Story Under The Rain

Story Under The Rain
The revenge



Rayn membantu Naina berdiri sembari memegangi payung untuknya. Selepas itu, ia memberikan jasnya pada Naina yang sedari tadi basah kuyup dan nampak kedinginan.


Malam semakin larut dan mereka memilih untuk pulang. Naina yang diantar Rayn saat itu, hanya diam saja sedari tadi. air matanya kini telah mengering dengan cepat dan tak terlihat keluar lagi.


“kak Rayn terima kasih sudah mengantarku. Selamat malam…”


“Naina tunggu ! kalau..kalau kalau kau butuh teman, hubungi aku kapan saja.” Ucap Rayn dengan terbata-bata.


“iya tentu. Sampai jumpa.” ucap Naina yang berusaha tersenyum sambil menutup pintu mobil itu.


Naina akhirnya masuk ke rumahnya. Rumah yang bahkan tak pantas lagi dia miliki. Seusai membersihkan diri, dia bercermin dan mengeringkan rambutnya.


Didepan cermin itu, Naina menjadi berfikir Kalau yang di inginkan dan yang menjadi sasaran utama ayah Danis selama ini adalah dirinya.


malam ini, dia menghetahui semua kejahatannya, dan ia sudah berjanji pada kedua orangtuanya akan membalas dendam dan mengambil lagi hak miliknya.


Sedangkan Danis hanyalah sebuah pion untuk ayahnya agar Naina bisa masuk keperangkapnya dan membuat Naina menderita.


“John Asher..lihat saja ! semuanya akan mendapat balasan yang setimpal !” ucap Naina sembari mengepalkan tangannya dan terlihat sangat kesal.


Malam itu, menjadi titik balik dikehidupan Naina dan tentu tak mudah untuk memejamkan mata pada malam itu. karena ia sudah tak sabar akan datangnya pagi dan segera melakukan rencananya.


--------


Pagi buta Naina sudah bersiap-siap untuk mempersiapkan segalanya. Takdir hidup dan matinya, ada ditangannya untuk mengungkap kebenaran itu.


setelah beberapa saat, jam menunjukkan pukul 7 pagi. Dia bersiap untuk pergi bekerja dan bertingkah seolah-olah tak terjadi apapun padanya malam itu. sesaat setelah membuka pintu, Naina dikejutkan dengan kedatangan Danis didepan pintunya.


“oh..untuk apa kau kemari..? aku rasa percakapan kita telah usai tadi malam.” Ucap Naina yang melewati Danis berdiri dihadapannya.


“Naina, masuklah ke mobilku. Aku akan mengantarmu ke kantor.” Ucap Danis sembari menahan Naina dengan memegangi tangannya.


“apa..?! apa kau tak tahu malu..?


apa kau sengaja membiarkanku jadi bahan perbincangan orang-orang dengan membuatku sebagai simpananmu..?


Danis sadarlah ! kau telah bertunangan.” Ujar Naina yang meronta sembari melepaskan gengaman Danis.


“ehh..Danis ! lepas !”


“aku tak peduli dengan omongan orang lain. Kau harus menuruti perintahku !”


ucap Danis yang mengendong paksa Naina untuk masuk ke mobilnya.


Naina dibuat tak berdaya dengan perlakuan Danis dan akhirnya ia berhasil masuk ke dalam mobilnya.


Naina hanya cemberut sembari memalingkan mukanya dari Danis yang menaruhnya duduk dibelakang. Dan selama perjalanan, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka.


“baiklah. Terima kasih tumpangannya.” Ucap Naina sembari membuka pintu mobil.


Naina mendorong dan menekan terus tombol di pintu mobil. Dia terus berusaha keras untuk membuka pintu itu dan Danis hanya diam sembari melihat Naina dari kaca depan mobilnya.


Naina sadar kalau Danis sengaja melakukannya. Ia pun melepaskan gagang pintu mobil itu dan berbicara pada Danis.


“hufft..baiklah. apa yang kau inginkan..?” tanya Naina.


“nanti siang, temui aku dikantorku. Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan denganmu.”


Naina hampir saja dibuat kacau oleh tingkah Danis. Namun, ia segera menyadarkan dirinya dan tetap melancarkan rencananya lagi. Sesampainya dikantornya, asisten Henry datang kepadanya.


“nona, ini tugas anda hari ini.” ucap Henry sembari memberikan berkas catatan.


“tunggu ! Henry. Bisakah aku minta nomer ponselmu untuk berjaga-jaga..?”


“oh..tentu. tentu nona.”


Henry pun memberikan nomer telponnya disecarik kertas yang telah diberikan Naina. entah apa yang akan ia rencanakan, yang pasti itu harus berjalan lancar.


Dan untungnya, selama bekerja diperusahaan teknologi terbesar ini, selain menjadi manajer proyek, Naina banyak mempelajari banyak hal. dan hal itu sedang dia kerjakan ditengah waktu kerjanya.


“dimana tuan..?” ucap Selena pada Henry.


“dia ada didalam nyonya. Silahkan.”


Selena pun masuk ke ruangan Danis. Dan disana, dia terlihat sangat serius mengerjakan pekerjaannya. Dengan berpenampilan mengoda, dia mendekati Danis.


“sayang, siang ini kita makan sushi diluar ya..?” ucap Selena yang tengah duduk diatas mejanya.


Danis tak mengindahkannya dan malah mencuekinya. Tetapi Selena masih kukuh dengan usahanya. Hal itu semakin membuat Danis sakit kepala dan pergi keluar meninggalkan Selena didalam.


Saat diluar, ia melihat Naina sedang tersenyum dan tertawa lepas dengan salah satu karyawan prianya. Ia melihat pria itu sepertinya sedang mengoda Naina. dan saat Danis mendekati mereka, pria itu pergi dan Naina masuk kedalam kantornya. Danis juga menyusul masuk kedalam kantor Naina.


“oh, bos ada perlu apa kemari..?” ucap Naina yang tengah membereskan berkas dimejanya.


“siapa pria itu..? kenapa dia seperti itu terhadapmu..? dan kenapa kau harus membalasnya dengan tawa dan senyum juga..?"


Naina hanya mengabaikan kata-kata Danis dengan membereskan kursi tamu diruangannya. Dan hal itu membuat Danis kehilangan kesabarannya.


“aduhh.. Danis ! apa yang..”


“Naina jawab ! kenapa kau seperti itu padanya..? apa kau mencoba berselingkuh dihadapanku..?” tanya Danis dengan mendorongnya jatuh diatas sofa dan memegang erat dagunya.


“apa..?! berselingkuh..?


memangnya kita punya hubungan apa sampai kau berkata aku berselingkuh darimu..?


dan juga, aku tersenyum pada pria lain, itu bukan urusanmu !” seru Naina.


Hal itu membuat Danis sangat marah dan tak bisa menontrol dirinya. ia mencoba mencium Naina. tetapi Naina membalasnya dengan mengigit bibirnya.


“Naina, kau sekarang berani…”


**Plakk !!**


“Danis, kau pikir aku apa..? kau pikir aku boneka yang bisa setiap saat kau mainkan..?”


ucap Naina setelah menampar Danis.


Danis pun beranjak dari Naina sembari memegangi pipi bekas tamparan Naina. ia langsung pergi begitu saja tanpa melihat wajah dari Naina lagi.


Didalam kantornya, ia melampiaskan kekesalannya dengan memukul-mukul tembok dan mengobrak-abrik barang dimejanya. Danis kesal karena perlakuannya yang telah membuat Naina kembali tersiksa olehnya.


Bersambung..