Story Under The Rain

Story Under The Rain
Pelukan



Naina kemudian berjalan menuju kamar mandi didalam ruangan VIP tersebut. Memang kamar mandi dirumah sakit tak sebaik dirumah. Akan tetapi, dia tak peduli dan melepaskan pakaiannya. dia segera menyalakan air shower dan mandi dengan puasnya.


“hahh..seperti sudah sangat lama aku tak mandi. Rasanya badanku lengket semua” ucapnya.


Setelah beberapa lama kemudian, ia selesai mandi dan memakai handuk seadanya disana. Namun, dia dikejutkan dengan Danis yang tiba-tiba masuk dan membuat Naina tak sempat berteriak.


***brakk !!**


“Da..Danis..? apa yang kau..? eh..!! turunkan aku ! Danis !”


Danis langsung menggendong Naina tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Dia membawanya keluar kamar mandi dan mendudukkannya di atas ranjang tidurnya lagi.


Naina masih kaget dan agak gugup dengan tingkah Danis. apalagi, selepas menaruhnya disana, Danis malah terus memandanginya. Naina hanya bisa menutupi bagian diatas handuknya dan berharap ini bukan trik Danis untuk mengodanya lagi.


“apa kau sudah lebih baik dari sebelumnya..?”


“eh..?!”


Naina terkejut dengan Danis yang menaruh telapak tangannya diatas dahinya seperti memeriksa dia demam atau tidak. Hampir saja dia buat ketakutan olehnya.


“ini. pakailah bajumu. Malam ini aku akan tidur disini lagi.” Ujar Danis yang menaruh tas berisi pakaian satu pasang milik Naina kemudian berjalan keluar.


Naina masih melihat Danis yang keluar dari sana dan menutup pintunya. Yang kemudian, dia mengambil pakaian dari tas itu dan memakainya.


“apa dia khawatir aku pingsan lagi di kamar mandi ya..?” gumam Naina sembari memakai pakaian yang diberikan Danis.


“eh..? sepertinya ada yang salah dengan pakaian ini..?” batin Naina.


Dia merasa ada yang berbeda dari desain dan bentuk pakaian yang digunakannya.


Ia memutuskan untuk bercermin didalam kamar mandi. dan tentu saja, Rupanya pakaian yang ia kenakan seperti model lingerie sexy yang biasa dipakai para wanita yang sudah menikah.


“dasar cabul.. !” gumam Naina dengan kesal.


Naina sgera melepaskan pakaian itu dan kembali memakai pakaian yang telah disediakan pihak rumah sakit yang berbentuk piyama. dia tak peduli dengan kebaikan Danis yang ternyata ada maksutnya. Naina menaruh pakaian itu dikamar mandi dan keluar dari sana.


Dan didalam ruangannya, Danis sudah menunggunya sembari memasang senyuman jahatnya.


“kenapa kau memakai pakaian jelek itu lagi..? bukankah lebih bagus dengan pakaian yang ku berikan..?” ujar Danis sembari terus memandang ke arahnya.


Naina tak memperdulikannya dan memasang wajah kesalnya sembari tidur diranjangnya.


Dia bahkan tak tahu kalau Danis mengikutinya dan ikut tidur disampingnya diatas ranjangnya. Naina kaget dan matanya melotot merasakan beban dikasurnya bertambah dan tangan yang memeluknya dari belakang.


“Danis ! apa yang kaulakukan ! kau seharusnya tidur di sofa. Bukan disini.!” Seru Naina.


Atau mungkin.. kita pindah saja menginap dihotel, hmm..?” ujar Danis sembari terus mendekat ke arah Naina.


Naina berusaha mengacuhkannya dan ingin tertidur saja. Tetapi, Danis semakin erat memeluknya dan tak itu saja, dia meniupkan nafasnya sembari mengigit telinganya. Dan hal itu membuatnya risih.


“Danis ! stop it ! Tak bisakah kau tenang sedikit..?” ucap Naina


“tidak ! aku suka memelukmu seperti ini. dan telinga cantikmu itu, membuatku tak bisa berhenti memainkannya.” Ucap Danis sambil mengigit-gigit daun telinga Naina.


Naina tak sabar dengan semua perlakuan Danis dan akhirnya membalikkan badanya sembari memukul dadanya. Namun, hal itu bisa dicegah oleh Danis yang dengan santainya memegangi tangan Naina dan kembali memeluknya.


“Danis ! lepaskan aku. Ukhh..! Danis !” ucap Naina sembari meronta dan berusaha lepas dari pelukannya.


“sstt..tenanglah. apa kau tak suka dipeluk..? diam lah. Aku akan menceritakanmu suatu cerita tentang diriku.” Bisik Danis.


Danis pun menceritakan kalau semasa kecilnya, orang yang paling dia cintai adalah ibunya.


Dia bercerita kalau satu-satunya wanita yang terbaik dan selalu menyayanginya, adalah ibunya. Ibunya sangat menyukai anak-anak termasuk teman-teman masa kecil Danis, sangatlah menyukai ibunya.


Sementara ayahnya, selalu tak peduli dengan dirinya dan hanya mementingkan pekerjaannya. Tetapi, itu semua berubah ketika dia mendapat sebuah kabar yang baginya adalah mimpi buruk terbesarnya.


Naina terpaku dengan semua cerita Danis. Dia tak menyangka Danis akan bercerita mengenai ibunya yang sangat dia cintai itu.


tetapi, ia masih tak tahu dengan pasti apa yang terjadi pada ibunya waktu itu. dan hal itupun membuat Naina murung, beranjak dari kasurnya menuju arah sofa. tetapi, langkahnya terhenti ketika Danis mulai berbicara.


“aku tahu. kau pasti tak suka jika aku menceritakan hal ini padamu. Tapi, percayalah. Aku sudah bisa melupakan kisah masa laluku dan ibuku itu, secara perlahan.


Meski tak semuanya bisa hilang begitu saja. tetapi, aku harus melupakan semua itu.” ujar Danis yang kemudian juga ikut berdiri dari ranjang itu.


Danis melangkah maju menuju arah Naina yang masih terpaku berdiri disana. Dia segera memeluknya lagi dari belakang dan berkata padanya sembari bersandar dibahu Naina.


“Naina, aku tak peduli jika kau sama sekali tak menyukaiku. Tetapi, apapun yang terjadi Kau harus selalu ada disisku.” Ucap Danis sembari memeluknya.


Hati Naina bergetar mendengar kata-kata itu.


ia tak berdaya lagi harus berbuat apa. Baginya, ini semua hanyalah permainan. Namun, Danis menganggapnya sebagai sungguhan.


Naina berfikir kalau hal ini tak bisa terus dilanjutkan. Ia harus segera melaksanakan rencananya dan menyudahi semua sandiwara ini.


Terpaksa pada malam ini, Naina menurut untuk tidur bersama Danis di ranjangnya. Sembari Danis yang memeluknya seperti tadi, Naina berusaha keras untuk memejamkan matanya. Tetapi, ucapan Danis masih saja terngiang dikepalanya.


"Naina, please stay with me. aku akan slalu membahagiakanmu.." batin Danis sembari terus memeluk dan memandangi wanita itu dari belakang


Bersambung..