
Naina langsung menghindar dari tatapan itu dan melepaskan diri dari pangkuan Danis. Tangannya mengengam erat dadanya yang terasa sesak akan perkataan Danis.
Ia hanya tak menyangka kalau Danis menginginkan tinggal bersamanya. melihat ekspresi Naina, Danis sudah bisa menebak jawaban yang akan dia terima. Dia pun beranjak dari duduknya dan pergi melewati Naina yang masih berdiri disana sambil berkata padanya.
“baiklah. Kau bisa menjawab pertanyaanku itu suatu saat. Tapi Naina, aku takkan bisa menunggumu terlalu lama. Jika kesabaranku habis, kau tetap akan jadi milikku meski kau menolak.” Ucap Danis sembari melirik Naina yang masih terdiam mematung.
Danis memutuskan untuk mengantar Naina pulang dengan mobilnya. Dan Naina tak tahu lagi harus berkata apa agar Danis mau mengerti kalau perkataannya yang tadi itu, terlalu cepat baginya. Sesampainya dirumah Naina, Danis tak berkata apa-apa dan Naina langsung pergi begitu saja.
“aku pulang..”ucap Naina sewaktu masuk kerumah.
“hei.. dasar kau jahat ! hikss..hikss..”
Navya langsung memeluk Naina yang bahkan belum melepas sepatunya. Ia menangis sejadi-jadinya karena khawatir ia tak pulang semalaman. Segera ia menyeret Naina ke meja makan dan mereka pun makan bersama.
“kenapa kau susah dihubungi..? hahh..?” ucap Navya dengan muka yang cemberut.
“ya ampun. Maafkan aku Nav. Ponselku terjatuh dan rusak. Jadi, kau tak bisa menghubungimu.” Ucap Naina seraya mencubit pipi chuby Navya.
“memangnya kau kemana..? kenapa ponselmu bisa terjatuh..?” tanya Navya.
“aku…aku menginap di kantor beberapa hari ini karena banyak pekerjaan.
Dan ponselku terjatuh saat posisi tidurku kurang tepat.” Jelas Naina dengan senyum yang dipaksa.
“benarkan..? kau ngak bohong kan..?” ucap Navya yang balik mencubit pipi Naina.
“iya ! ihh! Sakit tau !”
“berjanjilah kalau ada apa-apa kau harus memberitahuku.” Ujar Navya yang menunjukkan jari kelingkingnya ke Naina.
“aku janji !” ucap Naina sambil membalas gerakan jari kelingking itu.
“oh ya ! janji kita ! janji hidung ! pamm..” ucap Navya dengan menyentuh hidung Naina dan Naina juga melakukan hal yang sama.
Naina tak bisa membiarkan dia tahu masalah terbesarnya. Sebenarnya ia tahu kalau semakin dia berbohong, semakin sulit dirinya untuk mengakui dan menceritakan semua nya. Tapi pikiran itu segera ditepisnya dan percaya ia bisa menangung semua masalahnya sendiri dan tak ingin menyusahkan Navya lagi.
Malam hari tiba dan mereka memutuskan untuk tidur bersama di kamar Navya. Saat itu, terjadilah percakapan diantara dua sahabat ini.
“Nav..?”
“iya..?”
“aku belum tahu pekerjaanmu. Apa sebenarnya pekerjaanmu..? dan dimana kau bekerja..?” tanya Naina.
Navya hanya diam saja dan tak menjawab pertanyaan itu. kemudian dia memalingkan badannya membelakangi Naina dengan wajah yang gelisah.
“Nai, bukankah sudah kukatakan kalau aku bekerja dikantor..? dan tentang kantor mana, kapan-kapan ya..? aku ceritakan padamu. Aku sangat ngantuk nih..!”
“baiklah. Selamat tidur. Aku matikan lampunya.” Ujar Naina.
Naina sudah tertidur dengan cepatnya. Sementara Navy masih gelisah dan memikirkan yang tadi.
----------
Hari baru menyambut mereka dengan penuh semangat. Dan mereka berdua saling berpisah ketika sampai dihalte bis untuk pergi ke kantor mereka masing-masing.
Didepan pintu perusahaan Naina, sangatlah ramai dengan lalu-lalang karyawan yang sedang terburu-buru. Tetapi, Naina sangat santai sambil berjalan diantara para antrian itu. dan tak perlu waktu lama, sampailah ia dikantornya.
“hufft.. hari pertamaku bekerja. Setelahnya apa ya..?” gumam Naina sembari duduk dikursinya.
“maaf nona, tuan ceo ingin kau menemuinya.” Ucap asisten itu.
“baiklah. Aku kesana.” Ucap Naina sembari beranjak dari duduknya.
“semoga saja..dia takkan macam-macam.” Gumam Naina yang melangkah pergi menuju ruangan Danis.
Begitu Naina masuk, Danis tak berkata sepatah kata pun dan terlihat masih fokus dengan komputer dan beberapa tumpukan berkas disampingnya. Dengan menarik nafas panjang, Naina segera bertanya padanya.
“bos, ada perlu apa kau memanggilku..?” tanya Naina yang tengah berdiri dihadapan Danis.
Danis hanya meliriknya sekejap dan kembali mencari-cari sebuah barang di lacinya. Naina dengan sabar menunggu tugas yang akan diberikan padanya. Sesaat kemudian, Danis memberikan sebuah berkas dihadapan Naina.
“itu adalah tugasmu.. Jadi, selesaikan secepatnya. Dan..oh ya! Siang ini kita akan mengadakan rapat lagi mengenai dana untuk proyek.” Ujar Danis.
“baiklah akan ku kerjakan.”ucap Naina sembari membawa berkas itu dan keluar dari ruangan Danis.
“tunggu ! satu lagi. ambil ponsel ini. saat itu ponsel mu rusak dan pakailah yang itu. didalamnya sudah ada nomerku.” Ucap Danis yang menunjuk sebuah box berisi ponsel baru dan memberikannya pada Naina.
“oh..baiklah. terima kasih.”
Setelah itu, Naina pergi ke ruangannya untuk mengerjakan tugasnya. dia benar-benar fokus sampai tak terasa jam menunjukkan pukul 2 siang.
Dan selama itu, ia sekalipun tak beralih dari tempat duduknya dan membuat tubuhnya kaku. Sambil sedikit meregangkan tubuhnya, Matanya pun jadi tertuju pada buku catatan yang selalu tersimpan dilaci mejanya. Dan tangan Naina yang terdapat jiwa seni itu, mengambar seorang wajah pria dikertas itu.
“oh..?! siapa pria itu..?”
“aakhh..!!” teriak Naina yang kaget dengan kehadiran Danis dibelakangnya.
Dia langsung menyembunyikan gambaran itu dan mencoba mengelak dari Danis.
“ahhh.. bukan siapa-siapa. Aku hanya asal-asalan mengambar.” Ucap Naina dengan senyuman yang canggung.
“benarkah…? Kalau begitu cepatlah keruangan rapat.” Ujar Danis.
Naina langsung bersiap menuju ruang rapat. Dan kali ini bagian dari perusahaan Skyart yang akan memberikan penjelasan mengenai total keseluruhan dana yang dibutuhkan proyek. Setelah beberapa saat, datanglah para perwakilan dari perusahaan tersebut. Begitu terkejutnya dia karena yang datang kali ini, adalah orang yang sangat dekat dengannya.
“Navya..?” gumamnya yang masih tak percaya kalau dia bekerja untuk perusahaan Rayn.
Bersambung…