
Aneta yang melihat Danis marah, segera menenangkannya dan berkata padanya.
“Danis..tenanglah ! mungkin itu karena dia sedang hamil.
Ayahmu takkan mungkin sengaja mencelakainya disini !” ucap Aneta sembari mengelus pundak Danis.
Tetapi, omongan Aneta tak berarti apa-apa baginya dan Danis segera pergi meninggalkan ruang makan itu. dia pun berjalan menuju Naina yang masih ada dikamar mandi.
“huhh..makanan itu benar-benar bau ! aku sampai mual dibuatnya. tapi, apa caraku ini takkan ketahuan ya..?” gumam Naina.
Rupanya Naina sengaja menampakkan tanda-tanda kehamilannya agar kedua orang tua Danis tak curiga dan tetap mempertahankannya didalam rumah ini. sembari mengelap mulutnya, ia pergi keluar kamar mandi dan kaget yang ternyata Danis sudah berdiri disamping pintu kamar mandi.
“oh..heheh..aku..aku tak apa. Sebaiknya kita kembali ke..”
Danis mencegat langkah Naina dengan tangan kanannya dan semakin mendekat ke wajah Naina. Naina semakin kacau pikirannya dan mengira Danis tau apa rencananya kali ini.
“sebaiknya, kau tak perlu berbasa-basi lagi dengan semua ini.” bisik Danis.
“ap..apa..?!”
“kemari..!”
Danis menyeret tangan Naina dan membawanya ke atas. Ke kamar mereka. Genggaman tangannya benar-benar kuat sampai Naina hampir tak memakai kakinya tuk berjalan. Ia tak ingin sampai Danis melakukan sesuatu yang akan membuat keributan dirumahnya ini.
setibanya didalam,Danis benar-benar melempar Naina ke atas ranjang dan segera mendekat ke arahnya.
“dengar Naina ! apa kau tahu betapa khawatirnya aku tadi..? hmm..?”
ucap Danis sembari mencengkram dagu kecil Naina.
“apa..? apa maksudmu..?”
“bukankah kau tak hamil..? lalu, kenapa kau bisa muntah-muntah seperti itu..?”
“hhei ! Danis ! ak..aku”
“kau tahu kan kalau aku tak pernah berbuat itu lagi denganmu selama 3 bulan ini..?
apa kau pergi dengan pria lain..Naina..?” bisik Danis sembari mengigit daun telinga Naina.
**plakk !! **
Naina menampar Danis dengan keras sembari air mata yang terus saja berlinang di pipinya. Danis terkejut sembari tersenyum dingin dan rambutnya pun menjadi terarah kedepan sehingga menutupi sebagian wajahnya yang tertampar tadi.
Danis pun melepaskan Naina sembari muka yang tertunduk dan tertutupi oleh rambutnya.
“besok pagi, kau harus berangkat bekerja.
Jadi, tidurlah lebih awal.” Ucap Danis sembari keluar menutup pintu.
Naina menatap Danis yang pergi, sembari nafas yang terengah-engah dan tangan yang gemetaran seusai menamparnya. Ia tak bermaksut menamparnya tetapi, ia masih teringat akan status hubungannya dengan Danis.
.
.
Malam yang dingin pun terlewat dengan air matanya yang telah mengering. Sembari selimut tebal yang ada dibadannya. terlelap dan menanti akan datangnya hari esok.
-------
Tak lama, mereka pun akan tiba di kantor. Tetapi, Naina tiba-tiba saja menghentikan mobil dan berkata pada Danis.
“berhenti ! sebaiknya, aku turun disini saja.”
“tidak ! kau harus ikut denganku sampai ke kantorku !”
ucap Danis sembari memegang tangan Naina yang akan membuka pintu mobil.
“Da..Danis ! tak bisakah kau berfikir bagaimana jika orang lain melihat kau dan aku bersama dalam satu mobil..?
tidakkah kau tahu resiko ini semua..?” ucap Naina sembari melepaskan tangan Danis darinya.
“apa..?! kenapa kau takut jika hubungan kita akan terkuak..?
apa kau malu karena menikah denganku..?” sahut Danis.
“Danis, bukan begitu..aku hanya.. hahh..! baiklah. Aku akan ikut denganmu.” Ucap Naina sembari memegangi kepalanya yang bingung dengan perkataan Danis.
Selepas itu, mereka pun keluar dan berjalan bersama menuju kantor. Pagi itu, semua berjalan lancar sampai pada pukul 11 siang.
.
.
Pada saat itu, ada rapat yang membahas tentang kerjasama perusahaan dengan perusahaan lain dari luar negri.
Dimana Naina yang hadir sebagai manajer proyek saat itu, sedang mencatat saat rapat tersebut. Tanpa disadari, Selena memaksa masuk dan tiba-tiba saja berteriak sembari menunjuk ke arah Naina.
“dasar ****** kau Naina ! kau berani sekali merebut tunanganku bahkan kini telah menjadi simpanannya !”
Seketika itu, semua orang yang hadir menatap tajam ke arah Naina. dan Naina hanya terbelalak tak menyangka akan ada hal seperti ini.
Danis yang duduk di tempatnya yang paling ujung, hanya terdiam dengan tatapannya ke Selena. Melihatnya sembari melipat tangannya, bagaimana tindakan yang akan dilakukan Selena terhadap Naina.
“kalian lihat wajah polos itu..?! dia sebenarnya arktris yang pandai berakting untuk merayu semua lelaki ! dan aku.. punya buktinya !”
Wajah kaget Naina membuat semuanya menatapnya dengan pandangan sinis. Naina kaget ketika di layar proyektor terdapat fotonya bersama Danis. yang ketika itu tertidur bersama disofa saat Selena dan ibunya datang waktu itu. nafasnya terasa berat karena semua mata tertuju padanya.
Dan Selena menatapnya dengan senyum penuh kemenangan disana. Segera Naina berlari dan pergi dari ruang rapat. Ia terus berlari dan masuk ke kamar mandi sekedar bersembunyi dan menghindar dari orang-orang yang menatapnya terus-menerus.
“haduh..bagaimana ini..? apa..apa yang harus kulakukan..?
bagaimana bisa wanita itu punya foto-foto itu..?” gumam Naina sembari mengigit jari-jarinya didalam kamar mandi.
“ah sial ! ini semua gara-gara Danis !
oh ya.. Danis. Aku.. aku harus segera menemuinya.” Ucap Naina.
Ia pun segera membuka pintu kamar mandi untuk keluar dari sana. Tetapi, tiba-tiba saja pintu itu macet dan tak bisa dibuka. Dengan mengetuk bahkan mencoba mendobrak-dobraknya, Naina memanggil-manggil seseorang untuk minta tolong seseorang diluar sana.
“tolong ! buka ! cepat buka !”
Tak ada jawaban apapun dan sepertinya tak ada siapapun selain dia disana.
Bersambung…