
Naina berlari sekencang mungkin ke arah Rayn sampai dia berhasil mencegahnya dengan mengengam tangannya dari belakang.
sembari nafas yang masih tersengal-sengal, dia berkata untuk mendengarkan penjelasannya sekali lagi mengenai kesalahpahaman tadi.
“Naina...sudahlah ! yang tadi bukanlah kesalahpahaman. Akulah yang bodoh selalu mengkhawatirkanmu. Tenang saja.
lain kali, aku akan lebih menikmati pekerjaanku diparis dan takkan menggangumu lagi.
sampai jumpa..!” ucap Rayn yang kemudian melepaskan tangan Naina dan masuk ke mobilnya.
Naina hanya menarik nafasnya dalam-dalam dan berharap, Rayn takkan sakit hati atas apa yang terjadi.
Naina masih berdiri disana sementara Danis, sepertinya harus kembali lagi kekantor. Raut wajahnya mengambarkan kalau kali ini, dia benar-benar marah atas kelakuan Naina yang keluar tanpa seizinnya.
“apa harus seperti itu pandanganmu pada pria itu..? hmm..?
sampai-sampai kau melanggar perintahku..?”
“Danis ! haruskah kau bersikap seperti itu didepan temanku..?!” ungkap Naina yang membalikan arah ke hadapan Danis.
“apa..? teman..? tak bisakah kau lihat dimatanya ada cinta untukmu..?
bagaimana bisa aku bersikap dengan tenang, sementara ada pria lain yang masih suka padamu..?!”
“Danis ! itu bukanlah sebuah alasan untukmu melakukan semua itu didepannya.
Tidakkah ada cara lain selain menciumku..?!” ucap Naina dengan nada yang tinggi.
Danis semakin marah mendengar penjelasan Naina yang seolah membela pria itu. kecemburuan Danis, benar-benar berada dipuncaknya.
Tetapi, ia justru membiarkan Naina marah dengannya dan langsung menyuruh sopirnya untuk mengantar Naina pulang.
.
.
.
Tatapannya masih saja dipenuhi oleh emosi yang tak bisa dia kendalikan. Naina mengatur nafasnya lagi, sesuai berdebat kecil dengan Danis.
“sepertinya..aku terlalu berlebihan tadi.” Gumam Naina dengan nada bersalah.
--------------
“tuan muda, anda sudah ditunggu didalam.” ucap Henry si asisten Danis yang tengah berdiri didepan kantor.
Dengan tatapan dingin yang masih terdapat sisa-sisa amarahnya, Danis melangkah masuk dan segera masuk untuk menemui ayahnya. Dia masih menerka-nerka apa lagi yang akan direncanakan ayahnya untuknya kali ini.
“aku sudah menemukan seseorang yang cocok sebagai penganti dari posisi wanita itu.
dan tentunya, tak hanya dalam pekerjaan. tapi juga untuk hidupmu !”
“ayah, aku sudah muak mengenai percakapan seperti ini !
hahh…aku sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya” ucap Danis yang segera pergi dari tempatnya.
“kalau kau tahu apa yang terjadi selanjutnya, aku harap kau sudah tak lagi menemui wanita itu.
atau ancamanku..akan benar-benar nyata bagimu !” seru John yang perkataannya menghentikan langkah kaki Danis dan terdiam disana.
Danis tak memperdulikannya dan berlalu pergi begitu saja. Tetapi, setelah apa yang terjadi Ancaman ayahnya tak bisa dibuat remeh lagi.
“sial ! benar-benar memuakkan !” gumam Danis sembari memegangi kepalanya dan mengernyitkan dahinya.
Setelah membuka pintu kantornya, dia dibuat kaget lagi oleh wanita berambut hitam panjang. Yang mana, dari belakang sekilas nampak mirip dengan Naina.
wanita itu masih saja duduk tenang didepan mejanya meski Danis menutup pintu kantornya dengan keras. Hampir saja dia tak bisa mengendalikan perkataannya saat tau, wanita itu adalah orang lain.
“ehm..iya tuan. Itu aku.” Balas wanita itu dengan lembut.
“siapa namamu..?”
“nam..namaku Luna"
“baiklah, kau boleh bekerja disini mulai besok.”
Wanita itu dengan malunya menganggukan kepalanya sambil menghindari pandangan mata Danis. Dan Danis masih saja dengan sikap dinginnya, Tak memperdulikan ekspresi dari wanita itu sama sekali.
Selepas itu, pergilah dia keluar ruangan dan Danis duduk di mejanya dengan mengelah nafas yang panjang sembari memijat dahinya dengan jari telunjuknya. Selamanya, ayahnya hanya akan menyebabkan masalah yang banyak untuknya.
.
.
.
.
Sore hari datang menjemput dengan cahaya senja yang keemasan di ufuk barat. Danis hampir bersiap untuk pergi dan membereskan barangnya. Akan tetapi, hal itu dicegah dengan kedatangan Henry yang menyarankannya untuk mengikuti acar penyambutan manajer baru itu.
“hufft..tak bisakah kalian bersenang-senang tanpa aku..? aku tak ada waktu banyak untuk melakukan hal itu lagi.”
“tuan, bukankah anda sebagai pimpinan harus menunjukkan sikap baik anda pada karyawan baru..? ini hanya sebagai loyalitas pada perusahaan saja tuan..”
Danis tak bisa menolak dan menghindar lagi dari saran asistennya ini. daripada terus mendengarnya mengoceh, lebih baik menyetujuinya dan langsung pergi pulang.
Kemudian, pergilah Danis menuju acara itu disebuah tempat minum. Disana, sudah sangat ramai oleh para karyawan proyek dan juga wanita itu.
“tuan Ceo, selamat datang ! akhirnya anda mau datang kemari. Mari, silahkan duduk !” ucap salah satu pegawai yang telah menyediakan tempat duduk untuknya.
.
.
.
Malam semakin larut dan Semuanya benar benar bergembira dan bersemangat dengan pesta yang ada. Tetapi tidak dengan Danis.
Sedari tadi, ia nampak diam bahkan tak melirik ke arah manapun.
Tanpa dia sadari, Luna menyuguhkannya segelas wine dan memberikan gelas itu padanya.
“tuan, bukankah seharusnya anda minum meski hanya sedikit saja..?”
Danis melirik ke arah Luna dan mengabaikan gelas yang dia suguhkan. Dia lebih memilih gelas yang ada di atas meja dan meneguknya dengan sekali teguk tanpa mengubris ucapan Luna sama sekali.
-----
“astaga ! apa dia benar-benar marah padaku..? ini sudah jam 1 malam dan dia tak pulang juga !
apa, aku telpon saja dan minta maaf padanya ya..?” gumam Naina yang tengah kebingungan.
Sedari tadi Naina tak bisa tidur dan hanya berjalan mondar mandir kesana-kemari.
Setelah berfikir sejenak, akhirnya dia memutuskan meraih ponselnya dan menelpon Danis.
Namun, sebelum memencet nomernya, Danis sudah terlebih dahulu menelponya dan tentu saja membuatnya kaget bukan main.
“ap..apa..? semalam ini..? kenapa..?”
Naina heran dengan perkataan Danis dan suara nafas Danis yang begitu berat. Dia sendiri tak tahu bagaimana keadaannya dan malah menyuruhnya pergi kesebuah hotel didekat sebuh bar terkenal.
Bersambung..