
Danis hanya terdiam dengan tatapan kosong. Naina masih saja bernafas berat seusai mengatakan semua itu.
dia hanya ingin agar masalahnya terselesaikan meski nantinya akan berakhir menyedihkan juga. Hatinya menjadi tak sabaran lagi dengan ekspresi Danis yang diam mematung disana.
Segera ia pergi turun dan kembali ke vila.
sesaat dia sampai didepan gerbang vila, disana ia kembali dikejutkan oleh Navya yang telah diikat dan ditawan oleh beberapa orang.
Danis yang mengikuti Naina dibelakangnya juga ikut terkejut dengan ayahnya yang bisa sangat cepat menghetahui keberadaannya.
“lepaskan dia !” seru Naina.
“Naina, aku rasa kau sama sekali tak mengindahkan peringatanku ya..? dan malah pergi berduaan dengan putraku, hah !!” seru John sembari menghunuskan pisau ke leher Navya.
“ayah ! hentikan ! ini semua adalah kemauanku ! jangan pernah berani lakukan itu ayah !” teriak Danis sembari mendekat ke arah ayahnya tetapi, dicegah oleh para pengawalnya.
“Naina, sekarang pilihlah. Kau mau menjauh dari putraku dan menyelamatkan temanmu ini, atau kau mau dia mati ditempat yang sama dengan ayahmu..?!”
Naina geram dengan rencana ayah Danis. Ia mengancamnya dan harus memilih antara keduanya. Tangannya terus saja mengepal erat dengan kekesalan. Gigi dan wajahnya terus saja mengertak tak bisa menerima kekalahan ini.
secepatnya Naina harus memilih, mana yang terbaik untuknya. Sementara Danis, sedari tadi memberontak dan merontak agar terlepas dari tawanan para pengawal ayahnya.
Naina diam terpaku sembari wajah yang tertutupi oleh rambut panjangnya.
“Naina, jangan pedulikan ayahku !
Naina kau tahu aku akan selalu melindungimu. Naina jangan dengarkan perkataannya !” seru Danis yang terus saja meronta.
“cepat ! atau kesabaranku akan habis !”
Naina panik begitu melihat sayatan kecil dari pisau John, membuat setetes darah keluar dari leher Navya. Navya tak bisa melawan bahkan mengigit para pengawal yang benar-benar kuat menahannya. Naina, tak punya pilihan lain.
“stop ! baiklah. Aku..akan menjauhi dia dan aku mohon lepaskan temanku..” ucap Naina dengan berkaca-kaca.
“Naina tidak ! kau harus menarik kata-katamu. Sial ! lepaskan aku !”
“bagus. Lepaskan dia !”
Pengawal itu langsung melempar Navya dan jatuh tersungkur dihadapan Naina. Ia langsung merangkul temannya yang sangat ketakutan dan terlihat kesakitan itu.
“bawa anakku ke mobil !” perintah John.
“no, dad ! kau tak bisa melakukan itu padaku ! Nai, Naina..!”
Naina tak menolehnya sama sekali dan hanya memejamkan matanya meski batinnya, ingin sekali mencegah orang-orang itu membawa Danis pergi.
Air matanya mengalir deras saat tahu Danis tak sadarkan diri karena telah disuntik bius oleh ayahnya sendiri. lalu, mereka semua pergi dari sana dengan cepat.
Navya merasakan air mata Naina yang jatuh tepat diatasnya saat dia masih saja memeluknya yang tengah kesakitan itu. tak ada yang bisa mereka berdua lakukan, selain kembali kedalam dan mengemasi barang-barang mereka.
“terima kasih Naina. kau..sudah menyelamatkanku.” Ucap Navya pada Niana yang memakaikan plester luka dileher Navya.
Naina hanya menatap kosong wajah Navya dan segera pergi dari sana tanpa sepatah katapun.
ia menutup keras pintu kamarnya dan segera berlari ke pojok ruang tidurnya.
Tangisan itu begitu sepi, tetapi hatinya merasa sangat sedih. Apa yang telah dia pilih, harusnya yang menjadi terbaik untuk semua.
Tetapi, kenapa hatinya begitu sakit ketika harus menerima kekalahan dan mematuhi untuk menjauh dari Danis.
Hanya Danis, yang menjadi akar permasalahannya sejak awal. Dan sampai saat ini, akar itu tak bisa dicabut begitu saja. Rasa sakit itu, dia tumpahkan dengan terus menangis dan memukul dadanya yang nyeri akan kehilangan.
“Danis, aku harap inilah takdir yang terbaik untuk kita.” Batinnya.
-----------
Sore hari menyambut kedatangan mereka dikota asalnya seusai turun dari pesawat. Pemandangan senja itu, selalu saja membuat hatinya menjadi murung.
Beberapa saat, sopir taksi menurunkan Navya didepan rumahnya. Dan Naina, mengucapkan selamat tinggal melalui kaca jendela.
“Naina, apa kau yakin tak ingin menginap dirumahku lagi..?”
“tidak. Mungkin lain kali saja. Aku masih harus mengemasi barang-barangku disana.”
“baiklah. Kalau kau ada apa-apa, segera telepon aku ya..?”
Laju roda taksinya melesat cepat di hari yang menjelang malam itu. kini, dia melangkahkan kakinya didepan rumah itu lagi dan masuk kedalam.
Sembari menyalakan lampu, Naina memandangi seisi rumahnya. Sepi dan hening yang ada. Entah kenapa, dia ingin tidur cepat dan kembali mencari pekerjaan baru besok. Belum terpikirkan olehnya untuk pergi dari rumah ini. rumah pemberian Danis, beserta kenangan yang ada didalamnya.
Sedari tadi Naina tak henti-hentinya membalikkan badannya dan mengeser bantalnya. Dia mencoba memejamkan matanya. Tetapi, pinggangnya tiba-tiba saja terasa hangat seperti ada tangan besar dan kuat yang merangkulnya.
.
.
Dia segera membuka matanya dan menolehnya kebelakang. bola matanya masih saja bergetar dan air matanya mulai keluar lagi begitu melihat tak ada seorang pun selain dia dikamar ini.
Naina tak bisa menghentikan laju air matanya. Kantung matanya benar-benar berat dan lelah karena tangisannya. Dia memutuskan untuk duduk diatas kasurnya sembari melipat kedua pahanya.
Dimalam itu, ia bisa merasakan betapa pentingnya kehadiran Danis dihidupnya.
.
.
.
.
Sementara itu, Danis membuka matanya begitu dia merasakan Naina jauh darinya. Dia bangun dan telah berada diranjang lain dirumah lain.
Langit begitu indah diluar, dengan cahaya yang bermandikan sinaran bintang di musim panas. semua itu, Membuat hatinya semakin sakit lagi dan lagi. karena dimomen indah itu, harus berakhir perpisahan seperti ini.
dia harus keluar dari belenggu ayahnya dan segera mengejar Naina kembali.
Bersambung..