
“Naina…bagaimana kau akan berterima kasih padaku untuk yang kemarin..? hmm..?” ujar Danis sambil menyentuh dan menciumi helaian lembut dari rambut panjang Naina.
“apa..? untuk apa..?” tanya Naina dengan wajah yang memerah.
“kenapa wajahmu..? apa kau sudah bisa menebaknya..?” ucap Danis sembari menatap wajah Naina.
Dengan terkejut, Naina tak bisa berbuat apa-apa saat Danis mencium pipinya. dan hanya kaget sambil memegangi pipi bekas ciuman Danis. Kali ini ia tak pandai dalam menyembunyikan ekspresi wajahnya.
“kauu..!!”
“bagaimana pun, aku sudah menganggapmu sebagai kekasihku karena sudah merawatku semalaman.” Ucapnya sambil tersenyum kecil.
Lagi-lagi Naina dibuat kesal oleh Danis yang selalu memutuskan apapun seenaknya.
Dengan penuh kekesalan, ia keluar dari kantornya dan pergi menuju sebuah rumah makan untuk sarapan. Dan tak memperdulikan Danis.
“dasar psikopat !! huhh..!!
lain kali aku harus mencekiknya jika ia berbuat seperti itu !” umpatnya sembari memotong-motong roti dengan pisau.
Disaat ia sedang menikmati waktu sarapannya sendiri, datanglah beberapa wanita dan mengajaknya berbincang.
“permisi, apa kau pegawai Blue Enterprises..? bolehkah aku bergabung..?”
“oh ya tentu.” Ujar Naina sambil mempersilahkan mereka duduk disampingnya.
“perkenalkan aku Alisa dan yang berambut pendek ini Angela.
Kami baru saja diterima di perusahaan. Jadi bisa dibilang kami adalah karyawan baru. Kalau anda..?”
“a..aku..?” sahut Naina dengan terkejut.
“duhh..! bagaimana aku menjawab pertanyaan mereka ! apa aku berbohong saja ya..?” gumam Naina dengan kebingungan.
“nona..? kenapa melamun..?” tanya mereka.
“ti..tidak kok. Kalau begitu, perkenalkan namaku Naina aku bekerja sebagai manajer di proyek baru.” Ujar Naina sambil menyalami mereka berdua.
Mereka menikmati sarapan paginya sambil berbincang-bincang dengan baik bahkan saling bertukar nomer telpon. Seusai makan, ketiga wanita itu memutuskan untuk pergi bersama ke kantor.
Dan sesampainya disana, mereka berpisah menuju tempat mereka masing-masing.
“sampai jumpa Naina. lain kali kita harus sering makan-makan bersama ya..!” seru Alisa.
“baiklah. Sampai nanti..” ucap Naina sambil melambaikan tangan dan pergi menuju lift.
Tepat pukul 8 pagi ini, akan diadakan rapat dewan untuk proyek baru.
Ketika Naina didalam lift, ia terlihat biasa saja. Namun, ada yang mengejutkan saat lift itu berhenti sebelum ia sampai dilantai tujuannya.
“oh..?! hai Naina.”
“aduh, kenapa aku bertemu kak Rayn lagi..?” batin Naina sembari tersenyum ke Rayn dan menyelipkan rambut panjangnya ke belakang telinganya.
“apa kau bekerja disini..?” tanya Rayn.
“iya..” balas Naina dengan sesekali menoleh ke arah Rayn.
**tingg..!!*
suara pintu lift terbuka.
“kalau begitu, sampai jumpa.” Ucap Rayn sambil tersenyum dan melangkah keluar lift.
Naina hanya membalasnya dengan anggukan kecil di kepalanya dan kemudian menekan tombol untuk naik ke kantornya. Dia berdoa semoga saja itu terakhir kainya dia melihat Rayn.
-------------
Pukul 10 pagi. Waktu rapat akan di mulai. Semua telah dipersiapkan. Naina sangat terlihat gelisah karena pertama kalinya ia akan berbicara didepan umum.
Sembari sedikit membaca-baca diruang rapat, Danis datang mendekatinya sembari menepuk bahunya.
“tenang saja. Aku tahu kau bisa.” Bisik Danis yang menepuk bahu Naina dan kemudian duduk di kursi direktur.
Beberapa menit, karyawan Blue Enterprises menunggu perwakilan dari perusahaan Skyart yang mana perusahaan yang bergerak dibidang industri bangunan dan arsitek.
Dalam proyek besar yang dijalankan Danis, ia akan membuat kerjasama dengan mereka. Danis mencoba mengabungkan teknologi dan menerapkannya dalam sebuah bangunan.
Saat Naina membaca beberapa bahan rapat, perwakilan itu datang.
Sekumpulan para pria berjas dan terdapat juga beberapa wanita. Jiwa-jiwa seni begitu terlihat diwajah mereka. Dan ada satu orang yang menarik perhatiannya.
“ap..apa?! jadi kak Rayn juga bekerja untuk proyek ini..?” gumam Naina yang berdiri karena terkejut melihat Rayn masuk.
“selamat pagi semua. Maaf tim kami sedikit terlambat karena ada sedikit kendala.” Ucap Rayn sembari berdiri di kursi paling ujung.
“tak apa tuan Alfaresta. Karena ayah anda sedang sakit, jadi anda terpaksa menggantikannya dalam rapat kali ini.” ucap salah seorang karyawan Blue Enterprises.
Rayn hanya membalasnya dengan tersenyum dan melihat ke arah Naina. Naina benar-benar tak menyangka jika ia akan sering bertemu dengan Rayn.
Dan dari arah ujung kursi rapat, Danis terlihat memperhatikan Naina yang sedari tadi terlihat canggung dan bingung ketika Rayn datang.
“kalau begitu, kita mulai saja rapatnya.” Seru Danis dengan tatapan tajam.
“ya ampun..! situasi macam apa ini..? bagaimana bisa mantan pacarku menjadi rekan kerjaku..?” batin Naina yang bersiap akan mempresentasikan laporannya.
Sebagian orang akan berfikir biasa saja. Tapi bagi Naina, itu adalah hal yang sangat buruk. Meski kejadian itu telah berlalu, tetap saja tiap kali ia menatap mata Rayn.
Dia seperti melihat kembali ketulusan yang dulu ada untuknya.
tanpa memperdulikan kehadiran Rayn lagi, Dengan percaya diri, dia memulai pembukaannya dan rapat itu berlangsung selama 2 jam lebih.
Bersambung..