
agaknya Matahari bersinar tak begitu terang. dan mungkin saja, ini takkan sepanas dari perkiraan cuaca kemarin. Atau mungkin saja, karena Naina yang bangun kesiangan sehabis lelah menangis. Ia mengeluh dengan pagi ini yang tak memberinya semangat untuk menjalani harinya ini.
segera Naina pergi ke kamar mandi dan bersiap pergi. Dengan memakai jaket hoodie dan topi, ia pergi keluar entah kemana. Naina tahu kalau pasti ada beberapa orang yang masih ingat dengan berita besar itu.
dia memutuskan untuk memajukan lagi topinya sampai wajahnya benar-benar setengah tertutup. Dijalanan kota yang padat, ia mampir ke beberapa toko hanya untuk membeli beberapa bahan makanan.
“terima kasih paman.” Ucap Naina setelah membayar barang belanjaannya.
Naina terus saja melangkah pergi menyusuri jalanan kota. Tetapi, ketika dia sampai digang sempit, dia merasa ada ada yang sedari tadi mengikutinya.
Naina mempercepat langkah kakinya dan berlari begitu orang dibelakangnya berteriak dan tetap mengejarnya yang telah berusaha mengoceknya. Naina tak tahu harus lari kemana.
Namun, tangannya tiba-tiba saja ditarik oleh seseorang dan bersembunyi dibalik gang sempit. Orang itu membekap mulutnya dari belakang sehingga dia sendiri tak tahu siapa sebenarnya orang itu.
“sstt..diamlah.”
Suara itu sangat familiar ditelinganya. Orang ini malah memegangi salah satu tangannya yang berusaha melepas bekapan dari tangan pria tersebut.
“sial ! lari kemana dia.?! Cepat ! kejar kesana !”
Orang yang mengejar Naina dari belakang, sedang celingak-celinguk kebingungan melihat Naina yang hilang dari pandangan mereka.
Dia benar-benar menahan nafasnya sembari memejamkan matanya berharap mereka takkan menemukannya. Tak lama, mereka semua telah pergi menjauh.
“mereka sudah pergi..”
“siapa kau..”
Naina sangat kaget setelah orang itu melepaskan tangannya dan memandang wajahnya. Dia tak percaya kalau orang itu adalah Danis lagi.
tak ingin berlama-lama dengan kerheranannya, dia segera lari dari sana tanpa menoleh ke belakang sedikitpun.
.
.
.
.
Kali ini, dia berlari menuju rumah pamannya. Segera paman Hans menyambutnya begitu dia mengetuk pintu masuknya.
"paman. ada..yang ingin aku bicarakan kepadamu"
Sembari celingak-celinguk mengawasi keadaan sekitar, paman Hans menyuruhnya segera masuk dan duduk dikursi ruang tamu. tanpa basa-basi, Naina mengutarakan maksut kedatangannya yang selama ini, menjadi luka tersembunyi baginya.
“paman..paman pasti tahu mengenai berita yang tersebar kemarin bukan..?”
Paman Hans hanya diam sembari menghela nafasnya. Kedua tangannya menyatu mengenggam dan masih dengan diam tanpa berkomentar.
“paman hans, aku sengaja melakukan pernikahan palsu itu untuk membongkar kejahatan keluarga Asher !
paman, kini aku tahu kalau John Asher adalah pelaku dari pembunuhan ayah dan ibuku !
paman katakan, aku sudah merencanakan balas dendam. tetapi, kenapa tak berhasil..?" seru Naina yang mulai meluap emsoinya.
"paman katakan sesuatu ! kau sendirikan yang bilang agar aku mengambil semua yang harusnya menjadi milikku termasuk merebut saham perusahaan juga !?”
ungkap Naina dengan terengah-engah dalam menjelaskannya.
Tetapi sebenarnya, bukan seperti ini yang dia harapkan untuk hidup Naina. justru ini menjadikan hatinya semakin tersiksa dengan perasaan dendam dan kehilangan.
Nampaknya, paman Hans harus menenangkan Naina lagi.
“Naina, paman tak membesarkanmu untuk menjadi pendendam. Meski bibimu itu jahat. tapi, percayalah paman dulu berusaha mengajarkan padamu untuk berbuat baik.”
“paman, apa maksutmu..?”
“berjanjilah padaku. Kalau kau harus melupakan upaya balas dendammu itu demi paman. Berjanjilah! dan biarkan kedua orang tuamu ikut bahagia melihatmu juga tumbuh besar dan bahagia…”
“paman, aku..”
“Naina, semua yang kau lakukan ini, hanya akan membuatmu lelah dengan dendam yang tak berkesampaian. Ikhlaskan saja nak, kau harus menemukan kembali jalan hidupmu yang baru. Dan melupakan balas dendam ini.”
Naina menangis dibawah pelukan paman Hans. Baru kali ini, pamannya membuatnya sadar akan tingkahnya yang salah.
Hatinya luluh akan nasehat kebaikan dari pamannya. Ia sendiri juga sangat lelah dengan terus menerus disiksa akan perasaan amarah dan dendamnya.
Ia memutuskan akan menyudahi semua rencananya dan kembali hidup normal seperti dulu. Meski dirinya tak tahu, akan melakukan apa setelahnya.
.
.
.
.
“oh ya Naina, paman sebenarnya menyimpan suatu baranga berharga dari dulu.
Paman menyimpannya agar bibimu tak memakainya atau pun menjualnya.” Ucap paman Hans yang kemudian beranjak pergi mengambil barang tersebut.
Beberapa saat kemudian, Naina yag telah mengusap air matanya dan membiarkannya kering, dibuat terkejut oleh paman Hans yang membawa kotak kecil berisi cincin.
Cincin bermata biru sapphire yang indah. Dia ingat kalau cincin itu, adalah dari wanita yang tenggelam bersamanya dan memberikan padanya saat kecil.
“simpanlah. Maaf paman baru bisa memberikannya saat ini.”
Cincin itu, ia simpan dikantungnya jaketnya. Ia sadar. kalau semuanya telah usai dan kini, satu kebenaran harus dia sampaikan lagi.
“baiklah paman. Aku, akan menjaga perkataan paman dan juga, akan berusaha menyingkirkan rasa dendamku ini. aku pergi dulu, jaga diri paman baik-baik..” ucap Naina sembari membuka pintu rumah pamannya.
Setelah berpamitan pada pamannya,Naina melangkah pergi keluar dari rumahnya. Rupanya, diluar sedang gerimis tips dan Naina memlih langkah agak cepat.
**crasshh..!**
Hujannya itu pun berubah menjadi sangat deras begitu dia sampai dihalte bis. Dia segera duduk disana dan meletakkan barangnya sejenak.
Disaat itu, Naina berfikir.
Kalau saja, dia takkan tenggelam dan menolak untuk diselamatkan, akankah takdirnya masih sama seperti saat ini..?
dengan segala lelah dan penatnya masalah yang dia alami, apapun. Takkan bisa semenyenangkan lagi selain berada ditengah guyuran hujan saat ini.
bersambung..