
Danis benar-benar muak dengan perintah ayahnya yang semakin tak masuk akal semenjak ayahnya menikah lagi dengan wanita lain.
Dan Danis tak bisa berbuat apapun karena ayahnya adalah satu-satunya keluarga yang ia punya meski seringkali ia marah dan membencinya.
Kemarahan Danis itu masih terlihat ketika seluruh benda di mejanya menjadi sasarannya. Ayahnya sendiri, tak peduli tentang perasaan anak semata wayangnya itu.
dan tiba-tiba saja, dia menabrak seseorang dikoridor.
“aduhh!! Maaf tuan. Aku..”
Naina yang jatuh tersungkur disertai bawaannya berserakan menatap pria itu. tetapi pria paruh baya itu bahkan mengabaikannya dan hanya meliriknya sambil pergi begitu saja.
Ia kemudian hanya bisa bangkit sendiri dan segera menyerahkan tugasnya keruangan Danis. Sesampainya didepan pintu ruangannya, Naina tak sengaja mendengar percakapan antara Danis dan Selena.
“benar kan kataku..? ayahmu selalu setuju jika kau bertunangan denganku.
Dan juga, dia datang jauh-jauh hanya untuk mempersiapkan sebuah pesta besar untukmu. Bahkan untuk waktu yang sangat singkat ini..”
“diam ! sudah kubilang aku akan mengagalkan semua rencana ayahku itu.”
ucap Danis yang menampik tangan Selena dan segera menjauh darinya.
“oh ya..? kau pasti tahu apa yang terjadi dengan gadis itu jika kau berbuat gegabah bukan..?” ucap Selena sembari mendekati Danis.
“mungkin saja ayahmu akan membuatnya lenyap begitu saja. Kalau kau tak mau, turuti saja apa maunya dan akan kupastikan..gadis itu bisa selamat dan hidup tenang.”
Bisik Selena pada Danis yang tak bisa berfikir apapun lagi.
Naina yang mendengar percakapan mereka, merasa tersentak dan sangat sakit. Entah kenapa didalam dadanya, ada rasa tak terima mendengar semua kenyataan itu.
tangannya yang sedari tadi membawa berkas, tak lagi kuat mengengamnya. Tetesan air mata jatuh begitu saja dengan semua itu. ia pun kembali masuk ke kantornya dan berusaha kembali menyeka setiap tangisan yang ada.
Disana ia pun tersadar, kalau ia sudah jatuh cinta juga pada Danis. Entah kapan dan dimana, Naina tak tahu. Yang jelas, ia sangat sedih ketika mendengar Danis akan menikahi wanita lain. Tangisan itu sangat tenang sampai siapapun takkan tahu kalau ia sedang menangis. Di berusaha sekuat mungkin untuk menghentikan laju air mata kesedihan itu.
namun, lama-kelamaan tangisan yang ia tahan membuatnya lelah dan tertidur dimejanya.
-----------
Sore itu suasana terlihat sangat sahdu dengan pemandangan awan yang agak mendung di musim panas.
Memang, anomali cuaca sekarang tak bisa diprediksi dengan tepat. Sama seperti peristiwa hari ini. siapa tau kalau Naina baru sadar menyukai Danis disaat ia akan menikahi wanita lain. Naina masih tertidur lelap dimeja. Dan dia terbangun karena seseorang membangunkannya.
“Naina..?” ucap Danis sembari mengetuk mejanya.
Naina yang masih setengah sadar, segera mengucek matanya dan bangun dari kursinya. Tanpa memperdulikan kehadiran Danis, ia pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan wajahnya. Setelah itu, ia masih tak memperdulikan kehadiran Danis yang sudah menunggunya.
Naina masih tetap saja berjalan didepan Danis. Dan hal itu, membuat Danis bertanya padanya.
“Naina tunggu ! apa kau baik-baik saja..? hmm..? apa ada sesuatu yang salah lagi..?”
Naina tak menjawabnya dan hanya mengelenggkan kepalanya seraya melihat ke arah Danis. Tetapi, Danis tahu kalau Naina tak berani melihat matanya.
“kalau tak ada apa-apa, aku antar kau ke rumahmu yang baru..”
Danis terdiam merasakan tangan Naina yang mencegahnya pergi. Ia pun menolehnya dan Naina pun berkata padanya.
“tak bisakah kau..temani aku malam ini disana..?” ujar Naina dengan penuh harap.
Danis hanya termenung mendengar perkataan Naina. dia takkan bisa mengabulkan permintaan Naina karena ayahnya sudah memperingatkannya waktu itu. ia hanya membalasnya dengan tersenyum dan kembali mengajak Naina pulang.
“Naina maaf. Nanti malam akan ada rapat untuk ulang tahun perusahaan. Lain kali saja aku akan menemanimu.” Ucap Danis.
Naina pun diantarnya pulang dan mobil Danis kembali melaju pergi dari rumahnya. Setibanya didepan rumahnya, rintik hujan pun turun. Segera ia masuk ke rumahnya. Ditengan perjalanan, Danis mendapat telepon dan dengan tenang, ia mengangkat telepon itu.
“iya halo ada apa..?”
“kau sudah pulang..? segeralah kemari. Ayah dan ibuku sudah menunggumu.” Ucap Selena dengan lembut.
Tak lama kemudian, Danis tiba di kediaman keluarga Selena. Kediaman yang tak jauh beda dari rumah orang tuanya itu, sedikit pun tak membuatnya tertarik.
Meski arsitektur yang bergaya eropa karena Selena masih keturunan prancis, Danis hanya berjalan melalui semua pemandangan rumah mewah itu. disana rupanya adalah pertemuan dua keluarga antara Danis dan keluarga Selena.
Ayah Danis, John Asher beserta ibu tiri Danis, Aneta belle duduk di ruang makan yang mewah itu.
“sayang, kau sudah datang…”
Dengan spontan, Danis segera menolak pelukan Selena dan tentunya membuat sekitarnya sedikit terheran. Danis yang melihat tatapan ayahnya, hanya kembali duduk dan mengabaikannya.
“ahh..Danis. kami sangat berharap kau akan jadi pendamping yang cocok dan setia untuk anak kami Selena yang cantik ini..”
ucap Mama Selena sembari mencubit dagu ramping Selena.
“tentu ! tentu saja Danis kami akan sangat mebuat anak anda bahagia.” Ucap Aneta ibu tiri Danis.
Dan makan malam itu, menjadi acara yang penuh denga percakapan tentang persiapan pertunanangan mereka.
Tanpa terasa, hujan menguyur sangat deras pada malam itu. membasahi setengah bumi yang kering karena musim panas pada waktu itu.
“hahh..entah kenapa..aku jadi muak dengan hujan malam ini. sebaiknya..aku tidur saja.”
Gumam Naina yang sedari tadi melihat kearah jendela.
Dengan perlahan, ia mulai membaringkan dirinya diatas kasur dan memejamkan matanya. Berharap kalau saja, perasaan itu segera membaik esok harinya.
Bersambung..