Story Under The Rain

Story Under The Rain
Badai dimusim panas



Naina kembali ke kantornya dan air mata itu tak bisa berhenti keluar dari matanya. Hatinya terasa sakit begitu melihat mereka bermesraan didalam.


Dan yang paling menyakitkan baginya adalah Danis yang sampai saat ini tak menjelaskan apapun mengenai apa yang ia lihat. Sekalipun dia tak mengejarnya atau menghubunginya. Dimulai ragu akan rasa cinta Danis yang selalu diberikan kepadanya.


“Danis..sebenarnya kaulah yang mempermainkan perasaanku..” tangis Naina didalam kamar mandi.


Siang hari datang dan mentari terasa sangat panas hari ini. bahkan sedikitpun angin tak menyegarkan suasana dimusim panas ini.


Naina kembali beraktifitas meski hatinya sedang dalam keadaan kacau. Tanpa sadar, jarinya memegang anting ditelinganya. Dan ia teringat akan mengembalikan anting itu pada Rayn. Segera Naina melepasnya dan menaruhnya dalam kotak lain.


“kak Rayn, bisakah kita bertemu sore ini..?” tanya Naina yang tengah menelpon Rayn.


“ya tentu.”


-----------


“Hai Naina ! pulang bareng kami yuk !” ucap Alisa yang bertemu Naina dikoridor.


“tidak. Aku ada acara setelah ini. aku pergi dulu.” Pamit Naina sembari pergi.


Semua karyawan sudah bersiap akan pulang tetapi Naina masih ada beberapa tugas lagi yang harus diselesaikan. Secepatnya ia berusaha menyelesaikannya dan bertemu dengan Rayn.


Dia ingin menuntaskan semua masalah yang terlibat dengan Rayn. Ia tak ingin Rayn menjadi korban dengan ketidakjelasan sikap Danis yang selalu ditunjukkannya didepan Rayn. Dan hal itu, membuatnya teringat akan kuas lukis itu.


beberapa saat kemudian, Naina keluar dari ruangannya dan melihat Danis masih bermesraan dengna wanita itu didepan matanya.


“sayang, malam ini kau mau makan apa..? ucap Selena pada Danis sembari memeluknya.


Danis tahu kalau Naina memperhatikan mereka. Namun, dia hanya meliriknya dan Naina pun pergi seolah-olah memang bukan urusannya. Langit disore hari sangatlah cerah pada permulaan musim panas.


Suasananya membuat Naina tak sadar seberapa lamanya dia berjalan kaki untuk sampai ke tempat, dimana ia akan bertemu Rayn. Dan langkah kakinya terhenti ketika Rayn sudah dari tadi menunggunya didepan sebuah kafe.


“maaf sudah membuatmu menunggu..” ucap Naina kepada Rayn.


“tak apa. Aku juga barusan datang. Yuk masuk” ucap Rayn sembari tersenyum.


Mereka berdua masuk dan memesan beberapa minuman dingin untuk menyegarkan mereka disore yang terasa hangat ini. sesaat kemudian, tanpa berbasa-basi lagi Naina memberikan anting dan kuas itu kepada Rayn. Rayn hanya terdiam dan ekspresinya berubah seketika menjadi murung dan tatapan yang lembut itu seakan berbicara kepada Hati Naina.


“untuk apa kau mengembalikannya..? itu semua adalah milikmu sekarang.” Ucap Rayn dengan menatap Naina.


“kak Rayn aku sebenarnya tak ingin mengembalikannya padamu dan sudah menganggapnya sebagai milikku sendiri.


Tetapi, masih ada kenangan yang tak boleh bersamaku lagi.” ucap Naina.


Yaitu, kenangan disaat mereka masih merasakan cinta sepasang remaja. Dimana dia hampir lupa rasanya menangis, dimana betapa bahagianya dia ketika mereka kehujanan bersama. Dan betapa bahagianya ketika keduanya berkata cinta mereka selamanya.


Tapi, semua berubah karena cinta yang manis itu akan cepat membuat para pengagumnya bosan dan merasa kekanak-kanakan. Apalagi dengan usia mereka saat itu yang masih labil.


Naina mengembalikannya dengan tujuan untuk memastikan kalau perasaannya untuk Rayn sudah lama hilang. dan yang tersisa darinya hanya barang yang penuh kenangan dan sama sekali tak ada perasaan apapun untuk Rayn saat ini.


selama ini dia tertipu dengan semua kenangan itu yang membuatnya tersenyum-senyum sendiri jika mengingatnya. Tetapi disaat dia bertemu Danis, dia sadar kalau Rayn hanya sekedar teman lama baginya.


“aku mengerti.” Ucap Rayn yang mengambil kembali barang-barang pemberiannya.


Tetapi, tiba-tiba saja Rayn mengejarnya dan memeluknya dari belakang sembari berkata padanya.


“izinkan aku memelukmu untuk terakhir kalinya.” Ucap Rayn sembari memeluk erat Naina.


Naina hanya terdiam dan membiarkan Rayn memeluknya. Ia bisa mendengar betapa cepatnya jantung Rayn berdetak dan suara nafasnya yang begitu sesak. Kemudian Rayn melepaskan pelukannya dan membiarkan Naina pergi.


“Naina ! bisakah kita masih berteman..?” teriak Rayn pada Naina.


“ya..! Tentu.” Ucap Nain yang kemudian menoleh sembari tersenyum pada Rayn.


Rayn yang melihat wajah Naina, kembali tersenyum lagi. Dan langit sore itu, nampak seperti membawa Naina beserta kenangan bersamanya.


“halo..? siapa ini..?” ucap Naina yang menerima telepon.


tiba-tiba saja dia mendapat Telepon yang tak jelas dari siapa dan tak bernama. Tetapi, ketika orang itu berbicara dengannya dia mengatakan kalau temannya sedang dalam bahaya.


Naina langsung berlari menuju rumah. Dia berlari secepat mungkin dan tak peduli tentang apapun dijalanan yang menghalanginya dan sesampainya dirumah, ia membuka pintu dengan nafas yang tersengal-sengal.


“Navya..?!! Navya kau dimana..? hahh! Aku harus mencarinya.” Seru Naina.


Dia mencoba menghubunginya tetapi ponselnya tidak aktif. Naina sangat khawatir dan gelisah jika terjadi apa-apa pada sahabatnya itu.


dan tak lama kemudian orang tadi menelponnya lagi dan mengirim pesan jika Navya berada disebuah bar mewah dikota. Naina langsung keluar dan mencegat taksi pergi kesana.


“kenapa Navya ada ditempat seperti ini..? jangan-jangan dia diculik..?!” ucap Naina setibanya sampai disana.


Begitu masuk, bau minuman dan rokok serta parfum yang begitu menyengat mulai menganggunya. Dengan sangat bingung, ia mencoba mencari ke beberapa tempat.


Dan saat diujung ruangan, ia mendengar suara wanita sedang berkelahi. Naina pun melihatnya dan mendekat.


“dasar ****** ! kau kan yang merayu suamiku dan memaksa nya kesini..?!!” ujar seorang wanita paruh baya yang mendorong wanita didepannya.


“tidak, bukan aku nyonya.”


“Navya..? apa itu dia..?” gumam Naina yang sedang melihat dari jauh.


Navya terjatuh ke lantai usai wanita itu mendorongnya. Naina hampir tak mengenali kalau itu adalah Navya sahabatnya yang selalu berdandan ala kadarnya. Ia berusaha menolong Navya tetapi, ada seorang pria yang sudah mendekatinya.


“nyona, anda jangan macam-macam dengan wanita ini. atau kau akan kutuntut atas tindakanmu itu.” ujar Pria itu sembari menghalangi nyonya itu menampar.


“hahh..?! menuntut..? memangnya kau siapa bisa menuntutku..?”


“istriku, sudah jangan marah-marah. Aku yang salah telah mengoda gadis ini.” ucap salah seorang pria lain yang berbadan tambun.


“tuan ceo, maafkanlah istriku ini. aku mohon maafkanlah dia tuan Danis..” ujar pria itu sembari berlutut.


“Danis..?! kali ini apalagi..?” gumam Naina yang terkejut begitu tahu kalau pria yang menolong Navya adalah Danis.


Bersambung…