Story Under The Rain

Story Under The Rain
Sweet and bitter



Rupanya senja selalu menyambut langit di hari yang cerah ini. mobil itu terus saja melaju menyusuri jalanan yang ada. Tak lama, ban mobil itu pun berhenti dan Naina kembali melihat sekitarnya. Sebuah tempat yang asri yang tak terlalu jauh dari kota. Ia pun langsung keluar mengikuti Danis dan bertanya padanya.


“kita..ada dimana lagi ini..?” tanya Naina.


“nanti kau akan tahu. Ayo, ikutlah denganku.”


Ucap Danis sembari mengulurkan tangannya. Berharap Naina mengengamnya dan mengikutinya.


Mereka pun berjalan diantara gedung pertokoan yang mewah. namun, dengan nuansa kota yang tenang dan asri. Diantara gedung itu, terdapat satu bangunan yang sangat bagus dengan desain minimalis dan tak asing lagi bagi Naina.


“bukankah itu…” pikir Naina.


“iya. Sekarang ini akan menjadi galerimu. Sekaligus menjadi tempat tinggalmu.” Ucap Danis.


Naina berulang kali dibuat tercengang dengan apa yang dilakukan Danis. Dan sekali lagi, dibuat berfikir bagaimana dia akan berterima kasih kepadanya.


Mereka berdua pun masuk dan melihat ruangan pertama dari bangunan indah itu. dilantai pertama adalah tempat bagi Naina untuk membuat karyanya. benar-benar sangatlah luas yang kemungkinan bisa menampung berpuluh-puluh lukisan disana.


Dan sedikit masuk kedalam, ada taman kecil disepanjang jalan menuju ruangan belakang yang dilengkapi dengan kolam air kecil dan sampailah dibelakang ada beberapa kamar tamu dan dapur. Dapur yang sangat rapi dan bagus yang sudah dilengkapi dengan peralatan yang lengkap pula.


“saat aku melihat selera makanmu waktu dikantor, aku pikir kalau harusnya aku membuatkanmu dapur yang luas juga lengkap.


Dan juga, kau harus bisa memasakkan makanan yang lain untukku.” Ucap Danis sembari mengarah ke wajah Naina yang masih saja terdiam.


Lalu, Danis mengajaknya menuju lantai dua yang berisi dua kamar tidur dan kamar mandi yang luas. Serta tempat beristirahat yang sangat nyaman dan terasa sangatlah minimalis.


Sesuai dengan desain yang disetujui Naina saat itu. sesampainya di balkon atas, pemandangan matahari tenggelam itu, sangatlah memanjakkan mata siapapun yang menikmatinya.


Keduanya berdiri dan bersanding dipagar balkon sembari melihat sore hari disana. Naina kini sadar dengan semua yang telah ia alami.


Ia sadar kalau Danis benar-benar mencintainya. Ia yang berfikiran seperti itu, tak sadar dibawa tersenyum-senyum sendiri sembari memandangi pemandangan sekitar. Hal itu membuat Danis tertarik untuk bertanya padanya.


“kelihatannya mood-mu sudah baik. Katakan, apa kau suka dengan semua ini..? hmm..?” ucap Danis sembari menghadap ke arah Naina.


“Danis aku, aku hampir saja tak bisa percaya kalau ini adalah nyata. Aku pikir ini hanyalah mimpi dan anganku saja. Tapi setelah aku lihat cahaya disore ini..ternyata aku tak bermimpi.” Ucap Naina yang berseri-seri.


Danis dengan spontan mencium Naina yang mengatakan hal seperti itu. dan tampaknya, Naina kaget oleh perlakuan Danis. Yang mana mungkin ia ingin menyampaikan pada Naina kalau ini bukanlah mimpinya.


“Danis, untuk apa itu..?” ucap Naina sembari memalingkan wajahnya dan menutupi mulutnya.


“Naina..aku hanya ingin melihat kau bahagia. Dan aku ingin kau melakukan satu hal untukku.” Ucap Danis yang tengah memeluknya.


“apa itu..?”


“kembalilah melukis untukku.”


Naina sedikit ragu dengan permintaan Danis. Pasalnya, sebelumnya melukis adalah suatu ketidaksengajaan baginya dan lama-kelamaan jadi hobi baginya. Dan itu juga karena Rayn. Tapi, disisinya sekarang ini adalah Danis dan Rayn hanyalah masa lalu untuknya.


Naina dibawa Danis menuju tempat duduknya dan memberikan sejumlah peralatan termasuk kuas lukis yang baru untuknya. Disana, ia mulai melukiskan sebuah kehidupan dengan hati yang baru. Dan tentunya, kehidupan itu akan menjadi sangat sulit dari sebelumnya.


Pagi hari itu sama seperti biasanya. Hanya saja, perasaan Naina yang sudah berubah. Pria itu yang kini masih memeluknya selama waktu tidur, tak henti-hentinya membuat jantungnya berdebar-debar. Meski semalam adalah malam yang tenang tanpa ada suatu hal apapun, tetap saja Naina merasa gugup dan berfikir mereka seharusnya menikah.


“Da..Danis. lepas ! ini sudah pagi. Bukankah kau harus bekerja..?” ucap Naina sembari mencoba melepaskan diri.


“sstt..diamlah. diam saja beberapa menit lagi…” pinta Danis yang masih saja memeluk erat Naina.


Naina kembali ke tempat tidurnya dan meringkuk kecil di pelukan Danis. Berharap agar Danis tak melakukan apapun selain memeluknya. Setelah beberapa saat kemudian, Danis bangun dan beranjak dari tidurnya melepaskan Naina yang ternyata juga tertidur saat itu. setelah bersiap-siap, Danis mencium kening Naina dan pergi meninggalkannya yang masih tertidur pulas.


Sesampainya di kantor, ia kembali disibukkan dengan pekerjaan proyek yang seharusnya dikerjakan oleh Naina. entah apa yang ada dipikiran Danis sampai ia mau melakukan pekerjaannya ini.


di lain sisi, Naina terbangun dan kaget kalau ia terlambat masuk kerja. dengan terburu-buru, ia segera bersiap.


“dasar pria itu ! kenapa tak membangunkanku..?” batin Naina yang tengah kesal.


Sejam kemudian, sampailah Naina di kantornya. Dengan kembali merapikan dandanannya. Ia kembali mendapati beberapa tumpukan bekas yang siap ia periksa.


“hufft.. pekerjaan ini ! selalu menyiksaku..” batin Naina dengan letihnya.


Danis yang masih fokus dikantor, dikejutkan dengan kedatangan tamu yang tak diundang. Dengan mata yang terkaget, ia segera berdiri dan berbicara pada orang itu.


“ayah..!!? apa yang kau lakukan disini..? kenapa kau tak menghubungiku dulu sebelum kemari..?” ucap Danis.


“ayah hanya sekedar mampir dan ingin tahu keadaanmu.” ucap ayah Danis yang segera duduk di kursi tamu kantor Danis.


“bukankah ayah sudah tahu bagaimana keadaanku..?”


“jangan kau kira ayah tak tahu apa yang telah kau lakukan..” ucap ayahnya sembari meliriknya.


“ayah tahu kau telah lama mengencani gadis itu. dan ayah kesini ingin agar kau menjauhinya dan menikah dengan gadis pilihan ayah.” Ucap ayahnya itu sembari memantik rokok disakunya.


“apa..!? ayah, kau…kau takkan bisa memaksaku untuk itu. bahkan aku akan memberi tahu kalau dia sama sekali tak bersalah. Itu hanya salah paham !” seru Danis.


“Danis, kau tak tahu apapun tentang dia. Dan kau ! kalau tak menuruti perintah ayah. Maka, jangan lupa. Aku bisa melakukan apapun bahkan menyakiti siapapun. Kau tahu maksut ayah bukan..?!” ucap ayahnya sembari berdiri.


“sial !” batin Danis dengan kesal.


“jangan lupa. Lusa adalah ulang tahun perusahaan dan saat itu, adalah hari pertunanganmu dengan Selena. Mau tidak mau, kau harus melakukannya !” ucap ayahnya sembari pergi.


“’ayah, aku benci kau !” ucap Danis dengan tangan yang mengepal.


“ya…ayah tahu itu. dan tetaplah seperti itu.” ucap ayahnya sambil melirik ke arah anaknya yang tengah marah kepadanya.


"nak, maafkan aku kali ini. tapi aku jamin kau takkan terluka setelah semua ini selesai." batin ayah Danis sembari pergi dari kantor itu.


BERSAMBUNG…