apa yang ada saat Naina memegangi tangannya dan berkata padanya.
“Nav, aku justru sangat mengharapkan kunjungan darimu. Aku malah senang karena kau kemari..” ucap Naina.
Navya terdiam dan air matanya keluar begitu saja disaat dia mendengar perkataan temannya itu. ia juga tak bisa menutupi kalau sangat merindukan sosok Naina disampingnya.
Navya menangis sejadi-jadinya dan Naina langsung memeluknya. Dia memang gadis yang sedikit cengeng tetapi, ia sama seperti Naina tak begitu pintar dalam menyembunyikan perasaan mereka.
Suasana haru tercipta begitu saja saat itu. dua teman yang saling berpisah, akhirnya bisa berdamai dan berpelukan kembali. Sesaat kemudian, keadaan sudah menjadi lebih baik dan Navya mulai bertanya pada Naina.
“jadi, bisakah kita berteman kembali..?”
“tentu. Tentu saja ! kenapa tidak !?” ucap Naina semberi memeluk Navya lagi.
Begitu setelah nya, obrolan mereka pun dimulai dari hal yang sederhana. Sembari Navya mengupaskan buah untuk Naina, ia pun bertanya padanya. Dan pertanyaan itu cukup sulit dia utarakan jawabannya kepada Navya.
“jadi, apa alasanmu menikahi Danis..? bukankah kau membencinya saat itu..?”
Naina langsung berhenti mengunyah makanannya dan menaruhnya kembali. sangat sulit untuk mengatakan kepadanya kalau ini adalah sebuah rencana. dan jika ia tahu, mungkin Navya mengira ini adalah rencana yang konyol.
“apa Danis yang memaksamu..? atau kau sudah jatuh cinta padanya..?”
Naina benar-benar terdiam dan hanya memandangi wajah Navya sesekali, kemudian kembali berpaling.
“baiklah. Tak apa jika kau tak ingin menceritakannya. Kau bisa menceritakannya padaku lain waktu. Aku pasti sangat menghargai keputusan yang kau buat saat ini.”
“terima kasih Navya."
Balas Naina sembari tersenyum dan memegang tangan Navya yang berada dipundaknya.
“tapi, jika kau dalam kesulitan atau masalah apapun, aku janji ! aku akan siap membantumu.” Ujar Navya sembari mengacungkan jari kelingkingnya.
“haha..baik. baiklah aku juga.” Ucap Naina dengan tertawa.
“oh ya. Ngomong-ngomong, dari mana kau tahu kalau aku dirawat disini..?
bukankah diluar sana terdapat banyak penjaga..? bagaimana kau bisa masuk..?”
“ehm..itu..karena, Danis yang mengabariku dan menyuruhku untuk menemuimu. Jadi, aku bisa kemari sekarang.” Terang Navya dengan gugup.
“Danis..?!”
“iya. Dia bilang, mungkin sudah saatnya kita untuk berbaikan dan melupakan semua masalah kita. Lagi pula, katanya kau bosan disini sendirian. Jadi, dia memintaku menemanimu selagi dia masih bekerja dikantor.” Ujar Navya.
“apa..? bagaimana dia bisa tahu kalau aku bosan..? apa jangan-jangan selama ini..dia memantau ku..?!!” Batin Naina.
Naina segera melihat kesekitar ruangan dengan berjalan-jalan dan mencari dengan teliti. dan benar saja. Ada banyak kamera tersembunyi yang dipasang Danis di seluruh sudut kamar. Setengah kesal dan marah, Naina tak terima kalau dia memantaunya diam-diam.
“dasar ********..” gumam Naina.
“eh..?! Nai..? apa yang kau lakukan disana..?” tanya Navya yang melihat Naina mondar mandir sedari tadi.
“tidak.tidak apa-apa.” Ucap Nina sembari memaksakan senyumannya.
Mereka lalu melanjutkan obrolan dan guyonan mereka. Sampai petang menghampiri. Disaat merek sedang mengobrol asyik, seorang pengawal yang berada didepan masuk dan memerintahkan Navya untuk segera pulang atas perintah tuan mereka.
“Naina, maaf sepertinya sampai disini saja. Kalau kau sudah baikan, sempatkanlah untuk kembali.”
“hufft..baiklah. sampai jumpa.”
“jaga dirimu Naina. sampai jumpa..” pamit Navya yang kemudian pergi keluar dari ruang inap Naina.
Dia bersyukur akhirnya mereka bisa berteman kembali. Naina tak menyangka kalau Danis akan menyuruh Navya melakukan ini. dan seharusnya dia berterima kasih padanya. tetapi, pemikiran itu, segera ia tolak karena dia masih ingat.
Ada hal yang belum terselesaikan dengan Danis.
“hahh..ya ampun seharian ini aku ingat kalau aku belum mandi.
Aku harus mandi sekarang sebelum iblis itu datang !” ucap Naina sembari turun dari ranjangnya.
Bersambung..