Story Under The Rain

Story Under The Rain
Hujan dimalam hari



Naina dengan cepat memilih ikut dengan Danis dan segera melepaskan gengaman tangan Rayn. Naina sangat pasrah saat Danis menarik tangannya dan mendorongnya masuk ke mobil di kursi belakang pengemudi.


"akhh.." teriak Naina.


“hei wanita..kulihat kau sangat pandai bermain mata dengan pria lain ya..?!!


apa menurutmu aku kurang menarik sampai kau pergi dengan pria lain..?” ujar Danis yang tengah memegang erat dagu Naina.


“ti..tidak.. ak..aku..”


“katakan ! apa kau mencoba menghindariku..?” bisik Danis yang kini menimpa tubuh Naina didalam mobil.


“tidak Danis, aku tak ingin menghindarimu! aku..”


Dengan tanpa pikir panjang, Danis mendaratkan ciumannya dibibir Naina. sembari terlentang didalam kursi mobil, Naina mencoba melepaskan diri darinya.


tapi, ciuman itu semakin kuat dan tak memberi waktu bagi Naina untuk bernafas.


“hahh...hahh Danis, Cukup!” Ucap Naina sambil terengah-engah dengan ciuman Danis.


Danis sangat kesal sampai ia melepas jas dan dasinya yang kemudian mengikat kedua tangan Naina keatas dan kembali mencium bibirnya dengan sangat panas.


dirinya benar-benar hilang kendali sampai ciuman itu meluncur ke arah leher mulus Naina.


“Danis.. jangan…” rintih Naina yang mengeluarkan air mata dipipinya.


“Cih..!!”


umpat Danis ketika Naina berusaha melepaskan diri dari ciumannya.


Danis merasa seperti penjahat ketika melihat wajah Naina yang menolak. segera ia melepaskannya dan bangkit dari tubuh Naina kemudian mengemudikan Mobilnya menuju rumahnya.


ditengah hujan, mobil itu menerobos semua guyuran hujan dan Naina hanya bisa duduk dibelakang sembari terus memeluk dirinya sendiri. tangisannya seolah bisu tak terdengar. Namun, hatinya sudah terluka dengan perlakuan Danis. Ia hanya memalingkan wajahnya tak berani melihat ke arah Danis yang sedang menyetir.


“keluar !!” seru Danis.


Naina pun keluar dari mobil itu. ditengah hujan tanpa payung, ia berjalan ke rumahnya dan sedikit basah kuyup.


“lohh..?! Nai, kau kehujanan..?” tanya Navya saat membukakan pintu.


Naina hanya terdiam tanpa sepatah kata pun. Dan segera masuk kekamarnya untuk membersihkan dirinya.


“Danis, sampai kapan kau menghantui ku..?” tangisnya didalam kamar mandi.


--------


“selamat pagi..!” sambut Navya.


“iya pagi.” Balas Naina.


“Nai.. aku hari ini akan bekerja di perkantoran sepertimu ! hahh..rasanya aku sedikit gugup.” Ujar Navya sembari tersenyum riang.


“kalau begitu, semangat ya kerjanya..!” balas Naina sambil sedikit tersenyum meihat tingkah sahabatnya itu.


**drett..drett**


“eh Nai, ponselmu bergetar. Coba kau periksa.” Pinta Navya.


Naina dengan sedikit lesu melihat layar ponselnya. Betapa terkejutnya ketika ia mendapat pesan tak terduga diponselnya. Sampai-sampai mata Naina terbelalak itu dan membuat penasaran Navya.


*Nai, apa kau baik-baik saja..? apa kau pulang dengan selamat..?**


“kak rayn..?” batin Naina yang tengah membaca pesan itu.


“kenapa Nai..? kok kaget begitu..?”


tanya Navya sembari memberikan sepiring Nasi pada Naina.


“nggak kok ! bukan apa-apa.” Balas Naina sembari tersenyum.


Seusai menyelesaikan makanannya, mereka berangkat bekerja bersama dengan menaiki bis.


Didalam bis, ia masih merenungi kejadian yang dialaminya semalam.


Bahkan ia sendiri tak sadar kalau Navya sudah turun dari bisnya dari tadi. Sambil berjalan keluar bis, ia masih saja melamun. Dia tak siap akan bertemu lagi dengan Danis. Tapi saat menyebrang jalan..


“hei..!! apa kau ingin mati..?”


teriak Danis yang menarik tangan Naina dari tengah jalanan yang ramai.


Naina yang dipelukan Danis benar-benar merasa sangat pusing. Langit terlihat hitam dan putih dan kakinya merasa sangat lemas. Dan sampai akhirnya ia tak sadarkan diri.


Bersambung…