
Naina sedikit gugup dan bingung bagaimana layaknya ia bersikap pada mertuanya itu. dia hanya mengengam kedua tangannya sembari tertunduk ketika melihat Aneta mendekatinya.
“kelihatannya, kau dilarang keluar ya dari kamar ini oleh Danis..?
hahh…dia memang suka mengatur orang-orang disekitarnya seperti ayahnya. Tetapi kau pasti tau kalau dia sebenarnya adalah orang yang baik.” Ucap Aneta sembari memegang rambut panjang Naina.
Naina hanya membalas perkataan itu dengan senyuman kecil diujung wajahnya. Perkataan Aneta yang seperti itu, sudah tergambar jelas kalau dia sangat menyayangi Danis layaknya anak kandunganya sendiri.
“gadis baik…apa kau sudah makan..? apa kau mau aku panggilkan pelayan untuk membawakanmu makanan..?” tanya Aneta.
“tida..tidak usah nyonya. aku…ehm..ma..maksutku ibu aku..”
“tidak apa. Aku akan memanggil mereka.
Dan kau bisa memanggilku ibu, kalau kau mau..” ucap Aneta sembari memegang punggung tangan Naina yang baru saja menolak permintaannya.
Aneta pun pergi keluar kamar dan menyuruh pelayan untuk mengambil makanan.
Tetapi, ketika setelah keluar, Danis pun datang dengan tatapan yang dingin terhadap ibu tirinya itu. dengan wajah yang lembut layaknya seorang ibu, Aneta tersenyum dan memegang tangan Danis sembari bertanya padanya.
“nak, kau sudah makan..? makanlah bersama istrimu.” Ucap Aneta.
Tetapi hati dingin itu tak bisa mencair begitu saja dengan kelembutan Aneta. Danis tak mengindahkan kata-kata itu dan segera berlalu masuk kedalam kamarnya.
Aneta tahu apa yang akan selalu dia terima. Namun, ia tetap berusaha meskipun tak tahu sampai kapan Danis akan mengubah sikapnya kepada ibu tirinya ini.
dan didalam, Naina tengah duduk dikasur dengan lemari dan kaca rias yang besar. Ia langsung terkejut dan berdiri melihat Danis yang datang.
“apa perlu kau sekaget itu padaku..? memangnya kau pikir akan siapa yang datang kemari..? wanita itu..?”
“hah..!? ti..tidak kok. Aku hanya berfikir..kenapa kau kemari..”
“oh ya..? ini kan kamarku juga. Kenapa aku ak boleh masuk..?”
“ap..apa..? bukankah kau tadi bilang ini kamarku..? kenapa sekarang jadi kamarmu..?”
“Naina. apa kau berpura-pura bodoh didepanku sekarang..? hmm..? bukankah kita sudah resmi menikah..?
jadi, kita harus tinggal dikamar yang sama bukan..?.” ucap Danis yang semakin mendekat ke arah Naina.
Naina hanya menghindar ketika Danis berbicara seperti itu didekatnya. dia tahu kalau seharusnya menggunakan kata-kata yang lain. Tetapi, entah kenapa Danis selalu membuatnya kehilangan kata-kata.
Tanpa diduga, Danis tiba-tiba saja melepas setelan kemejanya didepan Naina yang membuatnya kaget setengah gugup. dengan segera ia memalingkan badannya sembari menutup wajah dan matanya agar tak melihatnya.
“heii !! kau.. ap..apa yang kau lakukan..? melepas pakaianmu..? Danis kau..”
“sstt..! bisakah kau tak usah berteriak dengan keras..?
memangnya kau berfikir aku sedang apa..? aku hanya ingin mandi !”
“ooh…i..iya maafkan aku. Aku takkan berteriak lagi.” Ucap Naina sembari menurunkan tangannya.
Danis yang tampak sedikit kesal dari hari biasanya dan mengabaikan Naina. setelah itu, dia mandi dengan guyuran shower berair panas. Naina tak habis pikir dengan ide nya ini.
dia tak memikirkan kalau dia akan hidup terus berdua bersama Danis seperti ini. ia pun pergi lagi keluar balkon.
Dan beberapa saat kemudian, seorang pelayan datang dengan mengetok pintu sembari membawa makanan. Dengan cepat, Naina mengambilnya dan langsung melahapnya tanpa bertanya apapun.
Kemudian, Danis keluar dari kamar mandi dengan menggunakan kaos abu-abu bercelana pendek sembari memegang handuk dipundaknya. Dia tengah memandangi Naina yang makan cemilan itu sembari tersenyum kecil dan berkata padanya.
“hei, kau jangan terlalu banyak memakannya. karena, setelah ini kita akan makan malam bersama dibawah.”
“eh, apa kau tak apa..? cepat. minumlah.” ujar Danis yang segera mengambilkan minuman selepas Naina tersedak.
Makan malam keluarga. Kata itu langsung membuat Naina kaget sekaligus takut. Bagaimana jika perkataan Danis waktu itu benar mengenai ayahnya yang tak segan-segan untuk menghabisinya.
Tetapi, bagaimana pun juga kematian adalah hal yang tak ia takuti lagi jika melihat penderitaan orang tuanya dulu. Bisa saja kali ini, yang menyerang adalah dari pihaknya atau dari pihak John asher.
Naina pun memikirkan cara bagaimana bersikap seolah-olah tak tahu kalau ayah mertuanya-lah yang menjadi sasarannya.
“Naina..? apa kau memikirkan sesuatu..?” ucap Danis yang sedari tadi melihat Naina yang terdiam.
“tidak. Aku hanya berfikir, bagaimana nantinya bersikap didepan keluargamu.
Dan jika perkataanmu benar mengenai ayahmu itu..apa nantinya aku akan..”
“tidak ! kau tak perlu cemas. Aku akan ada bersamamu. Bahkan ayahku pun, takkan berani menyakitimu.”
Jantung Naina terasa berdebar-debar saat Danis dengan tiba-tiba saja memeluknya dengan erat. Bahkan tangannya, terasa dingin dan ingin sekali segera mendorongnya.
Ia takut kalau ke khawatirannya akan menjadi kenyataan.
---------------
Waktu menunjukkan pukul 7 malam dan para pelayan di kediaman rumah besar tersebut, tengah sibuk mempersiapkan hidangan dimeja makan. Dengan mencoba tampil bak seorang gadis dari kalangan atas, Naina sudah mempersiapkan baju yang indah dan turun kebawah.
“silahkan nona.”
Ucap salah seorang pelayan yang tengah memberikan duduk pada Naina.
Tak lama kemudian, kedua orang tua Danis datang dan duduk disana. Sembari tersenyum kecil dan memandang ke arah mereka, Naina mengambil sendok yang ada didepannya. Namun, tatapan aneh dari sang ayah mertua itu, membuat Naina tak nyaman dan sedikit gugup disana.
“tidak, Naina ! kau pasti bisa melewati ini dan membalasnya !” batin Naina.
Tak lama, datanglah Danis dengan rambut rapih disisir ke belakang. Dia pun mengeser kursinya dan duduk disebelah Naina. dengan senyuman yang terkembang di wajah Aneta, ia mulai membuka makan malam itu dengan salam yang hangat.
“Naina, selamat. Kau jadi bagian dari keluarga ini. ayo ! ambil dan makanlah apapun yang kau mau.” Ucap Aneta dengan tersenyum.
“baiklah. Ehm..ibu, bolehkah aku makan apa yang ayah suka..?”
Semua terdiam dengan wajah terheran mereka. Danis bahkan sampai menghentikan gerakan muutnya yang tengah mengunyah makanan.
Dan ayah Danis, hanya melirik tajam ke arah Naina dengan sinis.
Kemudian, seorang pelayan memberikan makanan yang menjadi makanan John Asher saat ini.
sup iga sapi. Dengan aroma yang sedikit kuat itu, Naina mencicipinya sesendok. terlihat John sepertinya tak peduli dengan apa yang gadis itu lakukan ia terus menyendokkan makanan kemulutnya. Sampai suatu kejadian terjadi dan membuatnya gusar.
**hoekk..hoekk**
Naina segera berlari dari sana menuju ke arah kamar mandi. Semua mata memandang kesana dan hal itu membuat pikiran Danis menjadi tak rasional lagi.
“ayah ! apa yang kaulakukan..?!? hahh..!!
apa kau coba meracuninya..?” seru Danis sembari mengebrak meja dan berteriak keras pada ayahnya.
Sang ayah hanya terdiam dan menatap anak laki-lakinya dengan lirikan tajam disana. Dia sama sekali betapa pun marahnya Danis terhadapnya.
Bersambung…