
Malam hari benar-benar waktu yang terbaik untuk menikmati mie kuah pedas dengan telur setengah matang.
Setelah seharian bekerja, Naina merasa sangat lelah dan lapar. Dia memutuskan untuk makan sendirian dirumah. Terlihat kuah mie yang sangat merah lengkap dengan nasi hangat sebagai pelengkapnya.
“huft..kenapa aku merasa perlakuan kak Rayn sangat berbeda..? apa jangan-jangan..?” pikir Naina sambil mengaduk mienya.
.
.
.
ia kembali mengingat-ingat kejadian itu.
Saat selesai rapat, Naina yang sedang menata berkas-berkas di meja dikagetkan dengan Rayn yang mendekatkan wajahnya dan berbicara padanya.
“Naina, kamu sangat hebat tadi ! aku suka.” Ucap Rayn sambil meyentuh kepala Naina.
“Naina ! segera datang ke kantorku.” Teriak Danis yang melihat mereka berdua di ruang rapat.
Tatapan yang lembut dari mata Rayn masih saja terbayang dibenak Naina. meski ketika ia dipanggil oleh bosnya, Naina sejenak melamun dan tak paham lagi dengan apa yang ia rasakan.
Justru suasana hatinya semakin kacau dan kesal karena Danis memberikan setumpuk berkas yang harus dia ketik lagi. Naina sangat terheran dengan tempramen Danis yang bisa berubah sangat cepat. Hampir saja jari-jarinya mati kaku karena banyaknya berkas yang ia salin.
“hhuh..!! jari-jariku hampir saja bengkak dibuatnya !” gumam Naina yang memegang sumpit sambil menyeruput mie nya.
Seusai makan, ia kembali ke kasur nyamannya dan merebahkan diri sambil memainkan ponselnya.
Ia mencoba mengetik beberapa pesan untuk Navya pada malam itu. dan tetap saja tak ada balasan. Besok dia sudah berencana menemuinya di desa. Dan beruntungnya besok adalah hari minggu.
Matanya tepejam dengan cepat dan dirinya sudah tak sabar untuk menunggu esok hari.
-----------
Naina yang dipenuhi wajah ceria dipagi ini, sedang mempersiapkan keperluannya untuk pergi ke rumah Navya didesa.
Dengan rambut yang dikepang panjang dan baju warna peach yang sangat serasi dengan celana selutut yang dipakainya. Ia pun berangkat ke halte bis terdekat dan menuju perjalanan jauh dari kota.
Setelah menempuh 2 jam perjalanan, akhirnya ia tiba di pedesaan yang kecil nan asri itu. kanan-kiri jalan penuh dengan perkebunan dan rumah-rumah penduduk yang ramah dan selalu menyapanya disetiap perjalananya. Didepan rumah biru kecil dengan halaman yang sangat luas, Naina mengetuk pintunya.
“oh..masuklah.” ujar Navya yang membukakan pintu.
Naina yang melihat wajah sahabatnya itu langsung tersenyum begitu Navya mempersilahkannya masuk ke dalam rumahnya.
“Nav, bagaimana keadaanmu sekarang..?” tanya Naina yang tengah duduk bersila didepan Navya.
Navya tak berbicara apapun, ia dari tadi menampakkan wajah yang sangat murung dan tak memandang ke arah Naina sekalipun.
Naina dengan tatapan yang cemas, menepuk pundak temannya dan spontan Navya memeluknya sambil menangis di pelukan Naina.
“hikks..hikks…hiks…Nai, keadaanku sangatlah buruk..” ujar Navya sembari menangis.
Naina sudah menduga keadaan ini. ia sangat sedih dengan tangisan yang dikeluarkan Navya saat itu dan menahan semua kata-katanya.
Yang bisa ia lakukan hanya menenanggkannya sembari menepuk dan mengelus-elus pundaknya sampai Navya bisa tenang.
“jadi, selama ini orang tuamu sakit. oleh karena itu kau bekerja sampai malam..?” tanya Naina yang benar-benar tak menyangka akan seperti ini jadinya.
Navya hanya menjawabnya dengan anggukan kecil sembari mengusap air matanya.
Naina sedikit kesal dan sedih dengan sikap sahabat yang telah lama menemaninya itu. dia sama sekali tak bercerita bahkan memberitahu yang sebenarnya kalau dia dalam kesulitan.
“Nav..? lalu kau menganggapku ini apa..?
kenapa dari awal tak pernah bercerita tentang semua masalahmu..?
bahkan ketika paman dan bibi meninggal, apa kau tak mau berbagi sedihmu denganku..?” ujar Naina dengan menatap wajah Navya yang masih tertunduk sedih.
“tidak Nai. Kau pasti sudah kesulitan karena hidup dikota.
Aku tak mau merepotkanmu lagi.” Ungkapnya.
“Nav. Kau ini adalah orang satu-satunya yang bisa aku andalkan.
Bagaimana bisa kau bersikap seolah-olah tak mau bergantung padaku. Padahal aku sangat sering bergantung padamu..!” ucap Naina sembari memegang kedua tangan sahabatnya itu.
“maafkan aku Nai. Lain kali aku akan memberitahumu.
Tapi sepertinya aku terlambat. Karena kini, orang tuaku sudah tak ada. Hikks..hikkss..” ungkap Navya.
“sudahlah..! kini kau punya aku. Jangan lah bersedih okey..?” ucap Naina yang menenangkan Navya menangis.
Hari sudah sore dan keadaan memaksa Naina untuk menginap di rumah Navya yang masih dalam keadaan berduka. Pekan ini, akan jadi hari-hari bersama sahabatnya saja.
Bersambung..