Story Under The Rain

Story Under The Rain
Dilema



Sedari tadi matanya tak bisa berhenti melihat ke arah jarum jam. Ia ingin sekali punya kekuatan untuk memperlambat waktu dan berharap makan malam itu takkan datang.


“ahh..!!? aku akan gila kalau begini..!” seru nya sembari memegang kepalanya dengan marah.


“siapa yang gila..?!”


Naina terkejut dengan sahutan kata-kata itu. dia masuk begitu saja dan langsung membalas kata-kata kekesalannya. Bahkan ia langsung berdiri begitu melihat wajahnya.


“kak Rayn..? ke..kenapa kau kemari..?” tanya Naina.


“aku kemari karena mengajakmu makan malam. Bagaimana..? apa kau mau ikut dengan ku..?" ucap Rayn dengan mendekati Naina.


“hahh..!?” sahut Naina dengan kaget.


“hahahah..aku hanya bercanda. Kau tak perlu sekaget itu !” ucap Rayn dengan tertawa kecil.


“ohh..” Balas Naina dengan malu sembari memegang bahunya yang berkeringat ketika mendengar perkataan Rayn.


“aku kesini untuk memintamu menemaniku ke lokasi proyek.


Dan juga untuk mencocokkan desain bangunan dengan keadaan sekitar area proyek. Ayo ! kau mau kan..?” ajak Rayn.


“aku..?! kenapa harus aku..?” tanya Naina.


“tentu. Kau kan manajer proyeknya. ayo cepatlah.”


“ehh..??”


Rayn terlalu semangat menarik tangan Naina yang saat itu melamun dan masih mengira kejadian itu hanyalah sebuah mimpi belaka. Setelah masuk di mobil Rayn, mereka berdua pun berangkat menuju area itu.


“haduh Naina, ayo tunjukkan kemampuanmu kalau kau itu sudah move on dari dia..!” batinnya.


Naina benar-benar kikuk setiap Rayn mengajaknya berbicara didalam mobil meski itu mengenai pekerjaan mereka.


Dia benar-benar tak bisa menatap mata Rayn ketika dia mengajaknya bicara.


Dan terkadang suasana hening itu sangat terasa ketika Naina menjawab pertanyaan Rayn dengan pendek dan terkesan cuek. Tapi, Rayn tetap tersenyum melihat tingkah Naina.


.


.


.


.


Setelah perjalanan 2 jam lebih cepat dari biasanya, mereka pun sampai di area proyek. Naina melihat beberapa pekerja sudah kembali melakukan pekerjaan mereka setelah Danis memberi mereka cuti dalam beberapa hari.


“halo. Kami kesini untuk melihat-lihat area proyek ini.” ucap Rayn seraya menjabat tangan salah seorang pekerja disana.


Naina sedari tadi hanya bisa diam tanpa kata dan mengikut arah Rayn kesana kemari untuk melihat-lihat sekitar.


“Nai, apa kau marah..?” tanya Rayn sambil melihat wajah Naina yang lesu.


“hah..?! tidak, tidak kok. Aku hanya sedikit lapar.” Ucap nya yang tengah mengalihkan pembicaraan mereka.


“kalau begitu kita akan mencari makan disekitar sini.” Sahut Rayn.


Kemudian Rayn memacu kendaraannya dan kembali ke daerah sekitar perkotaan.


Cahaya fajar terhalangi oleh cuaca yang agak mendung dan Mobilnya berhenti melaju ketika sampai di sebuah restoran steak Daging. Naina segera turun sambil membawa tasnya. sesampainya disana, mereka duduk dan mulai memesan makanan.


“tolong pesan seperti biasanya.” Pinta Rayn pada pelayan restoran.


“apa kau sering kesini..?” tanya Naina.


“tidak. Hanya 3 atau 4 kali saja.” Jawab Rayn sambil tersenyum ke arah Naina.


Tak lama pesanan mereka datang. Dengan santainya mereka melahap makanan yang masih hangat itu.


saat itu, Naina tak sadar jika ponsel nya sudah berdering sedari tadi. karena dia sering mengaktifkan mode Silent disaat kerja. dia tak sadar jika saat melihat layar ponselnya itu, ada 20 panggilan yang tak terjawab.


“ya ampun ! aku lupa kalau ada janji dengan bos direktur..! bagaimana ini..? apa aku harus mengangkatnya..?” batin Naina.


“kenapa..? angkat saja telponnya.”


“tidak...tidak. itu tidak penting.” Ucapnya dengan menutup telponnya.


Danis tak tahu kalau Rayn akan mengajak Naina dalam mengurus masalah bangunan di area proyek. Rayn hanya bilang kepadanya tadi, kalau akan mengajak seseorang karyawan di perusahaannya.


Ketika dia masuk ke kantor Naina, ia benar-benar marah dan menyangka Naina sengaja menghindar dari ajakannya.


“sial ! berani sekali dia menutup telponnya !” umpat Danis.


Setelah melacak ponselnya, Danis segera mengendarai mobilnya untuk mengampiri Naina.


dengan penuh kekesalan ia memacu kendaraannya secepat mungkin.


Kali ini Naina takkan diberi ampun lagi olehnya.


“Naina. ayo ! kuantar kau pulang.” Pinta Rayn sembari memegang tangan kanan Naina diluar restoran.


“aku rasa tidak kali ini, tuan Alfaresta.” Ucap Danis yang langsung memegang tangan kiri Naina dan menghentikannya.


“dia harus pulang bersamaku !” seru Danis sembari menatap tajam kepada Rayn.


Naina menjadi bahan rebutan kedua pria ini. ia tak menyadari kehadiran Danis yang dengan tiba-tiba muncul dan mencegatnya. Kali ini ia harus memilih dan mempertimbangkan demi keselamatannya.


Bersambung…