Story Under The Rain

Story Under The Rain
Penolong



Jalanan malam itu sangat sepi bahkan terlalu sepi bagi seorang wanita tuk berjalan sendirian disana. Dan di sudut-sudut jalan, ia sesekali melewati beberapa kelompok gelandangan dan orang mabuk.


Naina tak peduli dengan berjalan secepat mungkin. Tetapi, salah satu dari mereka dibuat tertarik olehnya dan mencegatnya ditengah jalanan yang sepi.


“nona manis..kau mau kemana malam-malam seperti ini..? bermainlah bersama kami..” ucap para pria berandalan itu sembari meraih tangan gadis itu.


“tidak terima kasih. Aku harus pergi !”


“ehh..nona, kau tak boleh menolaknya..”


“pergi ! pergi kalian. Jangan dekat-dekat !”


Naina terus menghindar dari tangan-tangan yang berusaha melecehkannya. Sampai akhirnya dia terpojok dan mereka berhasil meraih tangan Naina.


Naina berusaha sekuat mungkin untuk melawan. Tetapi, dia kalah jumlah dengan 5 orang itu. Naina menangis dan pasrah dengan keadaannya yang sudah tertangkap. Tetapi, sebelum mereka bertindak lebih jauh, lampu sorot mobil mengacaukan aksi mereka.


“sial ! siapa itu ! berani sekali dia.”


“lepaskan wanita itu !” teriak seorang pria yang turun dari mobilnya.


“siapa kau ! dasar kurang ajar !”


Untungnya Danis tiba tepat waktu dan langsung menghajar mereka semua. kekacauan itu begitu sengit dan Naina hanya bisa menghindar dari tempat itu. Danis menendang dua orang dengan kakinya sampai mereka terjatuh ditanah.


“Danis awas !”


Danis lengah dan terkena pukulan dibagian wajahnya. Dia segera membalasnya dengan membenturkan kepalanya ke wajah orang itu. terlihat mulutnya berlumuran banyak darah dan Danis segera memuntahkannya sembari menginjak kaki orang itu. dan sisanya sudah kabur sedari tadi dan tak berani kembali lagi.


Naina lega akhirnya dia bisa tertolong dari orang-orang jahat itu. begitu semuanya bangkit dan pergi, Danis segera melepaskan jasnya dan memakaikanya pada Naina sembari mengajaknya masuk ke mobil.


“ayo, kita pulang.” Ucap Danis yang langsung bergegas menuju kursi kemudinya. ia segera menginjak gasnya tanpa sedikit pun melirik ke arah Naina.


Didalam mobil, Naina merasa sangat bersalah selepas melihat Danis terluka. Namun, Naina tak berani melihatnya secara dekat.


Dia hanya sesekali meliriknya dengan rasa amat bersalah. Bahkan sepanjang perjalanan keduanya tak sepatah katapun berbicara.


.


.


.


.


Beberapa saat kemudian, sampailah mereka dirumah. Naina berusaha mengeluarkan kata-katanya. Tetapi, Danis langsung naik ke atas dan pergi kekamar mandi. Naina mengurungkan niatnya kemudian segera membersihkan tubuhnya.


Jam menunjukkan pukul 11 malam. Dan Naina masih tak bisa tertidur dikamarnya.


Dia memutuskan untuk meminta maaf dan mencoba mengobati luka Danis di kamar sebelah.


“dia, belum tidur juga ya..” gumam Naina yang tengah mengintip Danis sedang mengetik dilayar laptopnya.


Naina menarik nafasnya dalam-dalam dan masuk ke dalam. Begitu didalam, dia melihat Danis masih serius dengan pekerjaannya. Akhirnya Naina duduk disampingnya dan mulai berbicara.


“Danis, kau belum tidur. Ak..aku kemari, ingin mengobati lukamu.” ungkap Naina dengan gugup.


Tangan Danis terhenti seketika mendengar perkataan Naina. dan menghetahui itu, Naina meneruskan kata-katanya.


“ya, tentu.” jawab Danis yang kemudian menoleh ke arah Naina.


Dengan perlahan, Naina menuangkan obat lukanya dan mengopresnya sedikit-demi sedikit diwajah Danis.


“auch !”


“mm..maafkan aku. Tahanlah sedikit lagi.”


Naina kembali mengobatinya dengan sangat lembut. Dia sangat berhati-hati dan penuh perhatian.


Sampai-sampai, Danis luluh dengan perhatian yang diberikannya dan mencium telapak tangan cantik yang berada di wajahnya itu.


hal itu membuat Naina kaget dan tanpa tau wajahnya memerah karena tingkah Danis.


“Da..Danis. kau..”


“Naina, kau orang yang sangat berarti bagiku. Aku takkan pernah membiarkanmu terluka sedikitpun.” Ucap Danis sembari terus meletakkan tangan Naina dipipinya.


“Danis, kenapa kau selalu mengucapkan kata-kata yang seperti itu..?” batin Naina sembari kembali mengobati lukanya.


Setelah beberapa saat, luka Danis selesai diobati dan Naina segera membereskan tempat itu


dia pergi tanpa sepatah katapun.


Dan lagi-lagi, langkahnya dihentikan oleh Danis dengan memegangi tangannya sembari berkata padanya.


“Naina, temani aku malam ini…”


Dia yang mendengar itu, sudah menduga kalau pria ini akan bersikap manja lagi kepadanya. Naina tak ada alasan untuk menolaknya dan menganggapnya sebagai balasan terima kasih telah menolongnya. Entah kenapa malam itu, barulah Naina bisa tidur dengan nyenyak saat berada dipelukan Danis.


------------


Pagi yang cerah telah menyambut dengan aroma wangi masakan dari dapur. Danis yang matanya masih setengah terbuka , segera bangun seusai menatap tempat disampingnya kosong.


Naina ternyata sudah bangun dari awal dan memasak beberapa makanan untuk sarapan. Setibanya di ruang makan, Naina sudah menyambutnya dengan berbagai macam makanan yang terhidangkan diatas meja.


“selamat pagi, aku.. hanya sekedar iseng untuk membuat makanan ini.


kupikir, aku harus rajin memasak agar kemampuanku masih sama seperti dulu.” Ucap Naina dengan gugup karena malu melihat Danis yang nampak terkesima dengan makanan yang ada.


Tanpa sepatah katapun, Danis segera duduk dikursinya dan mengambil sendok pertama untuk makanannya.


“ini..enak sekali.” Batin Danis.


“oh iya ! aku membuat hidangan penutup ini. jika kau mau aku..”


Danis memegang tangannya yang akan menaruh piring dessert di depannya. Danis melihat kalau jari Naina terluka dan diplester dengan pembalut luka. Segera dia mendekatkan tangan Naina dan menciumnya.


“Naina, lain kali berhati-hatilah. Tangan cantik ini, tak boleh terluka lagi. Mengerti ..?!” ucap Danis seusai mengecup lembut tangan Naina.


Semburat kemerahan dipipinya, membuat Danis tersenyum kecil. Naina masih melayang dengan tingkah manis dari Danis.


Dirinya berulang kali menyadarkan pikirannya dan berusaha pergi dari sana. Dan hanya Danislah yang sampai bisa membuatnya salah tingkah seperti ini.


Bersambung..