
“ayah..bisakah aku bertemu dengan ibu..? kenapa ibu terus pergi bekerja sampai tak ada waktu main sama Naina..?” celotehnya dengan polos.
“Naina..besok ya main sama ibu. Besok ayah janji akan bawa pulang ibu buat main sama Naina.” bujuknya sambil mengelus-elus rambut putrinya dan ia pun berangkat dengan mobilnya.
Naina yang bahkan masih terlalu kecil untuk menyadari setiap kebenaran yang ada pada kata-kata ayahnya. Yang mana ayahnya sedikit berbohong demi menjaga kesehatan Naina yang masih syok.
.
.
.
Seminggu dua minggu, Naina kecil dengan sabar menunggu kepulangan ayahnya yang entah bagaimana kabarnya. Sampai pada akhirnya adik dari ayahnya yaitu paman Hans menjemputnya dari rumahnya dan membawanya pergi.
“paman Hans, memangnya ayah tidak akan pulang..? kenapa nyuruh Naina tinggal dirumah paman..?” tanyanya dengan polos.
“Naina…ayahmu pergi jauh dan tak tahu kapan akan kembali jadi, mulai saat ini tinggal lah bersama paman dan bibi. Ya..?” ucap paman Hans dengan lembut sambil mengelus rambutnya.
“apa..!?? kenapa paman..? Naina kan punya rumah sendiri..? kenapa ayah ngak mau kembali ke rumah..? Apa ayah tidak ingin hidup bersama Naina paman..? apa benar ayah ningalin Naina..?” ucap nya sambil menangis.
“Bu..bukan seperti itu. Nai..Naina kamu kemana..?” teriak paman Hans yang berlari mengejar Naina pergi.
Naina yang waktu itu masih berumur 6 tahun berlari sambil menangis dan pergi menuju sebuah pohon besar di taman kota.
hujan turun tiba-tiba dengan sangat lebatnya mengiringinya duduk sambil menangisi ayahnya yang kini telah pergi meninggalkannya. Namun, dari atas pohon tiba-tiba saja ada yang jatuh.
“ahh ! aduh.. sakit !!”
“eh..? kau siapa..? apa kau orang suruhan pamanku..?” tanya Naina sambil mengelap sisa-sisa air matanya.
“ssstt…! Jangan bersisik. Aku bukan orang suruhan pamanmu. “ ucap bocah laki-laki itu.
“oh. eh..!?? tanganmu terluka. Sini biarku obati. Kata ibuku… kalau kita terluka dan tak langsung mengobatinya, lama-lama kau akan demam. Biar aku balut lukamu.” Ucap Naina.
“lukamu sudah selesai. Oh ya ! kenalkan aku Naina. siapa namamu..?” tanya nya sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya.
Anak laki-laki itu terlihat gugup untuk berkenalan dan tak lama, terdengar teriakan seseorang yang sepertinya sedang mencarinya.
“hei !! tuan muda…? Kemana kau..?!!” teriak seseorang dengan keras dari kejauhan.
“wahh.. aku ketahuan nanti. Aku harus pergi. Terima kasih atas bantuanmu. Aku pergi dulu.”
Bocah itu pun pergi meninggalkan Naina kehujanan di bawah pohon sebuah taman. setelah kejadian itu, entah kenapa ia menjadi suka pada hujan dan selalu duduk dibawah pohon itu.
meski sudah lebih dari 17 tahun lamanya, Dia benar-benar ingat bagaimana ia bisa kehilangan ayahnya. Hanya ingatan tentang ibunya yang tak bisa ia ingat.
setelah Kembali ke taman itu, membuatnya berfikir sudah saatnya ia mencari kebenaran tentang masa lalunya.
.
.
.
Sinar mentari sangat meneduhkan siang ini dan hembusan angin terasa seperti sedang memeluknya. Sambil memejamkan mata, Naina menikmati suasana di bawah pohon itu. mungkin saja suatu saat ada seorang bocah lelaki yang turun dan minta pertolongannya seperti masa lalunya. Hanya saja suara dering ponselnya membuat semua pikiran tenangnya buyar. Ia segera mengangkat telepon yang ternyata dari Navya.
“Naina, bisakah kau mampir ke kedai sore ini..? ada sesuatu yang ingin ku sampaikan.”
“baiklah. Nanti aku kesana. Ya sudah. Bye..” ucap Naina yang mengakhiri teleponnya.
waktu masih lama untuk menunggu sore. Ia memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di sekitar taman. Sambil meninggalkan kesedihan yang ia alami, tiba-tiba saja ada seseorang yang menepuk pundaknya.
Bersambung...