
John masih disana sambil memegangi kepalanya dengan kedua tanganya karena kebingungan. Dia tak tahu harus berbuat apa lagi seusai memperingkatkannya. Tetapi, pikirannya sirna begitu Aneta masuk ke dalam kantornya.
“John, sepertinya kau benar. Kalau Naina, memang tak hamil.”
John terkejut dengan persepsinya yang telah dibuktikan oleh Aneta saat memasak masakan tadi. Sejak awal dia memang curiga kalau gadis ini, sudah tahu yang sebenarnya dan sengaja merencanakan ini untuk membongkar kejahatannya.
Aneta masih saja nampak kecewa dengan kenyataan yang baru saja dia ketahui. Karena saat dia memasak makanan tadi, ada buah nanas yang terselip diantara salad dan supnya. Awalnya dia tak tega dan malah akan menyesal kalau benar Naina hamil. Tapi sampai saat ini, tidak ada rasa sakit atau pendarahan apapun dari tubuh Naina. padahal dia berharap lebih dari gadis yang nampak polos itu.
“lalu, apa yang akan kaulakukan..?” tanya Aneta.
John terdiam sembari terus menjentikkan jarinya ke meja. Jentikkan itu terhenti saat dia tahu apa yang harus dilakukannya.
---------
Siang itu, seusai menenangkan Naina, Danis membawanya langsung pulang ke rumah. Tangannya masih diliputi rasa marah yang terlihat dari aliran darahnya yang terukir diantara jari-jarinya saat mengengam setir mobil.
Naina memandangi keluar jendela sembari menumpukan pipinya diatas tangannya. Tak ada suatu obrolan pun diantara mereka. Hubungan rumit ini, layaknya ujung mata pisau yang siap melukai keduanya.
“tunggulah aku saat petang nanti.”
Danis langsung melajukan kendaraannya dan Naina segera masuk kerumah itu. dengan menghela nafas yang panjang, sembari memejamkan matanya, dia berfikir apa yang harus ia lakukan dengan ancaman John Asher tadi. Sebenarnya dia tak takut. Hanya saja, dia khawatir John akan melibatkan orang disampingnya.
Pikirannya langsung tertuju ke Navya yang dulunya adalah orang suruhan John. Sebagai orang yang paling dekat dengannya, tentu Navya akan jadi target utamanya cepat atau lambat. Segera dia mengganti pakaiannya dan pergi keluar menuju rumah Navya.
**tok ! tok ! tok !*
Berulang kali tangannya mengetuk pintu rumah kecilnya. Namun, sama sekali tak ada jawaban. Naina jadi ingat, kalau sekarang, dia mungkin sedang bekerja. Naina terus berlari mengejar waktu sembari terus menyambungkan telponnya ke Navya.
Tetap saja, tak ada jawaban yang makin membuatnya semakin panik. Sesampainya digedung tempat Navya bekerja, dia berlari kesana kemari untuk mencarinya. Dan akhirnya, saat lift terbuka Navya dipeluknya dengan erat sampai membuat Navya kaget akan kedatangannya.
“tenang, tenanglah ! aku ada disini..” ucap Navya yang menenangkan hati Naina.
Naina membisikan padanya kalau mereka harus berbicara berdua dan Keduanya pun memilih untuk pergi ke sebuah tempat yang enak untuk mengobrol. Mereka memutuskan untuk pergi ke kafe sembari makan dan mengobrol.
.
.
Kafe itu jaraknya cukup dekat dengan berjalan kaki yang tak sampai sepuluh menit. Sewaktu diperjalanan, Naina merasa ada yang aneh dari orang-orang yang dia temui dan lewati dijalan, semua nampak memandang kerahnya sembari berbisik dengan tatapan yang sinis.
Navya segera menepuk pundaknya dan berkata kalau mereka hanya iri dengan gaya hidupnya yang kini telah menjadi istri Ceo besar.
“ceritakan, apa yang mau kau katakan.” pinta Navya.
**byuur **
Tiba-tiba seseorang menyiramkan minuman ke wajah Naina. dengan gelagapan, Naina berusaha membersihkan wajahnya dari minuman itu.
dan rupanya, orang itu tak cukup sampai disitu.
Dia kembali meneriakinya dan mencemohnya dengan sebutan ‘gadis murahan’ Navya tak tinggal diam dan langsung membalas makiannnya.
Naina kini tahu, siapa yang menyiramkan minuman itu sesaat sesudah mengelap wajahnya dengan tisu.
“hei, lihat semua ! ini dia ! gadis murahan ini, tak hanya merebut tunanganku dan melakukan pernikahan palsu !
tetapi, dia juga berbohong dengan kehamilannya untuk masuk ke keluarga kaya raya !” seru Selena.
Naina hanya diam melihat semua kerumunan orang disekitar kafe dan jalanan itu, tengah memandanginya.
Semakin lama, tak hanya tatapan mereka yang menghinanya tetapi juga kata-kata mereka dan cemoohan juga menyerang Naina.
Navya langsung mengajaknya kabur untuk pergi dari sana. Tetapi, ditengah perjalanan keduanya diperlihatkan lagi tentang siaran berita yang ada disebuah layar billboard Besar yang ada di Mal-mal juga gedung-gedung besar mengenai berita kepalsuan kehamilan Naina. juga, terdapat siaran tentang pertengkaran mereka dan Selena tadi.
Navya semakin khawatir dengan keadaan Naina yang tengah dipegangnya ini, ia tak hanya nampak murung dan sedih. tetapi, orang-orang disekitar situ, juga semakin banyak yang meneriakinya. Navya segera melambaikan tangan untuk memanggil taksi.
“Nai, sudah tenanglah. Kita sudah pergi dari sini.” Ujar Navya yang melihat ke belakang kaca taksi kemudian mengelus pundak Naina yang masih saja diam tertunduk.
Matanya masih saja terlihat tak percaya, syok akan apa yang sudah terjadi. Kini, dia tak bisa berfikir apapun tentang rencananya.
.
.
.
.
Beberapa saat, tibalah keduanya dirumah kecil Navya. Yang mana dulunya, juga rumah mereka berdua. Navya nampak canggung dan bingung harus bertingkah apa demi Naina agar dia mau membicarakan satu kata apapun. Dia berusaha bersikap normal dan menghiburnya dengan perkataannya.
“oh, lihat ! bukankah ruang tamu ini bagus..? saat kau tak ada, aku merenovasi ruang makan ini dan menjadikan ini sebagai ruang tamu kecil dan menambahkannya sofa.” Ucap Navya dengan tersenyum getir.
Tetap saja, Naina hanya tertunduk lesu dan duduk dipojok sofa itu sembari terus memegangi tasnya. Dan syoknya tadi, membuatnya jadi sulit untuk mengeluarkan air matanya.
“apa aku ini memang seorang pecundang ya..?!”
Navya menghampirinya dan duduk disampingnya, kata yang akhirnya dia tunggu terucap, nampak sangat menyedihkan baginya.
“tidak Nai, kau..”
“aku sangat bodoh hanya demi balas dendam. aku..aku..”
Tangisannya pecah begitu Navya memeluknya. Sandaran sahabatnya itu, seolah tempatnya bagi mengeluh dan membuang air matanya. Suara serak akan tangisannya, ditepis Navya dengan terus mengelu-elus pundaknya. Pelukan Navya tak cukup untuk menenangkannya.
Apa yang selama ini dirasa Naina benar, Sekarang menurutnya adalah kesalahan yang sangat besar. Selama hidupnya, salah satu bagian menyedihkan dalam hidupnya adalah ketika semua cemoohan orang–orang itu. dan sewaktu kecil, dia ketakutan dengan makian mereka karena Naina yang tak memiliki orang tua.
Bayang-bayang hinaan itu, tak bisa hilang dari kepalanya dan kini malah terjadi lagi dan sangat jelas.
Kehilangan orang tua saja sangat pedih baginya apalagi ditambah dengan bully-an semua orang mengenai dirinya, semakin membuatnya sakit.
Yang kini bisa dia lakukan, hanya berdiam diri dibalik selimut yang ada dikamarnya dulu sembari memejamkan mata. Berharap ketakutan dan rasa sakitnya akan hilang.
Beruntung sekali, Navya mengerti keadaannya dan tak bertanya begitu banyak mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Navya membiarkan temannya itu tidur. lalu, menutup pintu kamarnya.
**ting tong !**
Suara orang memencet bel dari pintu depan. Ia berharap, bukan orang yang akan mencelakai Naina atau dirinya lagi. Saat membuka pintu, dia sedikit tertegun dengan siapa yang masuk.
Tanpa berlama-lama, Navya mempersilahkannya masuk dan duduk disofanya.
Danis, yang masih memakai setelan jas tahu kalau Naina pasti akan berlari kemari. Dengan dinginnya, ia bertanya pada Navya dan dia pun menjelaskannya dengan detail.
Apa yang telah terjadi, adalah jauh dari jangkauan Danis. Ia hanya bisa menghentikan penyiaran berita yang ada di tengah kota, mengubungi mereka agar menghapus berita itu, dan mencari keberadaan wanitanya.
“Danis, bisakah aku tahu yang sebenarnya, dan apa alasan Naina ingin menikah kontrak denganmu..?”
Dia hanya diam sembari berdiri dan beranjak dari sana. sambil memejamkan matanya karena tak bisa menjawab apapun dari pertanyaan itu, ia melangkah menuju kamar Naina dan membuka pintunya.
Dilihatnya Naina yang menyedihkan terkelungkupi selimutnya. Alisnya mengangkat naik dan sepertinya ia masih tak bisa tidur dengan tenangnya.
Danis kembali menutup pintunya. Dan berpesan agar Navya menjaga Naina. Navya kesal dengan perlakuan Danis yang nampak tak menghiburnya atau bahkan mencoba melindunginya seperti yang ia bayangkan.
“hahh..baiklah. besok, Terbanglah menuju kota S. Persiapkan sebaik mungkin jangan sampai tahu kalau ini merupakan rencanaku.
Dan semuanya sudah kusiapkan besok. Aku pergi dulu..”
Tangan Navya berusaha mengangkat untuk menghentikannya sembari bertanya lagi. tetapi, mulutnya terhenti begitu melihat Danis keluar dari pintu rumahnya.
Dia hanya bisa menuruti perkataannya dan mempersiapkan segala sesuatunya sebelum pagi datang dan Naina bangun.
Navya berharap kalau rencana Danis akan membuat Naina lebih baik. Ia tak menyangka Naina akan terlibat masalah yang lebih rumit dari hidupnya. Sembari menata koper dan keperluan, ia terus saja menghela nafasnya. Tak tahu apa yang akan terjadi esok paginya.
*Bersambung..
📌jangan lupa like dan komennya untuk perkembangan ceritaku selanjutnya yakk🙏🏻