
Jarum jam menunjukkan pukul 7. Waktunya bagi Danis untuk segera berangkat menuju kantornya. Tetapi, Naina yang memaksanya pergi, malah terkena imbasnya.
“Danis, hentikan ! cepatlah kau harus pergi kekantor atau kau akan terlambat..”ucap Naina sembari berusaha lepas dari pelukan Danis.
“Nai..biarkan saja aku begini sejenak..aku kan bosnya. Untuk apa aku harus takut terlambat..?” ucap Danis dengan manjanya sembari terus memeluk erat Naina dari belakang.
Tangan Danis terus saja memeluk erat pinggang Naina sembari menikmati suasana pagi yang indah baginya. Naina merasa tergangu ketika tangan Danis masuk dan meraba-raba bagian perutnya.
“stop Danis ! bagaimanapun juga, kau harus pergi ke kantor.”
Ucap Naina yang memaksa bangkit dan pergi dari kasurnya.
“shhh..sayang. jangan marah oke..?
bukankah kita baru saja berbaikan..? hmm..?” ucap Danis sembari menarik Naina kembali.
Naina segera terduduk dipangkuannya dan Danis mencium pipinya dari belakang. Tangan Danis masih saja tak bisa melepaskan Naina meski ia berulang kali memberontak.
Naina akhirnya menyerah dan patuh, membiarkan Danis terus saja menciumi rambut hitamnya.
“Danis..tak bisakah kita menikah..?
secara baik-baik dan resmi..?”
Ungkapan itu, keluar begitu saja dari mulutnya. Dan karena mungkin, ia selalu merasa risih jika Danis dengannya berduaan tanpa ada ikatan yang jelas. Danis tersenyum dengan perkataan Naina. nampaknya, dia akan menyetujuinya.
“tentu. Pernikahan apa yang kau inginkan..? hm..?”
“aku..hanya ingin pernikahan yang sakral dan hanya dihadiri beberapa teman terdekat saja…”
“ohh. Bagaimana dengan ayahku..? atau ibuku..?”ucap Danis sembari menaruh kepalanya dipundak Naina dan menciumi rambutnya.
Naina menjadi lemas akan ucapan Danis. Bagaimana mungkin dia menginginkan pernikahan yang indah jika keluarga Danis tak menyetujuinya..?
Danis bisa merasakan akan kecemasan Naina. dia segera membalikan badan Naina dan mengarahkannya kedepannya. Kedua tangannya memegang kepalanya dan bibirnya mengecup lembut keningnya.
“Naina..tenanglah. aku, akan mewujudkan semua keinginanmu. Meski tanpa kedua orang tuaku, aku akan tetap menikahmu..”
Naina menutup matanya dan merasakan ciuman lembut dari Danis yang ada dikeningnya.
Dia tampak tenang dan Naina merasa lega kembali. dia tak salah memilih orang yang selalu bisa menenangkan hatinya. Dibalik pelukan Danis, tersimpan kerisauan dihatinya. Tentu akan jadi pilihan sulit kalau dia menikahi Naina secara diam-diam tanpa ketahuan oleh ayahnya.
-------
“berhati-hatilah disana.” Ucap Naina sembari memberikan jas pada Danis.
“tentu. Jaga dirimu.” Ucap Danis sembari mengecup keningnya lagi.
Danis pun pergi diikuti Naina yang nampak tersenyum kecil melihat kepergiannya. Rasa senang sedang melanda hatinya yang penuh dengan bayang-bayang perasaan cinta.
Tak henti-hentinya Naina tersenyum sendiri sembari melamun kenangannya bersama Danis. Wajah merahnya memperlihatkan betapa malunya dia sewaktu meningat-ingatnya lagi.
“ya ampun, semua itu membuatku lapar ! sebaiknya..aku pergi berbelanja saja dan memasakkan sesuatu untuknya !” gumam Naina yang tengah berada didapur.
“nona. Nona tak usah pergi kemanapun. Tuan muda telah memerintahkan kami untuk menuruti semua perintah nona.” Ucap kepala pelayan di mansion tersebut.
“tidak.! Tidak usah. Aku hanya ingin berbelanja sendiri. dan jika kalian malah ada disekitarku, aku akan merasa tak nyaman !
tenang saja, aku akan menjaga diriku baik-baik. Dan anggap saja ini perintah dari ku.” Ucap Naina yang telah bersiap untuk pergi.
Sesaat kemudian, Naina keluar dari mansion besar itu dan pergi menuju pasar. Dia memlih buah dan sayuran yang akan dia masak untuk makan malamnya hari ini. wajahnya masih saja diliputi perasaan bahagia sehingga siapapun bahkan para pedagang, terpesona akan kecantikannya.
“terima kasih paman.”ucap Naina sambil menerima barang belanjaannya.
“nona, sering-seringlah berbelanja lagi disini !” teriak para pedagang itu.
Naina masih saja memancarkan senyumannya meski barang belanjaannya bukanlah sedikit. Beberapa kantongnya, ternyata berlubang kecil dan akhirnya terjatuh dijalan. Dia tak sadar dan Naina merasa ada yang menepuk pundaknya dari belakang.
“maaf nona, kau menjatuhkan sesuatu.”
“hah..terimakasih tuan atas bantuannya…”
“kk..kak. kak rayn..?”
“Naina. hai ! bisakah kita membicarakan sesuatu..?”
Naina sontak meresponnya dengan anggukan kecil dan mereka segera pergi menuju tempat yang nyaman untuk berbincang.
.
.
.
Dan akhirnya mereka berdua masuk ke kafe kecil dengan suasana yang hangat dan sedikit tertutup agar memudahkan mereka membicarakan suatu hal penting tersebut.
Tetapi, Naina justru tak nyaman dengan semua keadaan ini. bahkan, nampak sekali kalau ia tak bisa duduk dengan tepat.
“mungkin, kedatanganku sangat tiba-tiba dan membuatmu tak nyaman seperti ini.
tapi, aku benar-benar tak bisa menahan diriku untuk bertanya sesuatu kepadamu “ ucap Rayn dengan mengengam kedu tangannya diatas meja.
“ap..apa itu..?”
“apa kau benar bahagia dengan pernikahan palsumu ini..?”
Mata Naina terbelalak dan kaget dengan ucapan Rayn. Jantungnya benar-benar berdegup kencang seakan mau meledak menghetahui Rayn sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Naina berusaha mengambil alih pikirannya yang terkaget itu dan berusaha bersikap normal seperti dia tak tahu apa-apa.
“ap..apa maksud kak Rayn..? palsu..? tidak kok ! aku..”
“Naina..aku sudah tahu mengenai semua siaran berita itu saat aku di Paris.
Naina..apa aku satu-satunya orang yang tak boleh tahu mengenai ini semua..?” ucap Rayn dengan nada yang kecewa.
Dahi Naina benar-benar berkeringat dengan raut muka yang bingung saat Rayn menatap kearahnya dengan mata sayupnya itu. dia tak bisa lagi menghindar dari pertanyaan Rayn dan hanya memejamkan matanya sembari berusaha merangkai kata untuk membalikkan semua faktanya.
Dan rupanya, tanpa Naina sadari ada orang yang datang ke arah mereka berdua. Orang itu dengan segera membalas ucapan Rayn saat Naina menutup matanya.
“bukankah sudah kubilang, kalau aku sungguh-sungguh akan menikahinya !”
“Da..Danis..?!” ucap Naina yang kaget dengan kedatangannya dan telah berdiri disampingnya.
Sembari tersenyum picik ke arah Rayn, Danis langsung duduk disebelah Naina yang saat itu masih tegang dengan pertanyaan yang dilontarkan Rayn.
Tanpa ada aba-aba apapun, Danis memegang dagu Naina dan mencium bibirnya tepat didepan Rayn. Naina terkejut dengan mata yang masih terbuka.
Dia bahkan tak memikirkan dimana tempat ciuman yang tepat dan malah melakukannya didepan Rayn.
“sayang, apa kau ganti lipstik lagi..? aku lebih suka rasa yang kemarin..” goda Danis sembari melirik ke arah Rayn.
“Danis kau …”
Naina tak kuasa dengan rasa malunya saat Danis tiba-tiba menciumnya dan berkata seperti itu didepan Rayn.
Namun bagi Danis, inilah kesombongan dan kekuasaan yang harus dia tunjukkan kepada Rayn kalau Naina, sudah sepenuhnya jadi miliknya.
Rayn hanya tersenyum miring sembari mengepalkan tangannya dengan erat.
Harga dirinya sudah dihina dengan apa yang ditunjukkan oleh Danis dihadapannya. Dan merasa kalau itulah pertanda agar dia harus secepatnya pergi dari sini.
“sepertinya aku salah. Kelihatanya kalian bahagia dengan semua ini. kalau begitu..selamat ya Nai. Aku akan selalu mendoakan kebahagiaanmu..” ucap Rayn dengan menjulurkan tangannya ke arah Naina sembari beranjak dari tempat duduknya.
“tentu tuan Alfaresta. Aku sangat menghargai perjalananmu yang jauh kemari, hanya untuk mengucapkan kata selamat ini !” sahut Danis yang membalas jabatan tangan Rayn sembari tersenyum kecil.
Naina gugup menghetahui dia telah berbuat kesalahan atas kejadian ini. dia merasa tak enak hati setelah tahu, Rayn hanya tersenyum kecil dengan melirik ke arahnya dan pergi.
Tanpa memperdulikan Danis, Naina berlari keluar dan mengejar Rayn disana.
Bersambung..