
Ketika Naina pingsan dipinggir jalan ada seseorang yang menolongnya dan membawanya pergi.
Didalam mimpinya, Naina sedang berada di tempat yang asing dengan taman bunga yang baunya sangat harum menyengat.
Ia melihat ayahnya sedang mengobrol dengan seorang lelaki yang terlihat kaya seperti ayahnya.
Dan ibunya, sedang mengobrol dengan nyonya dirumah itu bersama anak laki-lakinya. saat itu, Naina kecil masih senang sekali bermain air. dan disekitar rumah itu ada sebuah sungai yang airnya sangat jernih.
“hai anak manis, jangan terlalu dekat-dekat ya..nanti jatuh !” ucap seorang wanita dengan sangat lembut tutur katanya.
Wanita itu memperingatinya agar tak bermain terlalu dekat dengan sungai. Meskipun begitu, Naina kecil tak memperdulikannya dan tetap bermain disana. Dan yang tak diinginkan pun terjadi.
“tolong..! tolong..!”
Teriakannya begitu nyata di mimpinya dan terlihat sekilas bayangan seorang wanita cantik bermata biru yang masuk ke air. Dan ingatan itu begitu kuat sehingga ia terbangun dari pingsannya.
.
.
.
“ukkh..dimana aku..?” gumam Naina seraya memegang kepalanya yang masih sakit.
Naina berusaha bangun dan melihat sekitarnya. Tempat yang sangat familiar dimana kasur dan ruangannya sangat dia kenali. Ternyata dia terbangun di rumah paman Hans.
“kau sudah bangun..? ini aku buatkan teh. Minumlah.” ucap paman Hans sembari memberinya secangkir teh.
Naina kemudian meminumnya dan merasa lebih baik. Lalu, pamannya bercerita jika pada malam itu melihatnya sedang berjalan sendirian dimalam hari sambil membawa koper dan tas. Dan saat paman Hans akan mendekati Naina, ia langsung pingsan. Paman Hans pun segera membawa Naina ke rumahnya.
Naina hanya terdiam dan terpikirkan saat terakhir kali dia bersama pamannya. Saat dipenjara dan waktu itu, pamannya sangat bersedih dan menyesal. Dia hampir tak bisa berfikir apapun ketika sekarang bertemu lagi dengan pamannya.
“Naina, tenanglah. Paman takkan balas dendam padamu. Paman takkan marah karena bibimu itu, memang pantas dihukum. Dia sejak dulu selalu menyusahkanmu.
Jadi sekarang, kau bisa beristirahat dengan tenang.” Ujar paman Hans yang menenangkan Naina dengan mengengam tangannya.
“terima kasih paman. Sudah menyelamatkanku.”
“iya, Sudah. Sekarang istirahatlah. Besok kita mengobrol lagi.”
Paman Hans pun keluar dan mematikan lampu. Membiarkan Naina tidur dengan nyaman malam ini. namun, Naina sendiri takkan dengan mudah untuk istirahat setelah dia bermimpi aneh tentang masa kecilnya.
Dia berfirasat aneh karena setiap kepalanya pusing, Naina selalu melihat bayangan tentang masa lalunya dan berfikir mungkin pamannya menghetahui sesuatu tentang masa lalu itu dan alasan tentang dia harus melupakannya selain karena trauma.
Pasti ada yang disembunyikan ayahnya karena menghilangkan ingatannya selain trauma kematian ibunya.
-------------
Pagi yang cerah menyambut Naina dengan udara rumah yang lama tak dia kunjungi ini. dia melihat pamannya sedang duduk dan meminum secangkir kopi dibelakang rumah. Dengan senyuman yang sengaja dia pancarkan, Naina duduk disebelah pamannya dan mengucapkan selamat pagi padanya.
“oh, pagi juga keponakanku. Bagaimana tidurmu..?” tanya paman Hans sambil menaruh cangkir kopinya diatas meja.
“ehm..enak paman.” Ucap Naina dengan tersenyum.
Naina dan pamannya masih santai sambil menikmati udara pagi disitu. Tapi, sebenarnya ia tak sabar ingin segera bertanya kepada pamannya tentang masa lalunya itu. ia mulai mencoba berbicara dengan istilah perumpamaan.
“paman, apa kau tahu. Semalam aku bermimpi ayah dan ibuku pergi ke rumah yang besar…sekali.! Ayahku sedang mengobrol dengan seseorang dan entah bagaimana, aku merasa seperti jatuh tenggelam.
Dan tiba-tiba saja aku terbangun. hufft…aku beruntung itu hanya mimpi. Karena jika itu nyata, aku takkan bernasib baik dan takkan tinggal bersama paman kini.”
Ucap Naina sambil tersenyum dan menatap ke mata pamannya.
“Naina, sebenarnya..itu bukan mimpi. Itu nyata.” Ucap pamannya sembari tertunduk dan memegang gelas.
“apa maksut paman..?”
“paman tak bisa menjelaskannya. Tapi jika kau mau, paman akan membawaku kepada seseorang untuk memulihkan ingatanmu.”
Naina pun menyetujuinya dan mereka bergegas menuju orang tersebut. Dengan mengendarai kendaraan umum, sampailah mereka ke sbuah kilink Hipnoterapi.
.
.
.
Saat masuk mereka langsung disambut dengan dokter ahli yang terlihat berumur setengah abad dan berkacamata. Dokter yang sama yang mengobati Naina dulu hanya waktu saja yang mengubah usai dan penampilannya.
“dokter, bisakah kau membantuku..?” tanya Naina yang tangannya sedang diperiksa detak nadinya.
“iya. Tapi, ada beberapa resiko yang bisa berkemungkinan fatal jika kau tak berhati-hati.” Ucap dokter itu.
“tak apa dokter. Demi semua kebenaran, aku akan menangung semuanya.” Ujar Naina dengan yakin.
“baiklah. Kita mulai prosedurnya.”
Dokter itu memulai terapinya dan Naina dibawa pergi menuju alam bawah sadarnya.
.
.
.
.
.
Pada awalnya, ia mendengar ayah dan ibunya yang bertengkar hebat dari dalam kamarnya. Dan dari foto-foto yang ada dikamarnya dia sepertinya masih berusia 4 tahun. Dan sepertinya, kejadian itu terjadi setahun sebelum ibunya meninggal.
“kau tak boleh percaya dengan pria itu ! meski dia temanmu, tapi aku tahu niat jahatnya untuk merebut perusahaan kita !”
“Clara istriku, percayalah. Dia tak seperti itu. kau saja yang berfikir terlalu banyak..”
“tidak ! Brian. Aku tahu dia jahat. aku bisa membuktikannya.
Naina kecil yang tertidur, terbangun dan menghampiri orang tuanya. Seketika itu, kedatangannya memecah hening diantara mereka.
“ayah ibu…apa sekarang ulang tahunku..? kenapa berisik sekali..?”
“sayang, maafkan kami. Ya..? sekarang tidurlah.”
Kenangan itu langsung hilang dan terasa menyakitkan. Tetapi dokter itu terus mensugestinya agar Naina bisa bertahan dan menemukan apa yang dia cari. Dokter itu menyuruh Naina itu lebih rileks lagi dengan menarik nafasnya secara perlahan-lahan dan dia kembali menemukan ingatan yang lain lagi.
“ayah ibu, kita kemana..? bukannya kita akan merayakan hari ulang tahunku yang ke 5..?”
“iya. Nanti ya..setelah ini. hari ini kita akan mengunjungi rumah teman ayah.”
Bersambung..