Story Under The Rain

Story Under The Rain
Perjalanan sebulan



Malam hari terlewat dengan suasana sendu saat itu. tangan yang masih memeluknya sembari tidur, tak bisa dia rasakan lagi nantinya.


Naina masih saja memikirkan apa yang ada dihatinya, mengenai betapa bimbangnya dia saat ini. dia membalikkan tubuhnya lagi menghadap Danis yang terlelap saat itu.


Melihat wajah yang dingin dan bisa bertingkah sebegitu menyentuhnya, terlintas dibenak Naina bagaimana bisa dia bertemu dengan pria ini pada awalnya.


Tak terasa, lamanya dia menatap Danis yang telah tertidur, ia akhirnya menyerah dan ikut tertidur juga.


***


Sinaran mentari dari balik gorden jendela, membuatnya segera terbangun dan merasakan kalau disampingnya telah kosong tak ada orang. Wajah panik Naina tercipta dengan cepat dan dia segera keluar dari kamarnya.


“mau kemana kau sepagi ini..?” ucap Danis yang baru saja keluar kamar mandi.


Naina kaget dengan suara yang dia dengar. Dia telah menyangka kalau Danis telah berangkat tanpa berpamitan dengannya.


Naina yang telah membuka pintu itu lagi, menutup dengan pelan sembari malu-malu memasang ekspresinya yang memungkiri kalau tak ada rasa cemas sedikitpun.


“hahaha…aku..aku ingin kekamar mandi dibawah. Karena melihatmu masih memakai kamar mandinya.


Jadi aku..aku..akan mandi setelah kau mandi saja..”


Dasar bodoh ! apa yang aku ucapkan barusan..? kenapa aku salah tingkah seperti ini..?


Danis terkekeh dan menahan tawa kecilnya melihat Naina yang salah tingkah itu. dia tahu kalau Naina sedang mengkhawatirkannya.


Danis yang memakai kaos putih dan handuk dipundaknya, segera memeluk Naina dengan senyuman diwajahnya.


“tenang saja, aku takkan pergi sebelum berpamitan denganmu !”


Pelukan pagi itu, membuat Naina tenang dan segera merangkulkan tangannya dipunggung Danis. Seketika itu dia sadar, kalau hatinya sudah berada pada Danis dan takkan bisa dipungkiri lagi jika ia benar-benar mencintai Danis.


Dengan lembut, ciuman hangat mendarat dibibir ranumnya. Sembari menutup mata, Naina merasakan betapa leganya dia sudah mengerti apa yang selama ini dia rasakan dan inginkan.


“bersiaplah. Kita akan berangkat ke bandara sekarang..” ucap Danis sembari mengecup lembut kening wanitanya.


----


2 jam perjalanan menggunakan mobil, akhirnya sampailah mereka dibandara. Naina sebenarnya takut jika ayahnya Danis tahu jika dia berada disini. Tetapi, ketakutan itu segera ditepis Danis dengan menyuruhnya tetap tinggal dimobilnya. Roda 4 itu berhenti tepat disebelah pesawat bisnis Danis yang telah siap mengudara.


Danis spontan menggerakkan tangannya untuk membuka pintu mobil. Tetapi, dia hampir saja lupa kalau Naina tak bisa mengantarnya sampai keluar bandara.


Melihat tangan wanita yang mengengam erat diatas kedua pahanya itu, membuatnya ingin sekali tak pergi dan menetap. Diraihnya sembari kembali mengengam erat tangan kecil itu. Danis segera memeluknya dengan penuh kehangatan yang tak pernah dia tunjukkan sebelumnya.


Sedari tadi, Naina masih saja menahan dan enggan mengeluarkan air mata didepan Danis. Dirinya, terlalu gengsi untuk meluapkan perasaannya yang nyata.


“tunggulah aku. Seusai pulang dari sana, aku akan langsung menikahimu..” ucap Danis sembari memeluk dan merangkul Naina yang nampak lesu.


Ciuman itu kembali mendarat dibibir Naina yang kelu untuk mengeluarkan semua ungkapannya. Danis semakin menekan mulutnya sambil memejamkan matanya. Seakan takkan ada lagi ciuman yang tersisa untuknya nanti.


Tangannya dengan lembut membelai rambut yang membuatnya rindu akan helaiannya. Nafas mereka teratur beriringan dan Naina nampak sudah lihai dengan kemampuan ciuman Danis.


Naina melepasnya begitu tangan Danis menjauh darinya. Mobil itu kembali menutup beserta Naina yang telah kembali duduk ke asalnya.


Kaca jendela diturunkan dan terlihat Danis memandang ke arah Naina yang tengah memandanginya dari jauh.


Hanya sedikit senyuman dengan rasa sedih yang dia terima saat itu.


Para pengawal dan juga staff kantornya menyusul Danis menuju pesawat itu. semua berjalan lancar sampai pesawat itu lepas landas.


Sopir mobil segera melajukan kendaraannya. Pulang menuju Mansion mewah itu lagi. bayangan pesawat yang lepas landas dengan jarak yang tak jauh dari bandara, membuat Naina tanpa sadar meneteskan air matanya.


Dia sadar kalau selama ini dia sangat egois dan tak memikirkan bagaimana yang semestinya. Degup jantungnya terasa sangat sakit diikuti dengan tangisan yang dia tahan sedari tadi.


Dia hanya bisa berharap seusai semua ini, dirinya akan mendapat akhir yang dia inginkan.


.


.


.


.


***


“halo..? apa yang kau lakukan sekarang..?”


Suara yang dia rindukan bahkan setelah 12 jam tak bertemu. Inginnya dia segera mengatakan kalau dia tengah dilanda rindu. Tetapi, kali ini, dia terlalu gugup untuk mengatakannya.


“aku, sedang bersiap untuk tidur. Kalau kau..? apa disana, sudah pagi..?”


Percakapan yang romantis, berlangsung sepanjang malam di minggu-minggu pertama kepergian Danis.


Seringkalinya, percakapan Danis terdengar menggoda atau bahkan terdengar manja bagi Naina. segala yang dia lakukan bersama Naina, selalu dia rindukan dan dia bicarakan dalam telpon.


------


*2 minggu kemudian


_Danis..aku berharap, kau lah orang terakhir yang takkan meninggalkanku lagi dalam masa-masa sulitku. aku harap cintamu seperti ini, sama sekali takkan berubah walau jalan hidup kita takkan bisa diubah.


Aku selalu menanti kedatanganmu untuk mewujudkan semua janjimu itu. 1 minggu lagi, aku akan dengan senang hati, mengatakan jika aku benar-benar mencintaimu sekarang.._


Tulis Naina dari hati terdalamnya. Pada pagi hari dipenghujung musim panas, dia memilih untuk jalan-jalan sambil menikmati teh segar aroma chamomile di kafe tengah kota.


Selama ini, dia tak berniat mencari pekerjaan lainnya lagi dan memilih menunggu kedatangan Danis. Semua perjalanan yang panjang akan ditentukan selepas kedatangannya.


Bersambung..