Story Under The Rain

Story Under The Rain
bepergian



pagi menyambutnya dengan terik mentari di pertengahan musim panas. Hidungnya masih bisa mencium aroma kuat alkohol dari bekas bercinta yang ada ditubuhnya.


Dilihatnya disampingnya, penampakan punggung yang memerah akibat kuku-kukunya yang mencengkeram terlalu kuat saat menahan rasa sakitnya semalam.


Dengan melepaskan selimut dari tubuhnya dan memunggut pakaiannya yang terjatuh dilantai, Naina pergi ke kamar mandi dengan terseok-seok.


“ahh sial ! punggungku rasanya sakit semua !” ungkapnya sembari terus memegangi punggungnya dan menahan sakit dibagian bawahnya.


**crasshh !!**


Air hangat segera membasahi sekujur tubuhnya yang penuh dengan aroma pria itu. memang Danis tak seberapa menanggalkan jejak ditubuhnya. Namun, kewanitaannya masih sangat sakit bahkan untuk berjalan karena sakit kerasnya usaha yang dia lakukan semalam.


Sembari duduk berendam di bawah guyuran shower, Naina menekuk kedua kakinya dan menyilangkannya. Ada sedikit rasa sedih disana. Saat dia menyadari, lagi-lagi semalam seharusnya tak terjadi dan itu hanyalah kecelakaan.


Beberapa saat kemudian, seusai memakai kembali pakaiannya dan bergegas pergi dari sana Danis terbangun sembari terus memegangi kepalanya. Danis ingin sekali mencegah wanita itu pergi. Tapi sialnya, dia sendiri juga kelelahan dan tak kuasa untuk menahan Naina pergi keluar.


**kring..!!**


Ponsel Danis berdering keras dan membuatnya semakin kesal saja. Dengan mata yang masih sedikit terbuka, tangannya mencoba meraih ponsel di atas meja dan mengangkat telponnya.


“tuan, sepertinya..kita ada masalah.” Ucap Henry yang terlihat khawatir ditelpon.


-------


Naina tak punya tujuan lain dan hanya membawa taksinya berputar-putar. Dia sangat dibuat bingung setelah situasi semalam. Dirinya merasa takut untuk kembali ke mansion Danis.


Pandangan yang selalu menuju ke arah luar jendela mobil, mendadak ingin berhenti dan turun disuatu tempat. Sopir baik hati itu, dengan hati-hati menurunkan Naina dari mobilnya. Dilihatnya didepannya, terdapat toko obat yang mana pernah dia kunjungi untuk membeli pil kontrasepsi sekitar 5 bulan yang lalu.


“huh..aku harus meminumnya lagi ! setidaknya aku harus melakukan ini sampai hubungan kami menjadi lebih jelas lagi..” gumamnya dengan menghela nafas yang panjang.


Entah sampai kapan, rasa dihatinya akan berubah menjadi cinta yang sesungguhnya dan tulus tanpa perduli bagaimanapun pengorbananya.


Dirinya masih saja ragu akan jalan dari akhir kisahnya berlabuh. Tatapan matanya berubah kosong seusai tangannya tergerak untuk memegangi perutnya. Helaian rambut cepolannya memudar seiring angin menerpa kencang dan bertiup ke arahnya.


Langkahnya masih saja ragu, akan pulang atau menetap. Akhirnya, pikirannya tertaut pada rumah kecil Navya yang terletak tak jauh dari tempatnya. Berlahan tapi pasti, Naina memantapkan diri untuk berkunjung dengan mengetuk pintu rumah itu beberapa kali.


Tadinya, dia pasti mengira jika Navya masih berada dikantornya, namun, siapa sangka kalau ketukannya akan dibalas dengan pintu yang terbuka.


“oh.! Kebetulan aku sedang memikirkanmu. Masuklah.! Sudah lama juga kau tak bekunjung kemari.” Ucap Navya sembari mengintip dibalik pintunya.


Naina membalasnya dengan menyelipkan helaian rambutnya kebelakang telinganya. Sembari tersenyum manis, Navya mengajaknya untuk duduk disofa dan mengengam erat tangannya.


“apa kau mau aku bawakan sesuatu untuk dimakan..?”


“ehm..tentu. boleh !” balas Naina dengan sedikit anggukan dikepalanya.


Betapa senangnya Naina disambut baik dengan sahabatanya itu. tanpa disadari, tawa dan candaan mereka tercipta begitu saja dengan hangatnya. Dua sahabat yang telah lama tak berbahagia, akhirnya kembali tertawa lepas meski dengan candaan sederhana.


Tak lama, senyuman di wajah Naina berubah terbalik ketika Navya bertanya kepadanya.


“jadi, apa kau sudah tahu kau akan berbuat apa setelah keluar dari kantor itu..?” tanya Navya dengan mengunyah beberapa camilan.


“ehm, entahlah. Aku tak ada fikiran apapun mengenai itu sekarang..” jawab Naina dengan menunduk dan terlihat sedikit senyuman diwajahnya.


Navya tak tahu apa yang sedang dalam pikiran sahabatanya itu. semua senyuman yang dia lihat, menjadikan pertanda kalau ada yang tak beres dengannya.


Naina mencoba menormalkan kembali semua pikirannya termasuk ekspresinya. Mencoba untuk menutupi, kalau masalah yang dia dapat lebih besar dari pada yang sebelumnya. Tentang hati, segala urusan terasa menjadi rumit.


“hei, bagaimana kalau ikut aku bersenang-senang ?! hmm..?


kita berbelanja dan makan makanan enak setuju..?” bujuk Navya yang khawatir melihat Naina tertunduk lesu.


Tanpa berlama-lama, dia segera mengganti pakaiannya dan menarik tangan Naina pergi menuju pusat perbelanjaan dikota.


Naina hanya tertegun, melihat semangat teman yang dengan senang hati menghibur dirinya.


.


.


.


.


.


Sesampainya disana, kedua wanita ini bersenang-senang tanp beban dengan mencoba-coba pakaian lucu-lucu dan unik selayaknya tanpa beban. Kamera ponsel tak hentinya memotret gaya-gaya mereka dan galeri pnselnya juga hampir penuh dengan foto-foto kebahagiaan dan canda tawa.


Kemudian, Navya mengajak Naina menuju toko sepatu dan menmilih-milih hak yang pas untuknya. Terus saja senyuman itu terkembang diwajah Navya. Sembari membenahi kacamatanya, terus saja dia mengambil semua sepatu yang menurutnya unik dan bagus untuk Naina.


Tetapi, saat Navya menyuruh Naina memakai sepatu heels itu sembari memeragakannya, Naina hampir terjatuh dan kembali merasakan bagian bawahnya yang masih sakit.


“ap..apa kau butuh ke dokter..?” tanya Navya dengan mengantar Naina duduk kembali.


“benar tak apa..? tapi kau terlihat sangat kesakitan ! aku antar saja ya ke klinik.."


“ehh..! tidak-tidak ! sungguh. Sudahlah lebih baik, kita pergi makan saja.”


Bujuk Naina yang tak ingin merepotkan Navya lagi.


-----


Sore hari sudah menyambut mereka dilangit barat dengan cahaya kemerahannya. Tampak jelas hawa panas disana, menjadi tanda akan puncak musim panas tahun ini.


kedua wanita itu, berjalan beriringan bersama di pinggir jalan sembari membawa segelas minuman di tangan mereka.


Suara serangga dimusim panas, mewarnai perjalanan mereka yang dengan santainya meminum minumannya. Wajah puas dan bahagia sedari tadi nampak awet diwajah Naina.


tanpa sadar, Navya terdiam dan dengan menghentikan langkah Naina saat melihat Danis diujung jalan sudah menunggunya sedari tadi.


“apa kau masih berhubungan baik dengannya..?” tanya Navya.


Naina hanya menoleh ke arah Navya yang sedang bertanya itu. sorot matanya menandakan, kalau dia sebenarnya tak ingin ditemui oleh Danis.


Naina kembali menundukkan wajahnya dan mengengam erat minuman ditangannya.


Danis yang saat itu berdiri disamping mobilnya, mulai mendekat ke arah mereka berdua yang nampak terdiam disana.


“terima kasih kau sudah menjaga Naina untukku. Sudah waktunya baginya untuk pulang sekarang..” ucap Danis sembari meraih tangan kanan Naina dan menariknya untuk pergi bersamanya.


Namun, Naina menahan tarikan dari tangan Danis dengan keras. Danis langsung menoleh ke arah Naina dengan lirikan dinginnya lagi. Navya yang melihat akan hal itu, memegangi pundak Naina sembari tersenyum dan meyakinkan sahabatnya kalau dia akan baik-baik saja.


Naina akhirnya menurut dan pergi bersama Danis menuju mobilnya. Dengan cepat Danis mendudukkannya dibangku depan dan menutup kembali pintu mobilnya. Naina mengengam erat kedua tangannya saat melihat Danis masuk dan mulai menjalankan mobilnya.


Keduanya tak saling berbicara dan hanya terdiam saja. Dan bahkan, sesampainya dimansion keduanya saling tak memperdulikan satu sama lain.


.


.


.


.


.


.


Malam mencoba memberikan waktu bagi Naina untuk bisa tegar dan menyembuhkan lukanya. Nampaknya, dia hanya bisa menenangkan diri dengan meminum seteguk minuman bersoda di kulkas.


Entah karena sedikit kesal atau apa, tangannya menjadi begitu sulit membuka penutupnya dan sampai dahinya berkernyit akan hal itu.


**cess**


Suara karbon dari soda minuman yang etrbuka itu, terdengar keras saat Danis menyahut minumannya dan membantu Naina membukanya. Melihat betapa kerasnya wanita itu berusaha, membuatnya sedikit risih dan kembali peduli terhadapnya.


Naina meraih kembali minumannya dengan sedikit ragu dan sama sekali tak berani menatap mata itu.


“terima kasih..” ucapnya dengan membalikan badannya dan melangkah pergi.


“apa kau baik-baik saja..? kau sedari tadi menghindari dariku..” tanya Danis dan Naina pun tertegun olehnya.


“apa..? ti..tidak. aku hanya.. eh..?!”


Danis segera mengendongnya dan menaikkannya keatas meja. Naina tahu kalau ini akan terjadi. Dan tatapan mata itu, sekali lagi mengarah kepadanya dan menatapnya lekat-lekat.


“maafkan aku, kalau aku sangat kasar semalam. Aku..tak bisa mengendalikan diriku. Apa kau masih merasa kesakitan..?”


Semburat pipi merah Naina tergambar jelas kalau dia agak canggung membahas tentang hal ini. masih saja teringat bagaimana dia menerima semuanya semalam.


Danis merentangkan tangannya dan langsung memeluk Naina. jantungnya semkian berdegup tak karuan dengan Danis yang tiba-tiba saja memeluknya seusai bertanya demikian.


Pelukan yang semakin lama semakin erat itu, membuat wajah Naina semakin memerah dan tak bisa melakukan apapun lagi.


“Nai, besok..aku harus pergi selama 1 bulan ke luar negeri. karena pertemuan yang akan dilakukan 2 bulan lagi, dimajukan jadwalnya." ucap Danis dengan menempelkan dagunya dipundak Naina.


"Aku..sebenarnya tak bisa meninggalkanmu sendiri. bahkan sedetik pun..aku tak bisa berpaling darimu.”


Ucapan Danis itu, terdengar sangat lembut dan tulus. Tangannya yang terhimpit didepan dadanya, menjulur kedepan dengan sedikit gemetaran. Nalurinya berubah dan memeluk lagi Danis dengan erat juga.


Naina hanya bisa menenangkan Danis yang tengah memeluknya sembari terus memejamkan matanya, betapa inginnya dia bisa memeluk wanita itu begitu lama. Dan Naina, terus saja memainkan logikanya, karena kata hatinya yang juga tak ingin melepaskan pelukan itu. pikirnya, suatu saat dia akan merindukan kehangatan ini.


Bersambung..