
Danis merasakan keanehan dengan ekspresi di wajah Naina. ia berfikir kalau Naina sudah menghetahui tentang sesuatu. Dan segera ia berkata padanya.
“coba kulihat. Oh, ternyata bukan. Aku pikir aku salah lihat karena, fotonya hitam putih.” Ucap Danis.
“Danis, apa kau yakin..?” tanya Naina dengan penuh keyakinan.
“ya.! Tentu. Aku bahkan tak mengenali siapa orang disana.” Ucap Danis.
“Danis, kau berbohong ! aku bisa melihat itu dari matamu.” batin Naina.
“ehm..Naina. ini sudah malam. Bukankah kau harus tidur..? atau kau..sengaja begini agar aku mau tidur denganmu..?”
“ehh..!? mana..mana ada.! Eng..nggak kok. Kalau begitu aku tidur dulu.” Ucap Naina sembari pergi.
Naina masih benar-benar berfikir kalau Danis menghetahui sesuatu tentang foto itu. dia berfikir bagaimana jika ia mencocokkan foto orangtua Danis yang waktu itu dengan foto yang berada ditangannya. tapi, besok adalah hari libur dan Danis juga pastinya seharian ada dirumah. dan hal itu akan sulit jika mencarinya jika Danis masih ada disekitar rumah ini. lama-lama berfikir, membuatnya mengantuk dan kemudian tertidur.
------------
Pagi hari menyambutnya dengan kejutan yang tak terduga. Naina yang matanya masih belum sepenuhnya terbuka, tiba-tiba saja merasakan sesuatu yang berat diatasnya. dan benar saja ! Danis sudah menindihnya dan langsung memberikan ciuman pagi yang lembut.
“Da..Danis kau..”
“kenapa..? apa kau sudah mulai jatuh cinta padaku..? hmm..?” ucap Danis dengan memandang wajah Naina sangat dekat.
Berapa pun Naina mengingatkan akan kesepakatan kontrak itu, Danis masih saja melakukannya. Seakan-akan Naina sedang berbicara dengan batu. Dan tiba-tiba saja, Danis memeluknya dengan erat dan membuatnya sesak nafas.
“uhukk..uhukk..Da..Danis. hentikan ! kau berat..uhuk ! uhukk!”
ucap Naina sembari memukul-mukul punggung Danis.
“baiklah. Hari ini aku memutuskan, kau harus ikut aku jalan-jalan. Dan tak boleh menolak !” ucap Danis yang telah melepaskan pelukannya.
“ya tuhan, apa lagi ini..?” gumam Naina dengan menghela nafasnya.
Naina pun bersiap-siap berangkat memenuhi ajakan Danis. Dia nampak sangat cantik dengan memakai kemeja merah polos berlengan pendek yang diikat ujungnya. dan dibagian dalamnya terdapat kaos putih polos yang sangat cocok dengan sepatu berwarna pink pastel. Kecantikannya semakin terlihat kala rambut hitam panjang itu, dikepang miring ditambah riasan naturalnya.
Danis yang melihat Naina turun dari tangga, tak bisa berkedip untuk beberapa saat. Kecantikan Naina itu sangatlah alami dan membuatnya semakin jatuh hati. Saat sampai dibawah, Danis tersenyum padanya dengan memberikan lengan kanannya. Inginnya dia menolak, tetapi Danis terus saja menatapnya dan tak punya pilihan lagi selain mengandeng lengannya itu.
“kita, akan kemana..?” tanya Naina.
Danis membawa Naina ke tempat yang belum pernah dia kunjungi sebelumnya. Dan sengaja agar Naina terpesona saat melihat tempat itu. sesampainya disana, merka segera turun dan Naina sangat takjub setibanya ditempat itu. sebuah taman bunga dengan luas 10 kali lapangan sepakbola itu, benar-benar memanjakan mata Naina. dia tak pernah melihat taman beraneka bunga seluas itu selain taman bunga di mansion Danis.
“Naina, lihatlah kemari..”
**Ckrekk**
Tanpa sepenghetahuan Naina, Danis memotretnya. Sempat terjadi aksi adu mulut diantara mereka. Dan akhirnya Naina harus kembali kalah dengan bujukan Danis.
Selain taman bunga, tempat itu juga banyak destinasi wisata lainnya seperti wahana permainan. Tapi bagi Naina, bunga-bunga itu lebih indah dari semuanya. Mereka berdua benar-benar menikmati semuanya dengan bahagia dan disaat itulah, Naina melihat Danis yang tertawa lepas.
“oh..?! kau sangat tampan kalau tertawa. Itu akan jadi momen langka kalau aku satu-satunya orang yang melihatmu tertawa..” ucap Naina sembari memakan es krim yang telah dibelinya.
“iya, tentu. Kau akan selalu jadi satu-satunya.” Ucap Danis dengan mendekat ke wajah Naina.
“hehehe…itu ! wahana itu sangat seru. Kita kesana yuk !” ujar Naina sembari mengalihkan perhatian Danis.
Wahana itu begitu ekstrim dan hanya beberapa orang saja yang bisa masuk. Hal itu membuat Naina ragu dan ingin mengurungkan niatnya. Tetapi, ia ingat. Ia sendiri yang menginginkan Naik wahana itu. dengan segala keberanian dan tekad, ia menaiki wahana itu. dan setelahnya adalah Naina mual-mual karena tak tahan dengan kecepatan wahananya. Danis memutuskan untuk mengajak Naina beristirahat sebentar sambil dia membelikannya minuman.
“hufft..lama sekali dia. Apa dia membeli minuman di mars..?” seru Naina yang telah kelelahan seusai naik wahana tadi.
Naina pun mencari Danis dan dia melihat Danis edang dikerumuni orang banyak. Didepannya, ada seorang anak kecil yang menangis dan Danis memberikan anak itu pada orang tuanya. Rupanya ia telah membantu seorang anak kecil yang tersesat dari orang tuanya dan hampir diculik orang jahat.
saat itulah, Naina merasakan sesuatu yang aneh di hatinya. Sesuatu yang sangat berarti dan membuatnya tak bisa berhenti berdebar-debar disamping Danis.
“tuan, terima kasih atas bantuanmu” ucap ibu itu yang kemudian pergi bersama anaknya.
Danis kemudian pergi menghampiri Naina yang telah lama menunggunya. Naina masih terlihat bingung dan terheran-heran. Pria itu hari ini bisa jadi sosok yang lembut dan peduli kepada orang lain seperti itu. mata Naina tak henti-hentinya memandangi Danis yang berjalan menuju kearahnya dan meraih tangannya
“maafkan aku telah membuatmu menunggu. Ayo kita pergi..” ajak Danis sembari mengengam tangan Naina.
“Danis, sebenarnya aku.. aku rasa jalan-jalan kita cukup sampai hari ini saja.” Ucap Naina yang melepas gengaman tangan Danis.
Danis hanya tersenyum kecil melihat ekspresi Naina yang masih terlihat kesedihannya. Bagaimanapun juga, Danis mencoba menghiburnya hari ini dan tentunya ada kejutan lain yang akan ia berikan. Dengan kembali mengengam tangan Naina, Danis kemudian mengajaknya kembali ke mobil. Mengendarainya kembali menuju tempat yang tentunya akan sangat disukai Naina.
BERSAMBUNG…