
“apa !? kau bilang anakku dan gadis licik itu, baru saja menikah..?
bagaimana bisa..!?” seru John.
Dia nampak kaget sekali dengan kabar dari anak buahnya yang mengintai gerak-gerik Danis. Dia tak menyangka kalau Naina akan bertindak secepat ini dalam mengagalkan rencananya.
Kini, John Asher harus memutar otak dan pikirannya agar rencananya tak melibatkan anak semata wayangnya itu. didalam kediaman Asher di kota sebelah, para pelayan yang berjumlah ratusan orang itu sedang sibuk membersihkan rumah mewah bak istana itu. John kemudian pergi ke ruangan kerja dirumahnya dan merencanakan sesuatu lagi.
“John, minumlah. kulihat kau sangat kebingungan. Ada masalah apa..?” tanya Aneta.
“aku tak percaya kalau dia akan melibatkan Danis dalam hal ini !”
seru John sembari melempar barang yang ada dihadapannya.
“apa maksutmu..? ada apa dengan Danis..?”
John pun menjelaskan kepada istrinya, Aneta mengenai semua kabar tentang Danis dan Naina yang sudah menikah.
Aneta adalah wanita dengan tutur kata dan hati yang lembut.
Tetapi, karena mata dan rambutnya mirip dengan mendiang ibu Danis, ia selalu menuduh dan menyalahkannya atas kematian ibunya. Hingga saat ini, seberapa pun bencinya Danis pada ibu tirinya itu, Aneta selalu memberi perhatian dan kasih sayang kepada Danis.
“jika itu keputusannya, biarkan saja.” Ucap Aneta sembari membereskan barang yang berjatuhan.
** prangg ! **
“apa kau gila..? apa kau tak mengerti juga..?
dia adalah anak dari orang yang telah melenyapkan istriku, anakku dan semua kebahagiaanku !”
teriak John yang usai melempar cangkir minuman dimejanya.
Begitu mendengar kata-kata itu, hati Aneta tak bisa menahan kesedihannya. ternyata,di pikirannya yang ada selama ini adalah dia selalu saja dianggap penganti oleh suaminya sendiri. bukan sebagai istri sahnya.
Meskipun ia bertahun-tahun tak bisa memberikan keturunan pada keluarga Asher, tetapi ia tetap setia mendampingi suaminya itu.
“John, kalau kau tak suka dengannya. Biar aku yang akan mengurus menantu baru kita.”
Ucap Aneta sembari pergi dari ruangan itu.
Siang hari itu sangatlah panas dengan sinar mentari yang sangat terik. Seusai mengurus surat pernikahan, Naina memutuskan untuk makan siang disebuah restoran bersama Danis.
Dia hanya terdiam dan menutup rapat mulutnya tak berkata sepatah katapun. Dia hanya coba menikmati makanan yang ada sembari memandang ke arah luar jendela.
“kau yakin melakukan ini hanya untuk membebaskanku dari ayahku..?
bukan karena kau suka padaku..?” tanya Danis sembari memberikan makanan ke piring Naina.
Naina hanya melirik Danis dan mengabaikannya. Ia kemudian kembali memakan makanan yang diberikan Danis di hadapannya.
Ia sama sekali tak bisa menjawab pertanyaan itu saat ini. dan setelah makan, mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju luar kota. Ke rumah orang tua Danis, rumah mertua Naina.
“tuan muda, nona. Silahkan masuk..” ucap sala seorang pelayan sembari membukakan pintu besar dikediaman Asher.
“Naina, Danis. Selamat datang. Ibu sudah..” ucap Aneta yang terdiam karena Danis menolak untuk memeluknya.
Kemudian Naina menatap ke arah Danis yang saat itu memasang wajah dingin dan tak suka. Akhirnya Naina yang membalas pelukan selamat datang itu.
“iya, ehhm..nyonya. kami kesini karena..”
“karena kami sudah menikah secara sah. Dan Naina sedang hamil.” Sahut Danis sembari meraih tangan Naina dan mengajaknya pergi.
“eh..? Danis, kemana ini..?”
Danis menyeret Naina yang masih mencoba menjelaskan maksud kedatangan mereka pada Aneta, ibu mertuanya. Saat itulah Naina tahu kalau dia tak menyukai wanita itu. bahkan terlihat sekali di wajah Danis. Naina dibawa ke ruang atas menaiki tangga dan masuk ke sebuah kamar yang begitu besar.
“ini, adalah kamarmu. sekarang, jangan keluar dulu sebelum aku datang kemari.
Ingat ! kau jangan keluyuran disekitar rumah ini !.” ucap Danis yang setelah itu pergi keluar dari kamar itu dan menguncinya.
Naina hanya menatap tajam dengan umpatan dihatinya. Tapi, ia kini senang karena berhasil masuk ke rumah kediaman Asher ini. dan langkah selanjutnya baginya, akan semakin mudah. Danis pun turun dan disana, ia sudah dihadang oleh ayahnya.
“apa yang kita bicarakan tentang gadis itu..?
apa kau tak takut dengan ancaman ayah..?”
ucap John.
Langkah Danis pun terhenti dan dia menghela nafasnya. Kemudian segera menjawab ucapan ayahnya itu sembari berbalik kearahnya.
“ayah lakukan saja apa yang ayah mau.
Dan aku sekalipun tak takut dengan ancaman ayah itu ! karena aku, akan melindungi Naina dengan cara apapun juga !”
ucap Danis kemudian pergi dari sana.
John semakin geram oleh tingkah Danis. Dia kini tak menyangka anaknya menjadi berani menentangnya, tak seperti dulu lagi. Hal itu membuat John terpaksa akan melancarkan rencananya dan melibatkan Danis anaknya.
Disisi lain, Naina yang masih didalam kamar mencoba berkeliling kamar itu dan melihat-lihat sekitarnya.
“wahh..!! benar-benar kamar yang sangat besar ! ini seperti luas rumah ku dulu. Ehh..?!”
Tanpa sengaja, ia jadi terpikirkan rumahnya dulu yang dimana ada seorang teman yang selalu bersamanya. Sudah hampir 2 minggu mereka tak saling bertemu dan menyapa. Meski dihati Naina sudah memaafkan Navya, tetapi tetap saja ia berfikiran takkan bisa bertemu dengan suasana yang sama seperti dulu lagi.
“hahh…sudahlah Naina. kali ini fokus dengan tujuanmu dulu..” ucap Naina sembari mengelap matanya tiba-tiba saja mengeluarkan air mata.
Naina kemudian berdiri diluar balkon kamar itu dan menikmati suasana angin sore disana. Ia berharap kerinduan akan sahabatnya ini, akan terobati. Entah cepat atau lambat.
“apa kau suka kamar ini..?” ucap Aneta yang tiba-tiba saja masuk kedalam.
“hah..? i..iya suka.” Ucap Naina yang tersadar dan kaget dengan kedatangan ibu mertuanya ke kamarnya.
Bersambung…