Quick Transmigration System: Male God, Please Don'T Kneel Down!

Quick Transmigration System: Male God, Please Don'T Kneel Down!
The Boss (16)



Agni membuka matanya disebuah kamar dengan dekorasi mewah. Agni sudah berganti pakaian dan lukanya sudah diobati. Melihat kondisinya, Agni menghela nafas bersyukur.


Itu hanya sesaat sebelum Agni memiliki perasaan aneh, dia merasa tempatnya saat ini sangat familiar. Sesuatu muncul dikepalanya. Ruangan yang Agni tempati sangat mirip dengan kamar kakeknya di rumah. Tapi dua ruangan ini jelas berbeda. Dengan tergesa-gesa Agni duduk. Agni memutuskan untuk segera pergi dari tempat yang tidak dia ketahui ini. Tindakannya ini secara tidak sadar membuat beberapa luka yang sudah diobati tertarik. Beberapa balutan perban putih perlahan-lahan menunjukkan warna merah. Agni tidak bisa menahan bergumam kesakitan. Dia menggigit bibir bawahnya sehingga suara tidak begitu keluar.


Rasa sakit menarik ingatan Agni. Kejadian terakhir sebelum dia pingsan. Seseorang ada disekitarnya dan membawanya pergi. Meski Agni sangat waspada, dia tidak berdaya saat itu.


Apakah dia diculik? Perlakuan ini aneh jika dia mengalami penculikan.


Agni memanggil sistem. Dia berpikir sistem akan mengetahui apa yang terjadi setelah dia pingsan. Tapi sistem mati seperti terakhir kali. Sistem tidak memberi tanggapan Agni.


Kemudian terdengar suara pintu dibuka. Agni menjadi waspada dan melihat ke asal suara. Seorang wanita dengan pakaian tradisional Jepang, kimono, masuk. Dia sangat cantik, dandanan di wajahnya memberi perasaan orang damai dan tenang. Suaranya bahkan sangat merdu. Agni menjadi linglung sejenak.


“Kamu bangun. Aku akan memberitahu Kuma-san dulu.”


Kuma-san?!


Agni merasa kepalanya berdenyut saat itu. Dia memiliki tebakan yang tidak ingin itu benar. Tapi ketika seseorang datang lagi ke kamarnya. Agni benar-benar mengutuk.


Bajingan!!


“Cucu Kuroyama benar-benar mengagumkan. Bahkan bertahan diantara 50 orang.”


Agni mengerutkan keningnya. Dia tidak suka cara bicara orang di depannya. Dia bahkan lebih tidak suka seseorang mengkritik tindakannya. Seolah-olah mereka tau tentangnya. Kuma tidak peduli. Dia mendekat dan duduk di salah satu kursi ruangan.


Agni berpikir lagi. Dia tidak dirumahnya. Dia ada di kediaman bos Yakuza, Shirokuma Yatori. Orang yang lebih terkenal dengan sebutan Kuma-san, Ayah Jin.


Kuma juga melihat bagaimana Agni berperilaku dan geli. Seorang gadis yang duduk dengan mata tajam, penuh kewaspadaan. Kuma tidak keberatan.


Yah, mau bagaimana lagi. Agni adalah seorang gadis, sikap seperti itu lebih tepat untuknya disaat seperti ini.


“Nak, aku melihatmu bicara dengan Gin.”


“Aku juga melihatmu dikeroyok anak-anak dari Morizawa.”


“Jangan salahkan aku karena tidak membantu. Wajahmu terlihat seperti ini. Kau terlihat sangat senang bermain dengan mereka.”


Kuma memberi Agni ekspresi tersenyum dengan sudut bibirnya ditarik dengan tangan menjadi senyum lebar. Wajah Agni berubah menjadi hitam. Setelah hanya mendengarkan kata-kata Kuma. Dia sampai ke sebuah kesimpulan. Laki-laki tua ini adalah orang yang suka melihat kesengsaraan orang lain. Seorang bang**t lengkap.


Bajingan!!


Dia tau bahwa Agni melawan 50 orang tapi tidak melakukan apapun. Dia tau kondisi Agni terluka parah tapi membiarkannya pergi dengan tertatih-tatih. Mengawasinya dari jauh.


Setelah kekesalan singkat. Agni kembali bersyukur. Jika itu orang lain. Mereka akan memanggil ambulans dan memaksanya ke rumah sakit. Dimana itu tidak menyenangkan baginya.


Agni kembali melihat Kuma. Kuma tidak gemuk atau kurus. Tubuhnya langsing dengan tinggi 180cm. Kuma memiliki tato berbentuk beruang dilehernya bagian kanan depan. Ada bekas luka sekitar 3cm di rahangnya. Tato dan bekas luka membuat Kuma terlihat garang dan liar. Agni tidak bisa berhenti berpikir jika Kuma adalah Jin dalam bentuk dewasa. Keindahan yang sadis.


“… Nak, Apa yang kau lihat?”


“Tidak ada, aku tidak butuh bantuan mu.”


“Hahahaha, tentu saja, tentu saja aku tau. Kapan aku membantumu?


Aku kebetulan melihat seorang gadis terkapar dijalanan. Aku tidak sejahat itu untuk membiarkan gadis yang penuh luka terbaring begitu saja.


Tapi nak, aku tidak yakin kenapa kau berhenti saat itu. Apakah ketika melihat Jin dengan gadis itu? Apa itu cemburu? Ah~ apa hubunganmu dengan anak ku?”


Pria tua sialan. Agni benar-benar ingin membuka kepala Yakuza didepannya. Dia ingin tau bagaimana Yakuza ini bisa penuh dengan pikiran cinta!


Jika ini situasi lain, Agni mungkin menyangkalnya dan membuat alasan mengenai bermain perasaan. Agni menghela nafas bosan. Faktanya dia tidak mengalami semua yang dikatakan Kuma. Agni hanya ingin menyelidiki dan melihat apa yang sedang dibicarakan oleh Jin dan Mirai dari jauh. Tapi kondisinya benar-benar tidak berdaya.


“Bukan. Kami tidak memiliki hubungan selain penyelamat dan yang diselamatkan.”


Agni tidak lega. Wajahnya bertambah gelap dan suram. Bagaimana pria ini bisa benar-benar memikirkan hal itu. Pria sialan, pak tua tidak tau diri.


“Yah, apa kamu punya pertanyaan. Aku yakin kamu mau tau.”


“Aku ingin bertemu paman Gin.”


“Tentu.”


Begitu mudah?


Agni kemudian melihat Kuma memanggil seseorang lewat smartphonenya. Dia juga menyalakan loudspeaker.


“Gin, ini aku. Gadismu ada ditanganku. Aku ingin melihatmu segera disini. Kalau tidak, jangan salahkan aku ketika dia mengalami satu atau dua hal.”


“Bajingan sialan. Apa yang kau lakukan! Jangan gegabah. Aku akan segera datang. Jangan pernah menyentuh tanganmu padanya.”


Kemudian panggilan tertutup. Agni bisa melihat Kuma berbalik melihatnya. Dia memiliki senyum main-main diwajahnya. Bicara sambil mengangkat bahu.


Agni merasa rumit dan tidak bisa dijelaskan. Bisa Yakuza ini adalah orang licik yang suka bermain-main.


“Begitulah.”


Agni hanya diam dan melihat ke atas. Oh, pria ini memang bajingan lengkap. Sialan!!


Dia memberi Agni minuman ketika menunggu Gin. Tidak lama, Gin datang dengan seseorang. Seorang wanita cantik dan kuat.


Bibi Rena, istri Gin dan juga pensiunan Korps Tentara Pasukan Khusus Wanita. Ketika pintu terbuka, Rena berteriak dengan keras.


“Kuma, bajingan! Apa yang terjadi dengan Agu-chan!!”


Kuma tidak menyangka Gin akan membawa Rena. Kuma berdiri dan menjauh. Kuma bermaksud membuat beberapa jarak.


“Hei, hei, tenang. Aku hanya menyelamatkannya.”


Gin mendengus dengan dingin. Dia melihat Kuma dengan mata sempit penuh sarkasme.


“Kentut. Percaya padamu seperti mempercayai setan!!” (ini maksudnya Gin tidak percaya pada Kuma)


“Terserahlah.”


Agni hanya diam. Mereka memang bertengkar. Tapi mereka tidak tidak seperti bermusuhan. Sepertinya mereka tidak memiliki hubungan yang buruk.


“Agu-chan. Apa kamu baik-baik saja?”


“Ya, bibi Rena.”


“Syukurlah.”


Mereka duduk bersama dan bicara. Kuma menjelaskan semua yang terjadi pada Agni. Dari ketika Agni bertemu dengan Takano dan sampai terluka. Agni tidak bicara apapun dan mendengarkan dalam diam. Kuma tidak buruk.


Setelah semua pembicaraan selesai. Agni mengambil kesempatan dan mencari tau semua hal yang mengganggunya. Melihat ini, Gin, Rena dan Kuma memberi penjelasan. Semua pertanyaan Agni membuat Gin dan Kuma sulit untuk menyembunyikan.


Agni yang terus-menerus bertanya memiliki sorot mata geli. Semakin mereka bicara, semakin Agni merasa semuanya lucu. Ketika sampai pada hal terakhir yang dikatakan bibi Rena. Agni menemukan semua alasannya dan akhirnya tertawa.


Semuanya tidak begitu rumit. Bagaimana dia mati dan bagaimana menyelesaikan masalah Jin untuk hidup menjadi sangat sederhana saat kyni. Dia yakin bisa menyelamatkan targetnya. Dia memiliki keyakinan ini setelah menemukan semua pecahan.


Agni meminta Gin menyerahkan semua warisannya pada Jin pada saat itu juga. Gin tentu saja menolak dengan keras. Kuma dan Rena juga memberi pendapat. Dia hidup hanya dua tahun. Semua kekayaannya akan sia-sia. Akhirnya setelah Agni menggunakan permainan otak dan logika. Gin memberikan ijinnya untuk membuat semua kekayaan Agni menjadi milik Jin.