
Gang itu gelap dan sepi. Bulan bersinar dengan cemerlang membuat cahaya remang-remang bersinar diwajah Jin dan Agni. Mereka bisa melihat satu sama lain.
Jin sedikit tidak nyaman melihat mata Agni ketika memandangnya. Dia tidak bisa berdiam diri saat melihat pandangan itu semakin salah.
Jin tidak akan mengakui bahwa dia terlalu malu dilihat dalam kondisinya yang begitu lemah mengenaskan. Bahkan dengan rona merah di telinga yang tidak Jin sadari.
“Siapa kau?”
“Aku…”
Agni berhenti bicara dan mengerutkan kening. Dia belum memilah pengetahuan tubuh ini. Atau pengetahuan itu tidak ada Agni juga tidak peduli. Dia hanya memperdulikan tengang Jin sejak awal.
Agni sedikit memejamkan mata dan memilah informasi. Matanya tiba-tiba terbuka lebar dengan ngeri.
Tubuh ini, tubuh yang dia tempati sebenarnya akan mati 2 tahun kemudian. Tepat ketika kelulusan. Alasan kematiannya.……
Tidak diketahui.
Agni: “….” (ノ`Д´)ノ彡┻━┻
Yang benar saja!!
‘Foxy!!!!’
[Ya, nyonya?]
‘Ya, kepalamu! Bagaimana dengan tubuhku saat ini!’
[Ya, nyonya. Menurut peraturan. Ada memiliki masa hidup sama dengan jiwa sebelumnya.
Tubuh yang anda tempati memiliki umur 2 tahun. Sampai tubuh tersebut menerima kematian anda tidak bisa meninggalkan dunia.
Kemudian tidak bisa mengubah takdir kematian tubuh asli. Misi penyelamatan akan berlangsung selama umur tubuh.
Selain itu, nyonya... Ketika anda tidak menyelesaikan dunia dalam waktu yang diberikan. Tugas akan secara otomatis gagal]
Agni menghela nafas. Meskipun bukan itu fokus pertanyaannya. Agni masih bersyukur sistem.memberinya penjelasan penting. Setidaknya, sistem terbelakang mental masih memiliki sedikit keuntungan.
‘Bagaimana dengan tubuh ini kemudian. Apa kematian tidak diketahui itu.’
[Ah, maafkan saya nyonya. Saya akan mengirim semua kenangan tubuh tersebut kepada anda. Maafkan saya, maafkan saya.…]
Semua? Artinya dia tidak mengirim semua tadi?
WTF!!!
Agni memilih mengabaikan Foxy dan mulai menerima ingatan tubuh.
Tubuh ini bernama Shiroyama Aguni. Orang tuanya meninggal ketika dia berumur 10 tahun. Dia hidup bersama dengan kakeknya yang menjalankan Dojo Taekwondo sejak saat itu.
Agni bukanlah keturunan Jepang asli. Dia memiliki darah orang Indonesia di tubuhnya dari ayahnya. Entah bagaimana Ayah dan Ibunya bertemu, Agni kemudian lahir. Kehidupannya baik-baik saja. Ayahnya yang dari Indonesia tidak pernah memaksa Agni atau ibunya untuk terbang dan hidup menetap di Indonesia. Jika ada kunjungan, mungkin ketika tahun baru Imlek atau ketika libur musim panas.
Mungkin semenjak kedua orangtuanya meninggal. Agni tidak pernah menginjakkan kakinya ke Indonesia.
Tapi hidup tetaplah hidup. Ada kenaikan dan penurunan di setiap jalannya. Hidup Agni tidak selalu baik. Sebelum dia masuk SMA ke sekolah Kuroyama 1 tahun yang lalu, kakeknya meninggal. Kakeknya menderita sebuah penyakit kronis dan tidak bisa disembuhkan.
Setelah kematian, Agni menjalani kehidupan dengan suram dan susah yang tidak pernah dia bayangkan.
Agni adalah orang yang sangat mendambakan cinta sejak masih kecil. Dia tergila-gila dengan kasih sayang dan perhatian orang lain. Seni beladiri yang dia peroleh berasal dari beberapa sumber. Dia belajar Taekwondo dari kakeknya. Karate adalah apa yang dia peroleh setelah mengikuti klub Karate dari SD sampai SMA. Alasan mengapa dia memilih karate daripada taekwondo di sekolah dulu karena wajah-wajah senior di klub Karate lebih baik dari klub Taekwondo.
Agni cuma ingin memaki satu hal.
Gadis busuk!!
Anehnya, setelah Agni ditinggalkan kakeknya. Hidupnya tidak terlantar dan buruk. Namun sifatnya membuat teman-teman kakeknya tanpa sadar menjauh dan tidak peduli padanya. Agni masih mendambakan cinta. Dia menggunakan koneksi kakeknya untuk bisa mendaftar di Sekolah Kuroyama. Dia masuk ke sekolah untuk mengikuti seniornya dari klub karate. Namun karena kanji namanya, dia masuk ke gedung malam.
Shiroyama Aguni.
Aguni sendiri tidak memiliki masalah. Masalahnya terletak pada kata Shiroyama. Agni hanya selalu berfikir bahwa nasibnya buruk saat itu.
Siapa yang membuat kakeknya begitu terkenal di dunia bawah!
Sekolah Kuroyama memiliki 2 gedung pembelajaran. Gedung siang dan gedung malam. Siswa yang sering dilihat orang adalah mereka yang berasal dari gedung siang. Gedung siang berada setelah gerbang. Berhadapan langsung dengan pintu masuk sekolah. Sementara gedung malam, jauh dibelakang dekat dengan bukit. Tepat dengan pintu belakang sekolah.
Dan di sana Agni mengalami hidup yang lebih buruk.
Setelah berada di gedung malam, sifat Agni menjadi lemah. Meskipun dia bisa melihat orang dengan wajah tampan, dia tidak bisa mengimbangi para berandalan disana. Dia menutup kuat kekuatannya karena tidak ingin mendapatkan banyak masalah. Agni berubah menjadi gadis penakut dan pemalu. Hal itu membuatnya sering di-bully. Menyembunyikan kekuatannya, Agni menerima semua bullying di sekolah.
Bagaimana selanjutnya?
Aguni tidak pernah lagi mendambakan cinta. Dia hanya menunggu kelulusan. Dia ingin menghindari semua tidak pembullyan. Dia bertahan dan tidak bunuh diri karena kakeknya tidak akan memaafkan dia di akhirat. Dia menahan kelelahan dengan rutinitas kekerasan.
Kemudian, setelah kelulusan. Ada pesta di sekolah. Pesta kelulusan dilakukan di lapangan dengan banyak siswa dari berbagai gedung. Agni mati karena meminum sebuah anggur. Tentu saja anggur itu bukan anggur biasa.
Tidak tau apa yang ada dalam anggur tersebut. Namun tubuh Agni mati setelah beberapa saat meminumnya. Agni saat ini bisa mengambil tubuh Agni untuk tugas karena Agni tidak memiliki penyesalan selama hidupnya. Setelah kematian, dia mati dengan tenang. Bahkan jika itu adalah pembunuhan yang direncanakan. Agni tidak mengambil dendam.
Setelah menerima semua ingatan dalam beberapa menit. Agni sedikit kesulitan menjawab pertanyaan Jin. Dia tidak ingin menggunakan nama Shiroyama. Dia juga tidak ingin memberitahu nama panggilannya, Agni. Dia sedikit tergagap dan memutuskan.
Sedikit minat juga terangkat di hati Agni. Dengan sedikit senyum main-main dimatanya. Dia mulai bicara dengan gugup.
“…. Um, yah. Nama saya Aaa…. Shiro…. Um, Shiro. Kamu…. Kuma, ah, Kuma-san, kamu bisa memanggilku seperti itu. Sekarang, Apa kamu baik-baik saja?”
“Siapa yang kamu panggil Kuma!!”
“…. Err, kurasa, tidak ada orang lain yang bisa ku panggil Kuma-san disini. Lupakan itu, kamu sangat bersemangat saat bicara. Aku anggap kamu baik-baik saja.”
Jin menggiling gigi gerahamnya bersama hingga berbunyi. Dia benar-benar merasa kesal dengan gadis didepannya. Jin yang sudah kelelahan mulai memaki gadis tersebut.
“Kamu benar-benar.... Ugh.…”
Agni, yang baru saja ingin meninggalkan Jin: “…..”
Ada apa dengan kata-kata penuh semangat tadi!! Kau tidak baik-baik saja, kan!!!!
Agni tidak bicara dan berkedip. Ada sedikit perasaan lucu di hatinya. Dia kemudian melangkah mendekati Jin.
“A-apa yang kamu lakukan. Menjauhlah!”
Agni tetap diam dan melangkah mendapat tatapan tajam dari Jin. Hingga akhirnya dia berhenti tepat didepan Jin.
“Aku tidak kuat menggendongmu. Mari ku bantu berjalan.”
Seketika Jin menjadi batu. Tubuhnya merasakan sentuhan dari tangan ramping. Sebuah aroma asing seperti bunga juga melayang ke indra penciumannya. Sentuhan itu berlama-lama dan membuat bagian yang disentuh panas. Bahkan jika itu diluar bajunya. Jin masih bisa merasakan darahnya mendidih. Dia merasa membutuhkan air dingin saat ini juga.
Tolong maklumi dia. Mau bagaimanapun pengalaman hidup Jin hanyalah manusia biasa. Tidak, lebih tepatnya dia masih merupakan remaja biasa. ¯_(ツ)_/¯
Agni dengan paksa menarik Jin berjalan dengan arah berlawanan dari orang-orang Takano. Agni memiliki ukuran sendiri. Bahkan jika mereka Yakuza, mereka masih memerlukan tenaga medis untuk sembuh. Di arah mereka berkelahi, 500 meter dari arah yang dia tinggalkan adalah sebuah klinik. Sementara di arahnya saat ini, pintu belakang sebuah rumah sakit hanya berjarak 100 meter. ( ͡° ͜ʖ ͡°)
“Kemana…..”
Jin hanya nyawanya menjadi tipis. Dia mati-matian mencoba menjaga tubuhnya agar tetap terkendali. Kemudian sebenarnya dia terlihat sangat lemah didepan seorang wanita. Dan masih wanita yang membuatnya malu sampai mati.
Oh Tuhan. Jin tiba-tiba merasa lelah.
“Tentu saja mengobatimu. Kamu kira aku akan meninggalkan mu begitu saja dalam keadaan seperti itu? Aku bukan orang yang tidak bertanggung jawab.”